Rabu, 13 November 2013

Review: Requiem Musim Gugur by Y. Agusta Akhir

\
Courtesy of BukaBuku.com

Requiem Musim Gugur
oleh: Y. Agusta Akhir
Penerbit: Grasindo
ISBN: 978-602-251-233-2

Sinopsis:

Requiem Musim Gugur, sebuah lagu sendu yang dimainkan Karin dengan jemarinya akan kenangan indah bersama Gilbert. Pada musim gugur di kota Freiburg, cinta bersemi di antara dua musisi muda itu. Di depan sebuah makam komposer besar, Beethoven, pernyataan cinta yang lama telah dinantinya dari seorang Gilbert meninggalkan kesan yang begitu dalam.

Cinta mereka semakin kuat dan mereka memupuk impian untuk sebuah pernikahan. Namun, takdir memisahkan tautan cinta itu sebelum impian itu terwujud. Gilbert meninggal dan kematiannya memberi pukulan telak bagi Karin yang telah mengandung buat cinta mereka.

Sekembalinya ke tanah air, Karin memutuskan untuk mengarungi hidup tanpa nahkoda. Membesarkan Mia, si Bunga Musim Gugur yang tunanetra, seorang diri dan menutup hati untuk cinta yang lain. Namun, takdir membuka kebahagiaan untuk kehidupan Karin dan Mia. Seorang lelaki yang bernama Garin hadir membawa cinta yang baru. Bukan hal yang mudah baginya membuka kembali hati Karin. Untuk merangkai hidup bersama yang penuh harmoni.



Awal lihat buku ini, adalah hasil iseng window shopping ke BukaBuku.com.

Pemilihan judul yang pintar dan blurp di belakang sampul ini sukses memaksaku untuk membelinya di toko buku di kotaku.

Diceritakan seorang wanita bernama Karin, yang sudah lama ditinggal kekasihnya karena kecelakaan. 'Kecelakaan' lain yang sudah terbenam dalam tubuh Karin itu kini lahir, dan tumbuh dalam dunia kegelapan yang bernama tunanetra, tanpa seorang ayah yang sebenarnya tidak pernah ada secara hukum, namun ada secara biologis.

Karin adalah seorang pianis handal yang kini bekerja sebagai instruktur piano di Elegant Melody. Bakat itu pun menurun pada anak perempuannya, Mia, calon pianis handal yang tak perlu membaca partitur untuk memainkan sebuah lagu. Kekurangannya bukan penghalang. Ia bisa maju dengan indra pendengarnya.

Karin terbawa oleh badai kenangan akan Gilbert yang tak kunjung hilang, walaupun sudah satu dekade mereka tak bersama lagi. Sampai-sampai Karin melihat halusinasi Gilbert di bawah pohon dekat jendela, sedang memainkan biola.

Tidak. Itu bukan halusinasi.

Memang ada seseorang di sana.

Karin menganggap itu Gilbert, namun, kenyataan pahit ditelannya bulat-bulat.

Sosok lain kemudian datang, mengiriminya pesan singkat misterius. Dan orang ini, mengenalnya seperti Gilbert mengenalnya.

Siapa, dia?

---

Novel ini beraliran klasik. Well, I really love classic. Aku suka musiknya, suasananya yang digambarkannya, dan alur perlahan namun pasti yang membuat pembaca jadi tidak lelah saat baca buku ini. Diksinya ringan, tapi, eng, how to say this, klasik (?). Tapi sayang, karena dalam novel ini memuat nama-nama simfoni yang harusnya didengarkan, bukan dibayangkan, jadi ada sedikit feel yang tertinggal.

Latar tempat untuk area Jerman digambarkan dengan cukup detil, dan agak sedikit kurang untuk yang di Indonesia. Tokoh-tokoh yang berada di dalam novel ini juga tidak ada yang sia-sia atau hanya muncul satu dua kali. Dan aku suka Vivace!

Novel ini direkomendasikan kepada para pecinta musik klasik dan keindahan Jerman. Dan juga bagi para pecinta yang kini ditinggalkan. Semoga lekas sembuh!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar