Sabtu, 28 Desember 2013

Review: Penjaja Cerita Cinta by @edi_akhiles

Penjaja Cerita Cinta
Penulis: @edi_akhiles
Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1: Desember 2013
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-255-397-7
Blurp:
"Aku hanya bisa memberimu cinta yang berpijar dari hati...," ucapnya suatu sore menjelang senja di sebuah kafe murahan. Kami hanya memesan es teh manis, plus 2 potong pisang goreng. "Kuharap kamu mau mengerti betapa ketulusan hati jauh lebih berharga dari kemilau berlian...."
***
Rumah yang kucari ini lebih tepat disebut kastil. Tak ada rumah lain di sekitarnya. Ya, hanya sendiri berdiri dalam sepi. Debu-debu kering bisa bertebangan demikian berantaknya meski hanya secuil angin yang melenguhinya. Pagarnya berdiri begitu congkak seolah berkata pada dunia, "Ada kehidupan paling rahasia di dalamnya, jangan ganggu ia atau kematian kan menyambarmu segera!"
***
Kadang yang lain, ia menggumam, "Aku percaya waktu hanyalah kesemuan. tak patut bagi kita untuk menjadikan waktu sebagai ukuran kesungguhan...."
Pernah pula Senja bersuara, "Aku sudah lupa bagaimana rasanya lelah menunggu. Tapi aku selalu ingat tentang kamu yang berjanji akan datang kala senja...."
***
Jika ada cerita yang mewartakan rindu yang sangat menyayat hati pemiliknya, pastilah rindu yang dirasakan itu belumlah sepekat rindu yang bersemayam di dalam hati Senja.
***
Kumpulan cerita dalam buku ini sungguh tak biasa. Ada beribu rasa kisah dalam setiap helainya. Ada seabrek pelajaran teknik menulis fiksi pula pada setiap tuturnya. Anda yang penyuka cerita, ambillah buku ini. Anda yang pemimpi untuk menjadi penulis fiksi, belajarlah pada buku ini.
Penulis adalah bagian dari Angkatan Sastra Indonesia 2000, penerima Anugrah Pegiat Sastra di Yogyakarta dan rektor #KampusFiksi.

*ketok mic* Sebelumnya, aku ingin berterima kasih kepada penulis buku #PenjajaCeritaCinta, Pak Bos Edi, sekaligus CEO Diva Press dan Rektor dari tempatku menimba ilmu, #KampusFiksi, yang telah mempercayakan bukunya untuk di-review di blog ini.

Sempet nyangkut di kantor pos, kurang lebih tiga hari dari estimasiku, buku ini akhirnya sampai juga ke rumah sepupu yang kujadikan alamat kirim. Begitu kuterima, senangnya bukan main! Bagai penantian yang terbalaskan *halah*.

Secara fisik, buku ini cukup 'menggoda'. Sampulnya simpel dan tone yang dipilih desainernya cukup menawan. Tapi, jika buku ini disentuh oleh orang yang tidak tahu siapa Pak Bos, mungkin mereka akan men-judge bahwa Pak Edi ini sombong, sekaligus penasaran. Dengan caption 'bonus tips menulis' dan 'ragam teknik bercerita', calon pembaca akan tergoda untuk membuka sampul bagian belakang dan membaca blurp.

Walaupun efek yang diberikan sampul depan cukup dahsyat, tapi aku agak menyayangkan gambar tangan dan pensil yang tidak nampak real. Seperti tempelan. Dan gambar pensilnya agak sedikit mengot.

Lanjut ke dalam buku, aku menemukan pembatas buku yang tidak aku temukan di buku terbitan Diva Press lainnya. Entah karena aku belum update dengan buku terbitan Diva Press yang terbaru atau baru hanya benar-benar menemukan pembatas ini di buku Pak Edi, selaku CEO penerbit, aku merasa lega telah menemukan pembatas buku. Beneran! Karena selama ini aku begitu 'bergantung' pada pembatas buku untuk menandai batas bacaanku, dan cukup tidak tega untuk melipat halaman yang ada di dalamnya, yang terpaksa harus kulakukan di beberapa buku terbitan Diva Press lainnya sebelum aku membaca #PenjajaCeritaCinta ini. Dan aku sangat berharap agar ke depannya, akan terus ada pembatas buku yang terselip, bukan di buku tulisan Pak Bos aja. Tentunya ini akan sangat membantu para penikmat buku yang menghargai tiap buku yang terletak di raknya.

Makin dalam aku telusuri buku ini, aku mendapati bahwa layout buku #PenjajaCeritaCinta ini begitu ramai, tapi tidak membuat sakit mata. Begitu juga dengan font per judul yang menurutku sudah tepat. Aku agak menyayangkan pada pemilihan font secara keseluruhan. Karena cerita-cerita dalam buku ini sangat beragam rasannya, akan lebih baik jika menggunakan font normal pada umumnya, yaitu Times New Roman.
Lanjut ke isi buku.

Terdapat 15 (lima belas) cerita pendek dalam buku #PenjajaCeritaCinta:

  1. Penjaja Cerita Cinta
  2. Love Is Ketek!
  3. Cinta Yang Tak Berkata-Kata
  4. Dijual Murah Surga Seisinya
  5. Menggambar Tubuh Mama
  6. Secangkir Kopi Untuk Tuhan
  7. Tak Tunggu Balimu
  8. Cinta Cantik
  9. Tamparan Tuhan
  10. Abah, I Love You
  11. Cerita Sebuah Kemaluan
  12. Munyuk!
  13. Lengking Hati Seorang Ibu Yang Ditinggal Mati Anaknya
  14. Aku Bukan Batu!!
  15. Si X, Si X And God
Judulnya aneh, kan? Tapi tetep buat penasaran, kan? Inilah salah satu kemampuan Pak Bos yang patut dicontoh oleh semua penulis: eksekusi judul! Kalau kata Pak Bos, judul harus makjleb biar pembaca juga ikutan makjleb!

Cerpen pertama adalah cerpen yang dijadikan inti dari seluruh cerpen yang ada dalam buku ini: Penjaja Cerita Cinta. Tentang seorang penjaja cerita dan pendengarnya, sang penghuni rumah yang layaknya kastil yang haus akan cerita. Bosan dengan cerita umum yang sudah sering didengarkannya, Nyonya Sri, nama sang pemilik rumah itu, menuntut penjaja cerita tersebut untuk menuturkan cerita lain dari yang lain. Maka diceritakanlah oleh si penjaja cerita kisah seorang Senja yang terus merindu, rindu akan pria bermata senja.

Cerpen Penjaja Cerita Cinta memang pantas dijadikan inti dalam buku ini. Selain karena panjangnya memang lebih dari yang lain, terdapat empat sub-bab (kesetiaan, rindu, perpisaha dan kenangan) yang siap merenggut perhatian. Permainan diksi Pak Bos tidak perlu diragukan lagi. Walaupun kata-kata yang dibawakan jarang terdengar, beliau memilih kata-kata yang masih mudah untuk dicerna dalam tiap kalimatnya. Setting-nya digambarkan dengan pas dan detil. Seolah-olah memang pembaca dibawa ke dalam sebuah tempat yang misterius bergaya Eropa. Tapi setting ini agak sedikit error setelah aku menemukan adanya patung Ganesha. Konsep Eropa yang terbayangkan di benakku jadi sedikit mengalami pencampuran karena ini.

Alurnya sangat baik. Lambat namun tidak PHP. Dan ada begitu banyak scene yang mengejutkan tapi tetap logis. Tapi aku menemukan ada beberapa typo yang masih bertebaran dalam cerpen ini. Kesalahan penggunaan kapital pada kata sapaan juga terdapat dalam cerpen ini. Dan aku mendapatkan adanya kesalahan point of view, dimana seharusnya point of view 'aku' (orang pertama) tiba-tiba berubah menjadi point of view orang ketiga yang dibawakan oleh penulis pada halaman 27.

Keseluruhan, cerpen ini sudah membuatku tenggelam pada rasa rindu yang begitu besar yang dijajakan Penjaja Cerita Cinta melalui Senja. Semoga typo bisa diperbaiki ketika cetak ulang karena secara tak langsung ini akan berpengaruh pada feel pembaca.

Cerita kedua adalah Love Is Ketek! Bisa dilihat dari judulnya, cerpen ini adalah komedi, yang menurutku diletakkan sangat pas setelah perasaan pembaca dibawa mendayu-dayu oleh cerpen pertama, seperti obat penawar. Bercerita tentang cowok yang gagal malming gara-gara si cowok ngomong masalah ketek si cewek yang diketahui bernama samaran Parmini, dengan nama asli Ve (jauh banget, yak!). Alurnya ringan, terlampau ringan. Seolah-olah pembaca disuruh rileks dulu setelah baca yang berat-berat. Konfliknya juga ringan dan jarang terjadi: ketek. Tapi, aku bukan penikmat komedi kelas berat, sehingga aku merasakan bahwa cerpen ini sedikit lebay karena dibawakan dengan sangat meledak-ledak. Tapi bagian akhirnya tidak mengecewakan dan ditutup dengan baik.

Selanjutnya adalah cerita ketiga: Cinta Yang Tak Berkata-Kata. Tentang sepasang kekasih, antara si perempuan dengan si penyair muda yang terus membanjiri perempuannya dengan kata-kata indah. Ya, seperti idaman semua perempuan pada umumnya. Tapi dengan kebiasaannya membanjiri itu pula, si perempuan kemudian bosan. Bosan hanya dengan kata-kata indah, yang membuatnya kini meragu akan keseriusan si penyair muda yang menjadi lelakinya. Aku paling suka cerpen ini setelah Penjaja Cerita Cinta. Ending-nya menohok! Konfliknya umum namun dibawakan dengan tidak biasa.

Masuk ke cerita keempat: Dijual Murah Surga Seisinya. Baca judulnya saja, aku langsung teringat buku Pintu Harmonika yang membahas tentang 'penjualan surga'. Tapi Pak Bos menyuguhkannya dengan berbeda. Di cerita ini, pembaca akan diingatkan dengan titipan Tuhan yang berada di genggaman tiap manusia. Surga diobral di sini dengan gaya sales oleh seorang kakek tua yang Pak Edi temukan di Borobudur. Dan lagi-lagi ending yang menohok, namun tidak menggurui. Aku berharap semoga Pak Edi bisa memberikan catatan kaki di bahasa Jawa yang Pak Edi gunakan di cerita ini sehingga aku bisa mengerti keseluruhan cerita. :')

Cerita kelima adalah Menggambar Tubuh Mama. Sebagai salah satu antifans horor, aku memberanikan diriku untuk lanjut ke halaman dua dari cerpen ini setelah membaca halaman pertamanya. Dan sekarang aku nyesel karena aku berhasil dibuat merinding oleh cerpen yang satu ini! Kisah seorang anak yang kehilangan Mamanya dengan cara yang kejam, yang hanya menyisakan kepala dengan darah mengering dan... stop! Aku merinding sendiri nulis review-nya sambil ngebayangin adegan dalam cerita itu. Anda sukses buat aku takut, Pak. : |

Lanjut! Cerita keenam yang lagi-lagi sukses buat aku tenggelam dalam kesedihannya Pak Bos karena narasinya: Secangkir Kopi Untuk Tuhan. Cerpen ini dibuat Pak Bos dalam rangka mengenang Marco Simoncelli, yang meninggal dan menorehkan luka di sikuit Sepang. Cerpen ini mencekokiku dengan berbagai pengetahuan tentang dunia MotoGP yang jarang aku sentuh. Dan menunjukkan begitu cintanya Pak Bos dengan MotoGP, sama dengan kecintaan Marco Simoncelli pada motor dan kecepatan. Kalimat favoritku adalah:

"Buatku, semua pilihan cinta tidak patut dilekatkan dengan penilaian baik-buruk, hitam-putih, lantaran kalau ukuran itu yang dipakai, maka ujungnya selalu saja ukuran kita yang dipaksa-pasangkan ke kepala orang lain. Padahal semua kita tahu betapa pilihan cinta bukanlah soal benar-salah, halal-haram, tetap soal hati..."

Rest in peace, Marco Simoncelli.

Cerita selanjutnya adalah cerita ketujuh, Tak Tunggu Balimu. Judul cerpen ini diambil dari judul lagu dangdut koplo yang menjadi favorit Pak Bos. Yang tidak diduga-duga, bisa disambungin sama teori filsafat hermeneutikanya Paul Ricoeur! Yang nggak tahu apa itu teori filsafat hermeneutika, silakan googling atau baca buku ini yang bisa diburu di toko-toko buku terdekat! Pak Bos menyambungkan teori njelimet itu dengan kasus temannya yang pada awalnya tidak suka dengan Tak Tunggu Balimu. Dan taadaa! Cerpen ini membuktikan bahwa keajaiban dari kata-kata adalah benar adanya.

Cerita kedelapan, ada Cinta Cantik yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang bermimpikan seorang wanita yang hanya ia temui lewat foto. Alur dan pilihan konfliknya menurutku biasa saja. Dan cenderung meledak-ledak. Namun teori alam bawah sadar dan kesimpulan akhirnya cukup membungkus dan membuat semua ke'biasaan' itu jadi meningkat satu level. Sementara itu cerita kesembilan, Tamparan Tuhan, adalah cerita yang membuat kita berkaca pada diri sendiri. Menurutku, cerita yang satu ini 'agak' sedikit menggurui karena peran 'aku' tidak terlalu menonjol dan tertutup oleh lawan bicaranya yang banyak menasehati di sini.

Di antrian berikutnya ada Abah, I Love You sebagai cerita kesepuluh. Cerita Sebuah Kemaluan sebagai cerita kesebelas dan Munyuk! di urutan ke-dua belas. Abah, I Love You lebih ke curhatan masa lalu yang diceritakan ulang, tentang Abah yang keras pada anaknya. Ketika Cerita Sebuah Kemaluan adalah cerita yang cukup memancing. Dan sesungguhnya akan lebih baik jika catatan diberikan diawal-awal agar pembaca benar-benar membaca sampai habis. Dan memang sangat diwajibkan untuk dibaca sampai habis agar tidak salah kaprah :)). Dan Munyuk! yang menceritakan kesetiaan seorang istri pada suaminya.

Antrian terakhir, ada cerita ke-tiga belas, Lengking Hati Seorang Ibu Yang Ditinggal Mati Anaknya. Ceritanya sangat menginspirasi dan menorehkan kesedihan. Dan judulnya sudah cukup menggambarkan isi cerita cerpen ini, yang sebenarnya sangat disayangkan untuk membeberkan isi keseluruhan hanya dengan judul. Ke-empat belas, ada Aku Bukan Batu yang berisi pergolakan batin seorang muslim dan cerita terakhir adalah kumpulan dialog tanpa narasi mengenai mindset dengan judul Si X, Si X And God.

Ragam teknik bercerita ini benar adanya! Tidak bohong dan bukan sekadar tagline di atas sampul yang tiada guna. Lewat pengalaman-pengalamannya, Pak Bos membeberkan ide-idenya dalam berbagai teknik. Diksinya juga kuat, namun tetap lembut. Kutipan-kutipan yang disajikan juga quotable dan bisalah, dimasukkin ke Twitter *eh*.  

Overall, aku tetap suka tuturan dan pelajaran yang diberikan Pak Bos di buku ini. Terima kasih atas ilmunya, Pak Bos.

Ah, ya. Bagi yang hobi nulis dan ingin menjadi penulis besar, jangan lewatkan tips-tips yang ada di bagian paling belakang buku ini, ya! 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar