Minggu, 10 Agustus 2014

Kenapa Me-Review?

Sumber.
This post is posted based on my personal thought. Setelah sadar bahwa blog yang sebenarnya bertujuan untuk kepenulisan, malah lebih banyak review post-nya daripada posting cerpen, flashfiction dan produk kepenulisan lainnya, aku merasa perlu semacam presscon *halah*. Berhubung hanya lewat postingan ini saja dan penghuni blog masih sedikit, maka marilah mengalihkan presscon itu jadi personal share.

How's the start?
Seorang teman di komunitas kepenulisan di Palembang menyarankan teman-temannya (termasuk aku) untuk mulai mengisi blog, karena dianya itu juga merupakan blogger aktif. Sebenarnya hampir semua dari anggota komunitas itu punya blog. Blog yang awalnya dibangun, didesain, dihias dengan semangat menggebu-gebu, yang kemudian mulai ditinggalkan setelah first post. Sebagian besar yang punya blog kemudian mengeluh "nggak tahu mau post apa" atau "mau buat cerpen, tapi masih stuck" atau "malu mau nge-post, tulisan aku gaje". Ya, apapun jenis alasannya yang bermuara pada "harus nge-post apa?".

Jadilah temanku tadi bilang "Kenapa nggak mulai review buku aja?".

Ya, sebagai salah satu anggota komunitas kepenulisan, tentunya kami gemar membaca novel. Karena membaca adalah awal dari menulis. Dan di pendengaranku, ide yang dicetuskannya semacam ide cemerlang yang kalau di kartun-kartun, bisa mengeluarkan lampu. Lumayan buat ganti lampu kamar mandi *eh*. 

Dan jadilah! Posting review pertamaku per tanggal 20 Oktober 2013!

Content: Basic Information, Analysis and Personal Thought
Dan jadilah aku memulai kembali aktivitas ngeblog dengan posting review terhadap buku-buku yang sudah kubaca. Setelah mempelajari beberapa blog yang menuliskan review buku, informasi-informasi yang biasanya dituliskan di review, antara lain:

Gambar sampul:
Judul:
Penulis:
Penerbit:
ISBN:
Tebal:
Editor:
Desain Sampul:
Layouter:
Tahun Terbit:
Cetakan Ke-:
Blurp:

Ringkasan Cerita

Penilaian dari segi pembaca

Penutup

Biasanya, aku hanya menyertakan gambar, serta informasi mulai dari judul, penulis, penerbit, ISBN, tebal, tahun terbit, cetakan ke- dan blurp sebagai caption gambar sampul buku yang di-review. Semakin lengkap informasinya, semakin baik. Informasi-informasi mengenai anatomi buku ini biasanya dapat ditemui di dua atau tiga halaman awal buku. Sedangkan untuk blurp, aku menuliskan kembali apa yang ada di back cover.

Untuk konten review-nya, aku selalu menyertakan kesan pertamaku sebagai pembuka ketika bertemu buku yang di-review, atau kesan awal setelah membaca buku secara keseluruhan. Setelah itu, aku akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam buku, dimulai dengan kata diceritakan, alkisah, atau buku ini menceritakan tentang.... . Aku memaksa diriku untuk mengingat-ingat kronologis para tokoh dan konflik yang membelut mereka dan menceritakannya kembali. Hanya sebagian, tentu saja. Dan aku lebih memilih konflik yang paling menarik sekaligus membuat penasaran untuk diceritakan kembali. Review memang menceritakan kembali. Tapi bukan untuk mengumbar keseluruhan cerita yang berujung pada spoiler

Baru-baru ini, aku mulai intens menyertakan beberapa kutipan dalam buku. Karena memang efeknya pada calon pembaca jauh lebih baik daripada review dengan hanya sekadar pendapat saja. Menurut salah satu penerbit buku (sumber), kutipan dalam buku dapat memberi ruang pada pembaca untuk tetap berimajinasi tentang isi buku yang kita review, terlepas dari isi cerita yang sebagian kecil sudah kita ceritakan.

Setelah menyertakan kutipan, kesan pertama dan menceritakan sebagian kecil dari isi buku, maka saatnya analisis. Aku menuliskan apa yang dirasakan kurang dan apa yang menjadi kelebihan. Setelahnya, aku menyatakan pendapat pribadiku mengenai perbaikan atas kekurangan dan/atau pendapat atas pujian yang dilontarkan. Aku lebih berhati-hati pada bagian ini. Karena bagian ini adalah bagian yang cukup sensitif. Kekuatan opini itu terlalu hebat jika penulis blog tidak pandai-pandai merangkai kata.

Setelah membeberkan kekurangan dan kelebihan, aku selalu menutup konten review dengan 'kepada siapa buku ini direkomendasikan' dan/atau ditutup dengan kutipan paling nyess yang ada di buku dan rating buku sesuai dengan yang aku berikan di Goodreads.

Why books review?
Sebagai penggila buku, review ini sangat membantu sekali untuk mengingat kembali isi cerita buku yang sudah dibaca agar tidak terlupakan begitu saja. Termasuk penghargaan terhadap diri sendiri yang sudah menghabiskan waktu untuk membalikkan lembaran buku sampai habis. Selain itu, review buku juga dapat mempertajam perasaan, karena secara tidak langsung, dengan menuliskan review, perasaan yang dirasakan pembaca saat membaca buku bisa dicari dan disusun kembali. Semacam lagi break sama pacar dan mencoba mencari-cari apa yang hilang kalau pacar nggak ada *halah*. Ya, semacam melatih kepekaan. Setelah memberi penghargaan kepada diri sendiri, review tentunya memberi penghargaan pada penulis buku itu sendiri. Seorang penulis membuat buku karena ingin dibaca oleh para pembacanya. Sebagai orang yang berkarya, apresiasi dari khalayak umum itu adalah suatu keharusan yang harus ia dapatkan. Dan tidak hanya itu saja. Review juga berarti meninggalkan jejak nilai-nilai suatu buku yang bisa diberikan pada calon pembaca. Tidak semuanya, tentu. Sebagian kecil saja, tidak boleh spoiler. Nilai yang dibagikan bisa dalam berbagai macam bentuk, mulai dari kehidupan cinta, keluarga, pertemanan, atau lebih ke usaha seperti wirausaha, kehidupan pekerja kantoran, dan sebagainya. Ada begitu banyak buku di dunia ini yang bisa kita sebarluaskan kebaikannya.

Review Impact
Ada banyak sekali pengaruh dari review ini, mulai dari diri sendiri hingga ke orang lain di sekitar.

1. Meningkatkan mood membaca buku

Membuat posting review itu cukup nagih. Dengan begitu, setelah membuat satu review buku, keinginan menulis review tentang buku lainnya pun meningkat cukup tajam, sehingga memaksa pembaca untuk melihat ke rak buku-buku yang belum dibaca untuk kemudian dibuka, dibaca dan di-review.

2. Mendapatkan buku gratis

Ini efek positif yang sangat menguntungkan. Dengan rajin membuat review, biasanya penerbit atau penulisnya sendiri, sudah menaruh perhatian pada tulisan review yang sudah dibuat. Bagi yang rajin membaca buku suatu penerbit tertentu, penerbit tidak akan segan untuk menghubungi penulis review untuk tiga hal: me-review buku baru, mengirimkan hadiah sebagai apresiasi atas review atau mengajak untuk ikut proyek review yang dicetus oleh penerbit itu sendiri (blog tour, giveaway, dsb). Dan hadiah dari tiga hal tersebut adalah buku, mulai dari satuan hingga paket buku. Siap-siap kebanjiran ketukan pintu dari tukang pos!

3. Mendapatkan teman baru

Dengan menuliskan review, orang lain akan tahu genre buku favorit, penulis yang disukai dan selera kita. Serasa bertemu dengan jodoh(?), tentunya tidak hanya satu dua orang yang menyukai suatu buku. Ada begitu banyak orang di luar sana yang mungkin satu selera. Dengan fasilitas komentar, tentunya yang merasa satu selera akan merasakan berbagai macam persamaan dengan review yang telah dibuat dan membuat komentar tentang seberapa setujunya orang tersebut dengan review yang kita buat. Dan setelahnya, terciptalah jaringan sosial baru. Dan untuk beberapa penulis kenamaan, ada fanclub khusus pembaca yang mengumpulkan para pembaca untuk bertukar informasi seputar penulis dan buku-bukunya.

Mood baru, buku baru, teman baru. Siapa yang tidak mau? ;)

Ada begitu banyak keuntungan lain, sebenarnya. Sebagai tambahan, aku jadi tahu penulis mana yang ramah dengan pembaca dan penulis yang silent reader terhadap review. Dan setidaknya, blog tidak menjadi sarang laba-laba karena jarang ada penghuni baru. Dan bagi yang ingin menjadi penulis, review ini bisa jadi ajang latihan menulis tersendiri. Kalau sedang stuck, membuka buku dan mencari inspirasi di dalamnya itu bisa jadi obat writers' block.

Siap membaca buku dan meninggalkan jejaknya di blog masing-masing? ;)


Referensi:


4 komentar:

  1. Nice sharing :))
    Aku juga sekarang lagi kebanyakan nulis review. Review buku emang paling gampang dijadikan bahan tulisan di blog :)) Apalagi tiap minggu selalu ada buku yang selesai dibaca. Otomatis, setiap minggu selalu ada bahan buat posting.

    Semangaaaatt!!

    BalasHapus
  2. Sangat membantu/bermanfaat tulisan ini. Terima kasih telah berbagi. Salam.

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah sharing :) Terkadang saking gak mau spoiler-nya jadi hanya menyertakan pendapat saja dan membahas hal lain terkait cerita. Harus banyak belajar.

    BalasHapus