Rabu, 16 April 2014

The Beautiful Suicide

*
‘cause happiness means doing what you want with life to the fullest, so there’s no regret.
*

Hong Xing Garden – The Bay Bali




“Sudah lama?”

“Aku baru saja datang, kok.”

Audrio segera berdiri dari tempat duduknya, menuju tempat duduk lain di hadapannya. Dengan cekatan, ia memundurkan sedikit kursi yang akan digunakan Meilana untuk memberi jalan masuk bagi perempuan itu, dan mengembalikannya ke posisi semula sebelum Meilana benar-benar duduk di atasnya. Manners.

“Perempuan mana saja yang sudah jatuh hati hanya dengan sikapmu barusan?” goda Lana – nama kecil Meilana.

“Hampir semuanya, Nona,” ujar Audrio dengan penekanan pada kata pertama. “Hanya ada satu yang tampaknya tidak terkesan sama sekali,” lanjutnya sambil melemparkan tatapan nakal pada perempuan di hadapannya.

“Tatapanmu penuh arti, Au.” Meilana melayani akting opera sabun Audrio. “Cut!” ujarnya kemudian. Mereka tertawa begitu drama mini mereka terhenti.

“Apa kabar, Lan?” tanya Audrio pada akhirnya. Tatapannya sejurus tulus, menatap manik mata Meilana lurus.

“Baik. Sangat baik. Eng, bisa kutambah dengan kata perfect? Yaa, itu kalau kau tidak keberatan.”
Senyum Audrio merekah begitu melihat rekahan bulan sabit sempurna pada bibir Meilana. Begitu pun dengan sifat talkative-nya yang muncul jika perasaannya sedang baik.

Keputusannya saat itu ternyata tidak salah.

*
‘cause being happy is when you can enjoy the same smile as if nothing happened.
*

“Lan, are you still dimsum addict?” tanya Audrio begitu membuka daftar menu Hong Xing Club & Resto.

Never say nay to that!” balas Lana dengan penuh semangat.

Setelah menunjuk dimsum dan Vietnamese rice roll dan memesannya dalam jumlah yang cukup banyak, mereka membiarkan pelayan berlalu.

Dimsum. Taken from Trip Advisor.

Vietnamese rice roll. Taken from Trip Advisor.

How’s life?” tanya Meilana.

Quite hectic. Request iklan lagi banyak banget, sementara tim yang available cuma sedikit. Mau ngelibatin yang magang, produk yang diiklanin dari perusahaan besar semua. Mau wawancara yang baru ngelamar pun kepepet sama deadline,” papar Audrio detil.

“Duh, denger kamu ngomong aja aku udah ikutan hectic, Au. Beneran,” tukas Lana dengan raut wajah pusing yang dibuat-buat.

“Kamu sendiri gimana, Lan?”

You know me,” tutur Lana. “Still seeking the best sunset view. Tapi, emang nggak ada yang lebih bagus dari di Nusa Dua. Dan nggak ada yang lebih memorable dari saat kita maling-maling gara-gara mau lihat sunset bareng dari replika kapal bajak laut di Pirates Bay, plus adegan Titanic!”

Lana tertawa, begitu pun Audrio.

Kenangan demi kenangan pun terus bermunculan dari keduanya, dan hanya terhenti ketika pelayan membawakan troli makanan yang hanya berisi pesanan mereka saja.

*
‘cause happiness is when someone know yourself better than your ownself.
*

“Lan.”

“Hm?” respon Lana yang tengah menikmati porsi kedua dimsum-nya.

I’m glad meeting you today.”

Lana mengernyit. “Basi banget gombalanmu, Au. Nggak kreatif, deh. Udah berapa perempuan yang terlena sama kata-kata itu?”

“Yang jelas, nggak ada perempuan yang seberani kamu untuk ngejek kalimatku barusan.” Audrio melancarkan pembelaan. Ia menyisir rambutnya yang sudah rapi dengan jari ke arah belakang setelah itu.

Sorry, aku nggak mempan sama ke-sok cool-anmu barusan,” ujar Lana sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dari wajahnya terpancar raut jahil.

Audrio menghela napas pelan dengan bulan sabit yang sedikit terangkat pada wajahnya. “Meilana Eunike. Aku harus melancarkan jurus apa lagi biar kamu bisa percaya kalau aku nggak lagi ngegombalin kamu?” Audrio memasang wajah memelas.

“Audrio Nicholas.” Lana berdeham. “Yang harus kamu lakukan adalah, traktir aku malam ini!” Lana tertawa lantang tanpa memedulikan keadaan sekitar. “But seriously, garis bibir sama gurat alis kamu ketika lagi ngegombal dan serius itu beda, kok. I know you was sincere just now,” lanjut Lana sambil menyuapkan dimsum terakhirnya di porsi kedua. Ia lalu mengembangkan senyum.

Sementara Audrio hanya menatapnya kaku dalam sendu, dibumbui rasa sesal yang perlahan menggerogoti.

*
‘cause happiness is when you can ask and answer anything without holding feelings
*

“Kenyang?”

“Banget! Yang nggak habis bungkus aja, Au. Buat cemilan besok pagi,” ujar Lana sambil memegang perutnya yang sudah mengembang sedemikian rupa.

Audrio segera memanggil pelayan untuk membungkus sisa-sisa yang tidak dapat dihabiskan oleh mereka berdua.

“Lan.”

“Apa?”

“Masih kuat jalan, nggak?”

“Mau kemana emangnya?”

Ocean Walk?”

Lana tampak berpikir sejenak. “Boleh, deh.”

Tak perlu waktu lama, mereka berdua pun akhirnya pergi menuju Ocean Walk. Lorong panjang dengan dinding bebatuan menanti mereka. Suasana magis bersamaan dengan aura romantis kini perlahan menyelimuti. Memaksa Audrio untuk tetap menahan diri untuk tidak menyentuh tangan yang bergerak berlawanan dengan kaki-kaki mungil di sebelahnya.


“Au.”

“Y-ya?” Audrio terbata, disponsori kegugupan berlandaskan nuansa romantis lorong The Bay ini.

“Kamu, bahagia, kan?” tanya Lana. Matanya menatap jauh ke ujung lorong, obor yang lebih besar dari obor-obor yang berada di sisi awal lorong tengah menyala membelah gelapnya malam.

With you, I never felt this kind of happiness.”

Pertahanan diri Audrio gagal. Ia menggenggam tangan mungil Lana erat. Dan Lana tidak menunjukkan tanda-tanda penolakkan. Sama sekali.

*
‘cause happiness is when we can talk like  bestfriend, love like a lover, act like a child and enjoying all of them
*

Lana langsung menatap Audrio, memastikan apabila terjadi perubahan guratan alis dan bibirnya. Dan ia tidak berkomentar apapun.

Mereka kini berjalan bersisian, saling berpegangan tangan.

Any regret?” tanya Lana lagi.

“Mau aku jujur atau mau jawaban versi pencitraan?” canda Audrio, yang langsung disambut tatapan sinis Lana. “Well, I can’t say that I really have no regret. Faktanya, aku bersyukur, yet there’s something  a bit regretful. Tapi tidak banyak.”

Dehaman disertai anggunkan kecil dilayangkan Lana begitu mendengar pernyataan Audrio.

“Kalau menurutmu, bagaimana?” tanya Audrio. Rasa penasaran yang amat sangat kini membuncah.

Same as you. A bit regretful but, not really. In fact, I’d better have this kind of you with me,” papar Lana, jujur. “The cheerful and playboy one. Tidak ada kebohongan, tidak ada akting untuk menutupi yang seharusnya tak perlu ditutupi.”

Audrio mengeratkan genggaman tangannya. Kini, pemandangan di Ocean Walk berganti dengan patung-patung dengan posisi duduk yang mengalirkan air di sisi jalan setapak.


Honestly, aku selalu suka gayamu yang adventurous. Yang rela travelling beribu kilometer hanya untuk sekadar mencari foto senja yang benar-benar kamu sukai. Sifat talkative-mu yang tidak pernah membiarkan hening memecah pembicaraan kita. All of you. I love all about you.”

But I guess our red line never really connected,” potong Lana. Ia melepas genggaman tangan di antara mereka.

Ours was connected. In the past,” koreksi Audrio. “And finally, we’re off sailing, searching for the ones that will understand us ‘till the bottom of our hearts.

“Ya, aku mencintaimu, tapi, kau lebih menyukai perempuan yang dapat menemanimu setiap saat. Begitu pun aku. Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin dikekang. Ya, masing-masing dari kita perlu seseorang yang benar-benar mengerti kita tanpa embel-embel ‘tapi’. Then we’re ended up killing the promises we said in our wedding. We’re comitting suicide.” Mata Lana kini menatap nanar ke arah langit malam yang cerah. Begitu banyak bintang yang menyapa ceria, sesedih apapun manusia yang tengah menengadah menghadap mereka.

Suara gemerisik air mengalir menambah kekhidmatan waktu mereka berdua.

So, how was Kinan?” tanya Audrio, menyebut nama suami Lana saat ini.

Perfect. Bagaimana denganmu, Au? Kapan kamu akan melamar Kei?” tanya Lana, menyebut nama tunangan Audrio.

Soon.”

Perjalanan mereka di Ocean Walk  kini mencapai titik nadir. Ujung jalan makin terlihat. Obor besar di hadapan mereka kini menjadi penanda berakhirnya Ocean Walk di The Bay.

“Jadi, kita pisah di sini?”

Lana mengangguk. “Kinan is on his way here. Ada acara di De Opera. Gotta accompany him.”


“Lan.”

“Ya?”

“Aku merasa dejavu.”

Same here.”

It feels like we’re commiting the same act, but in different feelings.”

Lana tersenyum mendengar pernyataan Audrio. “How about ‘beautiful suicide’?”

Audrio mengembangkan senyum. “Couldn’t agree more.”

Dan akhirnya, mereka berdua berjalan ke dua arah yang berbeda.

*
‘cause happiness is when you can see your precious person happiness.
*

#

*) Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar