Jumat, 15 November 2013

Review: Rain In Paris by Cindy Pricilla

Rain In Paris
Penulis: Cindy Pricilla (@CindyyPM)
Penerbit: De Teens
ISBN: 978-602-255-261-1
Blurp:

"Dulu, aku menyukai hujan karena ia selalu turun tanpa peduli omongan orang. Kesedihanku tentang Val selalu diiringi hujan, termasuk perpisahan kami tiga tahun lalu, ketika aku hendak pergi ke Paris untuk melanjutkan studi. Tiba-tiba, kulihat Val muncul di dekat Eiffel. Tapi, aku di sini aku bertemu dengan Alex, si playboy. Val pun akan bertunangan. Ini ceritaku. Sekarang, aku benci hujan. (Audrey)"

"Aku menyesal telah memutuskan hubungan dengan Audrey tiga tahun lalu. Aku memutuskan untuk menyusulnya ke Paris. Tapi, sial! Ibuku mengirim Sidney, gadis blasteran yang dijodohkan denganku. Masalah menjadi pelih. Ini ceritaku. Antara mempertahankan cinta dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. (Valian)"
Finally! Akhirnya kebeli juga buku ini. Setelah ketemu penulisnya, yang merupakan teman seperjuangan di Kampus Fiksi 3 yang diadakan Divapress, aku berjanji sama diri sendiri akan beli novelnya kalau udah terbit. Dan ternyata baru kebeli sekarang. /hiks/

Anyway!

Audrey adalah cewek penggila fashion yang mengejar mimpinya untuk belajar fashion design di Paris. Ketika mimpi sudah di tangan, Valian, pacar Audrey, mengambil keputusan sepihak. Kala itu hujan turun deras. Setelah mendengar lima huruf keramat itu dari Valian, Audrey fix benci sama hujan. Karena saat hujan, tidak ada lagi kata 'kita'. Yang ada hanya 'kamu' dan 'aku'.

Memutuskan untuk tetap melanjutkan mimpi, Audrey terbang ke Paris, dan melanjutkan studinya di IFA. Memasukki dunia mimpinya yang menjadi kenyataan. Tiga tahun berlalu. Valian, yang kini berkuliah di UGM Jogja ternyata belum bisa move on dari bayang Audrey. Pikiran-pikirannya yang dipenuhi oleh gadis mungil dengan style nyentrik itu akhirnya membuatnya nekat: Ia ingin menyusul Audrey!

Valian akhirnya tiba di Paris. Namun, cewek blasteran keturunan Aussie itu membuat semuanya kacau. Sidney, anak teman arisan ibu Valian pun ikut menyusulnya. Merusak semuanya.

Novel ini ringan. Ringan banget! Sanggup buat aku guling-gulingan di tempat tidur dan menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah jam untuk menghabiskan isinya. I love the way Cindy describing something: smooth and friendly. Dan latar tempatnya juga dibuat mantap, membuat pembaca tidak 'ngawang-ngawang' saat berimajinasi. And Paris is indeed a popular place, too much beauty to be written.

Novel ini sangat direkomendasikan untuk kalangan remaja. Konfliknya juga tidak terlalu berat, namun tetap membuat penasaran. I'm waiting for your second book, Cindy.

Ah, aku suka filosofi hujannya Audrey, by the way.

"Karena hujan selalu turub tanpa peduli omongan orang. Ketika hujan turun, ada orang yang mencaci makinya karena menganggu harinya, atau membuat cuciannya nggak kering, atau bisa juga karena orang itu takut banjir di daerah rumahnya. Tapi, hujan tetap akan turun karena ia tahu selalu ada orang yang menginginkan kehadirannya. Entah karena bosan dengan musim kemarau berkepanjangan, atau ingin melihat pelangi sesudahnya."

Happy reading. ^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar