Sabtu, 04 Januari 2014

Review: Camar Biru by Nilam Suri

Camar Biru
Penulis: Nilam Suri (@justutterly)
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 280 halaman
ISBN: 9789797806033
Blurp:
Aku membutuhkanmu.
Kau terasa tepat untukku. Pelukanmu serasi dengan hangat tubuhku. Dan setiap bagian dari diriku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu -- dengan suaramu, dengan sentuhanmu, dengan aroma khas tubuhmu. Dengan debaran yang terdengar seperti ketuka bermelodi saat kau menatapku penuh perhatian seperti itu.
Aku membutuhkanmu.
Ya cinta, ya waktumu. Dan kau sudah melihat jujur dan juga munafikku. Bahkan, di saat aku begitu yakin kau akan meninggalkanku, kau hanya menertawakan kecurigaanku dan merangkul bahuku. Sungguh heran, setelah sekian tahun pun, kau masih bertahan di sini, bersamaku.
Aku membutuhkanmu--dan bisa jadi... aku mencintaimu. Tapi, aku belum akan mengakui ini padamu. Aku belum siap meruntuhkan bentengku dan membiarkanmu memiliki hatiku...

Bermodalkan minjem, akhirnya bisa baca juga buku, ini. *sorak sorai gegap gempita*

Entah merasa seperti ditakdirkan untuk baca buku ini sekali duduk, jam 1.40 pagi buta, aku kebangun dan buku ini langsung menyambut pandangan. Berhubung nggak bisa tidur lagi, akhirnya kuputuskan untuk buka buku yang tergeletak di samping bantal ini dan melanjutkan prolog-nya yang nggak sanggup buat dilanjutin lantaran udah ngantuk.

Anyway!

Novel Camar Biru adalah novel perdana Nilam Suri yang termasuk dalam deretan Gagas Debut, yang menceritakan kehidupan kelam tokoh utama cewek, Nina, dan cowok yang selalu ada buat Nina, Adith. Generally, ceritanya hampir sama dengan novel kebanyakan, cenderung kayak FTV, tapi memang nyata walaupun jarang terlihat: persahabatan sejak kecil antar tetangga yang jadi cinta. Bedanya, sepasang kakak adik dilibatkan di sini dan menjadikannya bukan cinta dua sisi atau tiga sisi; bujursangkar.

Nina punya kakak layaknya pangeran, Naren, yang kelewat baik. Dan seperti nasib orang yang 'baik' kebanyakan, Naren yang punya nama lengkap Narendra itu akhirnya mesti tewas dan meninggalkan dunia terlebih dahulu, dan meninggalkan sahabat dalam lingkup bujursangkarnya. Yang di dalamnya ada adik perempuan satu-satunya yang selalu ia anggap sebagai little princess.

Tewasnya Naren tepat di depan mata Nina, menjadikannya semua kacau. Keluarganya yang menganut patriarki itu pun benar-benar shock, dan makin tidak memedulikan Nina. Nina bahkan diusir, walau halus, oleh Ayahnya, untuk sekadar menjadi penenang sang Ibu yang sempat mengalami gangguan kejiwaan.

Sinar, blood brothers Naren, dan salah satu orang yang berada di lingkup bujursangkar itu juga pergi ke London, menyelimuti kekalutannya atas kepergiaan sahabatnya. Meninggalkan Adith dan Nina sendirian. Menjadikan Adith harus berusaha melindungi princess yang selalu mereka puja-puja dan dominasi semenjak kecil itu.

Pembukanya atraktif. Dibuka dengan janji di kala mabuk yang mengharuskan mereka terikat satu sama lain jika dalam jangka waktu sepuluh tahun, Adith dan Nina belum juga menemukan takdir masing-masing, dengan burung camar biru kertas sebagai buktinya Dan janji itu ternyata bukan semata-mata janji di kala mabuk saja, karena sepuluh tahun sudah berlalu dan mereka sama-sama masih sendiri.

But, honestly, dibalik semua keatraktifan itu, menurutku, novel ini kelewat kelam. Saking kelamnya, sampe dibuat nangis di beberapa bagian. Narasi dan point of view orang pertamanya itu tepat dan kuat. Menjadikan pembacanya bener-bener terenyuh dalam cerita dan pengalaman pahit tokoh utama. Dan point of view dari sisi Adith pun tak kalah menarik. Seperti timbal balik, ada keseruan tersendiri ketika pembaca diharuskan untuk memahami sisi seorang penyemangat, dan tidak melulu harus sedih.

Tiap part juga menyimpan rahasianya masing-masing. Wajar jika novel ini berhasil membius pembaca untuk duduk mantep dan tetap membuka lembaran kertas pada novel ini sampai selesai. Ada saja rahasia yang membuat penasaran.

Dan menurutku, karena terlalu banyak rahasia itulah, penyelesaian atas semua rahasia-rahasia itu jadi ngegantung. Semuanya dibiarkan 'oh, gitu aja?' dan tidak ada penjelasan lebih lanjut lagi. Begitu pun dengan ending-nya. Setelah semua kekelaman yang disuguhkan, aku sebagai pembaca benar-benar mengharapkan happy ending yang setimpal dengan semua kepahitan itu. Tapi, lagi-lagi cuma 'oh, gitu aja?'.

Bahasa yang digunakan cenderung nggak konsisten. Karena ada beberapa kata yang tidak baku masih terselip di antara narasi-narasi baku, sekalipun kata ganti orang yang dipakai itu 'gue'.

Untuk kaver, Gagas nggak usah ditanya lagi, lah. Selalu saja memikat dan membius calon pembaca tanpa memedulikan lagi isi yang mungkin saja bisa menipu. Apalagi dengan tambahan blurp super-galaunya itu. Layout-nya juga selalu minimalis, namun tetap elegan.

Untuk pilihan font, cukup membingungkan menurutku. Untuk beberapa bab pertama, aku masih harus menyesuaikan mata dan pikiran dengan jenis font yang digunakan untuk menjelaskan point of view-nya Nina, Adith dan masa lalu. Menurutku, dengan menambahkan nama atau keterangan di atas paragraf pembukanya pada tiap bab/sub-bab, bisa sangat membantu.

Well, dibalik semua celotehanku di atas tentang buku ini, di dalam lembaran-lembaran buku ini ada beberapa pelajaran hidup yang bisa diambil. Ya, selayaknya guru yang memberikan pelajaran dan ilmunya pada murid, penulis juga punya peran untuk menransfer ilmu hidupnya dan teknik menulisnya pada pembaca yang sudah setia untuk membolak-balikkan kertas-kertas pada bukunya.


"Sisi luar manusia bisa memancarkan apa isi hatinya, kalau saja, kalau saja, bisa membaca tanda-tandanya."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar