Senin, 30 Juni 2014

Review: The Tide Knot - Simpul Ombak (Ingo #2) by Helen Dunmore

The Tide Knot - Simpul Ombak (Ingo #2)

Penulis: Helen Dunmore
Hak Cipta Terjemahan Indonesia & Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (@gramedia)
Tebal: 320 halaman
Alih Bahasa: Rosemary Kesauli
ISBN: 9789792248838
Cetakan Ketiga: Desember 2013
Blurp:

Sapphire dan Conor tak bisa melupakan petualangan meteka di Ingo, dunia bawah laut yang misterius dan begitu memikat. Mereka ingin bertemu lagi dengan teman-teman Mer mereka, Faro dan Elvira.
Tapi sekarangm Sapphire dan Conor sudah pindah dari rumah mereka di dekat ceruk yang menjadi pintu masuk ke Ingo. Ibu mereka ingin memulai hidup baru di kota pantai St. Pirans, jauh dari kenangan tentang ayah mereka yang hilang di laut setahun sebelumnya.
Namun ada bahaya yang mengintai jauh di bawah permukaan laut, di tempat makhluk Mer yang paling bijak, Saldowr, menjaga Simpul Ombak. Ingo sedang gelisah, dan tak lama lagi Sapphire dan Conor akan mendengar panggilan dari lautan dalam...

Just done it on two days!

Simpul Ombak adalah seri kedua dari seri buku Ingo oleh Helen Dunmore. Di sini Helen Dunmore mengajak pembaca ke sisi yang lebih dalam lagi dari Ingo yang diperkenalkannya di buku #1. Dan saat baca buku keduanya ini lah aku baru ngeh kalau daerah yang ditinggali Sapphire dan Conor sebelumnya bernama Senara setelah sebelumnya nggak dapet (atau nggak nemu, ya?) nama daerah tempat tinggal kakak beradik tersebut.

Mereka akhirnya jauh dari Senara dan menata hidup baru di St. Pirans. Atau setidaknya begitulah maksud Jennie, ibu dari Sapphire dan Conor. Ia mempunyai keyakinan untuk sejauh-jauhnya dari laut. Baginya, laut merupakan petaka.

Saph tidak suka akan hal ini. Sifatnya yang sangat sulit untuk move on itu memaksanya untuk terus menghadap ke belakang, menyelesaikan apa yang belum benar-benar selesai. Ya, walaupun sifatnya yang satu ini bisa benar-benar positif di satu sisi, keras kepalanya kadang membuat kesal Mum atau Conor.

Dad masih belum ditemukan. Saph dan Con sudah bersumpah mati atas janji mereka untuk menemukan Dad. Berhasil? Ya, Saph menemukannya, namun ia tidak bisa membawanya pulang.

Misteri lain kembali menyelimuti Saph dan Con, membawa mereka menuju lautan terdalam.

Nak, kau sudah cukup besar untuk memahami bahwa tidak ada peristiwa yang menimpa kita begitu saja. Ada bagian dari diri kita yang menyerah pada peristiwa itu. Kita membiarkannya terjadi, sekalipun orang-orang yang kita kasihi mengira kita berusaha melawan.


Saldowr, Mer paling bijak di Ingo, menjadi tujuan mereka kini. Pertanyaan demi pertanyaan siap dilayangkan pada orang yang tinggal di Hutan Aleph dengan penjagaan para hiu. Namun, pertemuan mereka ternyata membawa mereka menuju takdir lain. Takdir yang mengerikan.

"Simpul ombak sudah mulai longgar..."

Novel keduanya jauh lebih seru dari novel pertama. Nggak jarang aku berpikir 'kenapa nggak difilmkan aja?' selama membaca bagian demi bagian novel ini. Lebih menegangkan dan menantang. Fantasi memang selalu bisa membongkar batas-batas kekakuan dalam kehidupan nyata!

Bagian Dad pun hanya terkikis sedikit dalam novel ini. Masalah Saph dan Con yang melibatkan seluruh warga St. Pirans itu lebih menyita perhatian mereka. Penyelesaiannya, menurutku, agak sedikit terburu-buru. Namun untuk masalah porsi, ending-nya cukup pas, tidak lebih dan tidak kurang. Hanya sedikit terllihat terburu-buru dan terpaksa. 

Seharusnya, sebaiknya, semestinya. Semua kata-kata manusia, dan dalam bahasa kami kata-kata itu tidak berarti apa-apa. Kita harus menerima apa yang terjadi sekarang, bukan apa yang seharusnya atau semestinya terjadi.

Still so many mysteries lingering in this serial. Gotta finish them up and bring more reviews about Ingo!

Rating:  4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar