Rabu, 09 Juli 2014

Review: The Deep (Ingo #3) by Helen Dunmore

The Deep (Ingo #3)

Penulis: Helen Dunmore
Hak cipta terjemahan Indonesia dan Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (@Gramedia)
Alih Bahasa: Rosemary Kesauly
ISBN: 978-979-22-5259-0
Tebal: 304 halaman
Cetakan kedua: Desember 2013
Blurp:

Petualangan Sapphire dan kakaknya, Conor, di dunia bawah laut masih berlanjut. Banjir dahsyat telah menerjang batas-batas antara dunia manusia dan Ingo, dan sekarang, jauh di dasar laut sana, sesosok monster menggeliat bangun dari tidurnya. Menurut legenda bangsa Mer, hanya mereka yang berdarah campuran Mer dan manusia yang bisa menjinakkan monster ini. Sapphy harus kembali ke Dasar Laut, dengan bantuan ikan paus sahabatnya, untuk berhadapan dengan makhluk menakutkan itu. Tetapi Conor dan sahabat Mer-nya, Faro, tidak mau membiarkan Sapphy pergi tanpa mereka...
Ada orang yang membuat janji besar untuk hal yang belum pasti. (hal. 132)
Petualangan Sapphire dan Conor berlanjut hingga ke kedalaman laut terdalam, Dasar Laut. Setelah sebelumnya Faro dan Saldowr dikejutkan dengan kenyataan bahwa Sapphire telah memasuki Dasar Laut dan kembali hidup-hidup. Padahal tak ada satupun bangsa Mer yang bisa selamat apabila sudah masuk ke Dasar Laut.

Petualangan di Ingo makin menegangkan. Dan di saat yang sama, setelah bencana besar yang melanda St. Pirans, Sapphire, Conor dan Mum, bersama Roger, akhirnya kembali ke pondok mereka di Senara. Tempat semuanya berawal, tempat terdekat dengan teluk mereka.

Sapphire diundang secara khusus ke Rapat Besar, acara dimana akan ada banyak rakyat Mer berkumpul. Hal-hal mengenai Dasar Laut pun dipertanyakan oleh beberapa orang yang mempunyai pengaruh besar di antara makhluk Mer pada Sapphy. 

Jawaban-jawaban dikeluarkan Sapphy sesuai apa yang dia tahu. Beban berat kini ditimpakan padanya. Menyelamatkan anak-anak Mer, atau menyelamatkan diri sendiri?

"Biasanya orang membersihkan wajah dulu sebelum menatap cermin." | "Tidak ada kotoran di wajahku." | "Maksudku, mereka memilih apa yang ingin mereka lihat. Mereka melihat sisi terbaik diri mereka. Tapi cermin ini tidak mengizinkan." (hal. 141)

More adventures, more conflicts, more feels. Ah, ini keren banget. Helen Dunmore mengajak pembacanya untuk berjalan dengan kecepatan konstan. Berharap pembaca bisa mendalami seluk beluk Ingo sembari menikmati peristiwa di dalamnya. Tiap buku, konfliknya berbeda dan tidak membosankan. Kejutan di balik kejutan. Di buku ini, masalah yang dihadapi Sapphire meningkat satu level. Tidak hanya di buku ini saja. Dari buku pertama hingga yang sekarang kubaca, kesulitas Sapphire terus meningkat. Sambil terus membawa misteri tentang ayah mereka yang sampai sekarang belum juga terselesaikan.
Tawanan dapat dibebaskan oleh penjaga penjara. Tapi jika kamu menawan dirimu sendiri, siapa yang akan membebaskanmu? (hal. 240)
Tokoh Saldowr selalu punya kata-kata bijak untuk diserap. Ya, Saldowr adalah yang terbijak di Ingo. Dari kalimat bijak berdasarkan kenyataan, sampai yang membuat merenung. Helen Dunmore memang pandai meramu kata.
Apa gunanya marah dan sedih jika tidak berusaha mengubah keadaan? (hal. 272)
I really fall in love with this series. Yang jadi alasan aku menyukai fiksi adalah ketiadaan batasan sampai mana penulis harus merealisasikan idenya melalui tulisan. Dan dalam proses pembacaannya, semuanya akan menjadi nyata dalam benak masing-masing pembaca. Tidak perlu real dalam kehidupan. Kehidupan buku itu sesungguhnya akan terus hidup dalam hati pembaca.

Siapa yang akan mengira bahwa air mampu menggerus batu karang sampai menjadi pasir atau mengikis tebing sampai ada yang melihatnya sendiri? Jangan pernah bilang takkan pernah, adik kecil. Tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi, kan? (hal. 300)

Rating: 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar