Selasa, 22 Oktober 2013

#CERMIN Bentang - Summer: The Unseen Gift

The Unseen Gift
By Putri Kurnia Nurmala

“Maria.”

Yang bersangkutan hanya menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang memanggilnya kini sedang sibuk dengan kalung bertuliskan nama itu sempat terlepas dari lehernya.

Pantas saja orang asing itu tahu.

“Nama yang cantik.”

Tentu saja, batinnya angkuh.

"Sesuai dengan rupamu,” lanjut pria itu lagi. Kali ini diiringi lekungan bibir yang tampaknya sedikit sulit untuk dibentuk. Getaran-getaran kecil terlihat pada tangan besar dimana kalungnya kini berada. Rantai kecil perak tampak menjuntai dari tangan itu.

“Kau, pasti hidup enak,” sahut pria itu.

Apakah aku perlu menceritakan betapa besar tempatku tinggal?

“Tempat yang teduh.”

Maria tidak berkedip.

“Tidak perlu khawatir akan panas matahari.”

Ya, aku akui tempatku teduh. Walaupun suhu di atas normal, kamarku adalah salah satu yang ternyaman. Terima kasih kepada pendingin, batinnya.

“Tak perlu khawatir akan air yang mengering.”

Air? Aku benci itu. Walaupun si kecil Margareth itu suka bermain dengannya di dalam sebuah benda plastik besar.

Tak ada lagi kata-kata terlontar dari mulut pria itu. Ia kini tertunduk. Tangannya terjatuh, begitu pun kalung yang sempat dipegangnya. Maria mengibaskan ekor putihnya sambil mengeong singkat, dan menuju istana teduhnya.

Esok paginya, ibunya Margareth dikejutkan dengan penemuan mayat pria dewasa yang terduduk di dekat pagar rumahnya.

Dehidrasi.

A.N: Cerita ini diikutsertakan dalam Kuis Bentang: CERMIN dengan tema Summer/Musim Panas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar