Sabtu, 12 Juli 2014

Review: Seribu Kerinduan by Herlina P. Dewi

Seribu KerinduanDi sini aku duduk dan menunggu...

Penulis: Herlina P. Dewi (@HerlinaPDewi)
Penerbit: Stiletto Book (@Stiletto_Book)
Editor: Paul Agus Hariyanto
Proof Reader: Tikah Kumala
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
Cetakan I, November 2013
ISBN: 978-602-7572-19-5
Tebal: 241 halaman
Blurp:
"Sudah, jangan lagi kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memulihkan jalan untukku. Menjadi pelacur."
Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan dan disanjung.
Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?
A very nice debut untuk ukuran buku perdana Mbak Herlina P. Dewi. Menceritakan tentang seorang fashion editor majalah A La Mode yang sedang berada pada masa kejayaan kariernya. Ia mempunyai seorang laki-laki yang sudah 4 tahun dipacarinya, Panji. Kenyamanan selalu mereka berdua apabila tengah bersama. Setelah 4 tahun itulah, akhirnya Panji mengajak Renata untuk bertemu orang tuanya di Jogja. Jantung Renata berdegup kencang hanya dengan membayangkan pertemuan yang akan terjadi.

Manusia boleh berharap, tapi takdir mungkin sudah menggariskan hal lain. Ibu Panji tidak menerima Renata untuk menjadi menantunya. Menurutnya, Panji harus menikah dengan orang yang sepadan dengannya. Yang bibit, bebet, bobotnya jelas. Intinya, tidak untuk Renata.

Panji akhirnya dijodohkan dengan perempuan yang merupakan anak dari rekan bisnis keluarganya.

"Ren, you never really stop loving someone. You just learn to live without him.." (hal. 49)


Patah hati? Tentunya ya. Silakan tanya sendiri pada serpihan hati Renata yang tengah hancur lebur karena ditinggalkan Panji. Setelahnya, ia menghabiskan waktu untuk mengenang kebersamaannya dengan Panji, sendirian, berharap semuanya bisa kembali seperti dulu. Alih-alih merasakan cinta, Renata menjadi kesepian. Ia bosan. Sampai kapan?

"Aku hanya ingin melihat, segimana kuat aku melihatmu bersanding dengan perempuan itu. Melihatmua tersenyum gembira di tengah kegetiranku. Melihatmu bahagia dengan kehidupan barumu di tengah hancurnya hidupku. Dan ternyata, aku sangat lemah. Aku nggak sanggup menyaksikan itu lebih lama lagi." (hal. 74)

Renata dipecat dari pekerjaannya. Pekerjaannya berantakan, seiring dengan kehidupan cintanya yang turut luluh lantak. Ia tidak ada uang, dan ia tidak berani kembali ke rumah orang tuanya. Ia tidak sanggup menyampaikan masalah-masalah ini pada orang tuanya. Ia tidak ingin membuat keluarganya sedih.

Renata menyerah. Ia memilih jalan yang harusnya tidak dipilihnya sama sekali. Menjadi pelacur.

Tutur katanya sederhana dan mengalir. Penokohannya juga kuat dan tidak terlalu banyak tokoh sehingga tidak memusingkan. Sudut pandang orang ketiga yang menjabarkan cerita secara bergantian dari sisi Renata dan Panji itu membuat buku ini kaya akan cerita dan rasa.

Klise, sih. Tapi Mbak Herlina ini sukses mengaduk-aduk perasaan, lho. Walaupun ide klise, nggak selamanya klise itu membuat bosan, kan? ;)

Walaupun menurutku proses Renata saat memilih untuk menjadi pelacur itu terlalu cepat, dan ending-nya seperti FTV, bahasanya yang mendayu-dayu sanggup buat meleleh, deh. Kutipan-kutipannya juga gress banget.

"Sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future." (hal. 175)

Jadi, akankah Renata sanggup untuk belajar hidup tanpa Panji?

Rating: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar