Rabu, 09 Juli 2014

Review: Geek In High Heels by Octa NH

Geek in High Heels
Tunggulah, cinta akan menemukanmu

Penulis: Octa Nurhasanah (@OctaNH)
Penerbit: Stiletto Book (@Stiletto_Book)
ISBN: 978-602-7572-20-1
Cetakan 1, Desember 2013
Blurp:

Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru"

"Hai...... Nama saya Athaya. Seorang web designer.. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish, suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku. Saya sedang cari pacar calon suami. Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya. Oh ya, umur saya 27 tahun. Sekarang kamu mengerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini? Yes, I'm absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng..."

Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk tidak jauh dari mejanya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

"Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan dan straight."

Athaya menghela napas, menyesap kopinya dan meng-klik tombol: Publish!

Blurp-nya menggoda kan, gaes?

Cerita yang disuguhkan adalah cerita seorang perempuan yang bekerja sebagai web designer freelance. Disebut geek karena pekerjaannya yang identik dengan orang-orang geek, berkacamata, penampilan urakan, dan serangkaian aksesoris geek lainnya. Dan sebenarnya Athaya ini cukup narsis juga dengan menyebut dirinya stylish ^^v. Tapi memang begitulah adanya. Athaya hobi mengoleksi sepatu-sepatu tinggi dan memadankannya dengan cat kuku yang akan dipakainya ketika memakai sebuah sepatu. Sampai rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan warna sesuai dari campuran cat-cat kukunya yang tersedia hanya karena dari semua koleksi cat kukunya, tidak ada yang warnanya sama dengan sepatu.

Cinta itu cukup ditunggu. Tidak perlu dicari. Ketika datang orang dan waktu yang tepat, dia akan ada, dan kamu akan menemukannya. Seperti cinta itu yang juga akan menemukanmu. (hal. 9)

Athaya desperate dan paling tidak suka apabila diinterogasi oleh para tantenya soal jodoh. Ya, Athaya masih juga jomblo di usianya yang ke-27. Pekerjaannya yang bersifat freelance seringkali membuat tantenya, khususnya Tante Rina, kesulitan untuk menjelaskannya pada para laki-laki yang akan dikenalkan pada keponakannya yang satu ini. Walaupun begitu, Athaya mencintai pekerjaannya. Passion-nya memang ada di dunia coding dan dia tidak suka bekerja dalam ikatan jam kantor. Toh, dia tetap bisa membeli sepatu-sepatu high heels favoritnya, plus cat kuku dengan warna yang sesuai *wink*.

Suatu kejadian di suatu kafe, Athaya yang desperate itu baru saja selesai mem-publish iklan cari jodoh di blog pribadinya. Di sisi meja lain, ada seorang laki-laki yang cukup intens memperhatikannya. Laki-laki bernama Kelana itu kemudian memberanikan diri untuk menyapa Athaya. Apa respon perempuan geek nan stylish satu ini? Dia malah meninggalkan kartu nama profesionalnya saja pada laki-laki itu. Desperate bukan berarti murahan dong ya... *wink-wink*


Dan karena pekerjaannya itulah, Athaya bertemu dengan Ibra, salah satu kliennya yang lama kelamaan berubah status juga. So, ketika Athaya desperate karena tak kunjung bertemu jodoh di kala sepupu-sepupunya yang lain sudah menggelar pernikahan, kini Athaya dibuat pusing dengan dua laki-laki yang datang ke kehidupannya. Ibra, atau Kelana, ya?

"Kalau lo berharap bisa aman dan mendapat pengganti setelah putus, apa nggak curang itu namanya? Kalau lo berharap perasaan lo dibalas sama yang baru, apa nggak childish namanya? Lo harus berani ngambil risiko ditolak dan sakit hati." (hal. 190)

Serius, tapi bisa juga dibawa santai. Cenderung lucu. Kisah Athaya yang meledak-ledak dan respon Manda sahabatnya yang nggak kalah seru membuat cerita dalam buku ini terasa segar. Sikap para tante itu sebenarnya cukup normal, sih. Walaupun lama-lama ngeselin juga. :)) Ah ya, gejala shoe fetishism itu juga nyentrik. Kejutan-kejutannya nggak terduga! Ada satu tokoh yang kurasa merupakan jelmaan hantu karena tiba-tiba bisa muncul tanpa memberi kabar. Waks!

Ada beberapa bagian yang menurutku cepat pakai banget. Seenaknya dipercepat. Padahal kalau cerita dibawa perlahan, nggak ada salahnya juga, sih. Di bagian menuju kejelasan keputusan Athaya paling banyak percepatannya. Agak disayangkan juga. Dan aku agak kurang puas sama ending-nya. I want more! *angkat tangan tinggi-tinggi*

Aku paling suka eksekusi postingan blog dan responnya di akhir. Keren!

Overall, Geek in High Heels ini santai, tapi kalau diseriusin, masalah yang diangkat sebenarnya cukup serius. Sangat direkomendasikan untuk para pencari cinta *halah* yang sedang bingung antara dua pilihan.

"Yah, cinta datang di saat yang tepat. Gue rasa sekarang saat yang tepat." (hal. 205)

Rating: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar