Kamis, 26 Juni 2014

Review: Ingo by Helen Dunmore

INGO
Penulis: Helen Dunmore
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (@Gramedia)
Alih Bahasa: Rosemary Kesauli
ISBN: 9789792246704
Cetakan ketiga: Desember 2013
Tebal: 312 halaman
Blurp:

Ketika Mathew Trewhella pergi dari rumahnya dan tidak pernah pulang lagi, orang-orang percaya dia sudah mati di tengah laut, tetapi putrinya, Sapphire, yakin sekali ayahnya masih hidup. Dia teringat kisah0-kisah yang sering diceritakan ayahnya, tentang putri duyung Zennor yang jatuh cinta pada manusia namun tidak bisa hidup bersama kekasihnya di daratan kering penuh udara.

Musim panas berikutnya, Conor, kakak laki-laki Sapphire, mulai sering menghabiskan waktu berjam-jam di laut, bersama seorang gadis misterius. Pada waktu mengikuti Conor itulah Sapphire menemukan Ingo - dunia bawah laut yang sangat memikat namuun berbahaya. Dan makin lama makin sulit baginya untuk menolak panggilan dunia lain itu.

Kalau kau tahu letaknya, kau bisa melihat putri duyung Zennor dalam Gereja Zennor. Putri duyung itu dipahat pada kayu tua keras berwarna gelap. Dulu ada yang pernah mengiris badannya dengan pisau. Pisau tajam dan brutal. Aku mengusap lembut bekas irisan itu supaya tidak melukai putri duyung itu lagi.

Sekilas mirip kisah putri duyung Ariel dari Disney. Putri duyung Zennor yang dikisahkan dalam Ingo ini mencintai seorang makhluk yang tinggal di tempat yang penuh udara kering: manusia. Namun ia tidak bisa hidup bersama kekasih manusianya itu karena ia pasti mati.

Tapi bukan kehidupan dari sisi Zennor yang dibahas dalam buku ini.

Sapphire tinggal dalam lingkup keluarga yang utuh. Dad, Mum, dan Conor, kakak laki-lakinya. Mereka tinggal di suatu daerah yang dekat dengan laut. Dad sangat mencintai laut dan Peggy Gourdon selalu menemani waktu-waktunya menghabiskan jam di laut, memancing sampai memotret.

Sampai akhirnya Mathew, ayah Sapphire dan Conor, menghilang dalam pelayarannya yang tidak biasa.

Sapphire dan Conor sama sekali tidak percaya bahwa Ayah mereka sudah meninggal ditelan laut. Mathew sangat mencintai dan tahu seluk beluk laut, atau setidaknya itu yang dipercayai Conor dan Sapphire. Tapi kepercayaan mereka terhadap Dad sanggup membuat mereka mengucap sumpah mati atas fakta yang belum sepenuhnya fakta tersebut.

Setidaknya mereka mencoba untuk percaya.

Satu tahun satu bulan dan satu hari berlalu. Keluarga mereka tak lagi lengkap. Mengucapkan atau menyinggung kata Dad masih dianggap canggung dalam lingkup keluarga ini. Mum kini harus bekerja keras untuk membuat kehidupan dalam keluarga kecilnya. Conor dan Sapphire lebih memiliki banyak waktu sendiri.

Suatu hari, Conor tak kunjung pulang. Sapphire memutuskan untuk menyusul kakaknya di teluk tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Dan sosok misterius yang berada di hadapan Conor begitu, aneh.

Tapi kurasa tak seorang pun bisa melakukan itu. Semua kejadian yang menimpa seseorang pasti tetap terkenang, sekalipun tersembunyi di sudut-sudut benak. Itulah sebabnya kau tidak boleh berusaha melupakan, walaupun orang-orang mendesakmu untuk melakukan itu,

Sulit untuk menghabiskan isi buku ini. Memakan waktu sekitar 5 hari untuk benar-benar habis membacanya. Walaupun based-idea-nya sama dengan Ariel, tapi sisi yang dibahas benar-benar sisi yang berbeda. Buku pertama dari tetralogi Ingo ini menceritakan awal kisah pertemuan kakak beradik Conor dan Sapphire dengan Ingo, dunia bawah laut yang memikat namun menerkam. Diperingatkan untuk jangan terlalu dalam memikirkan Ingo jika tidak ingin terseret arus dan susah kembali.

Prosesnya dibuat perlahan dan lama. Semua sub-konfliknya lambat menyatu sampai akhirnya saling menyambung dalam sebuah penyelesaian masalah pertama dalam buku ini. Penulisnya mengadakan semacam tur untuk mengenal seberapa indah sekaligus dalamnya Ingo, yang dibawakan dengan konflik mini antara anak dan ibu mengenai pendatang baru di rumah mereka.

Masih ada beberapa bagian yang menurutku sedikit dipaksakan. Tapi hanya sedikit. Sisanya masih dibiarkan gantung karena aku belum membaca seri yang lainnya. Dari sisi teknis, Gramedia memang tidak pernah neko-neko perihal layout. Tetap simpel dan berkelas.
Betapa aku membenci kata-kata itu. 'Terus berjalan'. Dad tidak berada di masa lalu, dan aku tidak terjebak. Aku yakin Dad masih hidup.
Kalau seseorang tiba-tiba meninggalkanmu tanpa sebab, seperti itulah rasanya. Ada yang robek dalam dirimu. Aku punya bagian robek dalam diriku, dan Dad punya bagian robek dalam dirinya. Entah apakah dua sisi yang robek itu bisa disatukan lagi saat aku menemukannya kelak.
Bagaimana, ya, kelanjutan sumpah mati Conor dan Sapphire? Hm...


Rating: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar