Sabtu, 30 Agustus 2014

Review: Dance For Two by Tyas Effendi

Dance for Two
Penulis: Tyas Effendi (@tyaseffendi)
Penerbit: Gagasmedia (@Gagasmedia)
ISBN: 9797806723
Tebal: 238 halaman
Cetakan pertama, 2013
Blurp:

Dear Editor,
Saya terjebak dalam cerita yang saya mulai sendiri. Saya selalu membiarkanmu mengacaukan kata-kata yang sudah saya urutkan, membiarkanmu memenggal kepala huruf-huruf yang sudah berbaris rapi itu. Saya pun menikmti setiap cara yang saya lakukan untuk merangkainya kembali, lalu menyusunnya menjadi mozaik baru yang kamu suka.
Ini tentangmu, percayalah. Bagian mana dari dirimu yang tidak saya tahu? Tak ada satu celah pun yang terlewat; setiap potong kehidupanmu adalah gambaran paling jelas yang tersimpan dalam benak saya. Setiap langkahmu adalah jejak tanpa putus yang tercetak di atas peta saya.
Saya tidak ingin selamanya menjadi rahasia.
Saya hidupkan kamu dalam cerita.

Kamu bisa mengenang sebelum benar-benar melupakannya. (hal. 22)
Cerita cinta dengan latar dua tempat yang bermil-mil jauhnya, Kopenhagen dan Yogyakarta. Dikisahkan Caja Satyasa Hasan, perempuan naif yang memutuskan untuk menjadi a-long-time-secret-admirer-nya Albizia Falcataria, laki-laki dengan kamera yang namanya berasal dari nama latin pohon jeunjing. Al-nama kecil Albizia-tidak mengenal Satya. Namun bagian Al mana yang dapat laki-laki itu sembunyikan dari Satya?

Diawali dengan pertemuan di Danau Sortedams yang setengah beku di awal musim dingin. Pemandangan angsa yang tengah bergerumul menarik minat Al untuk mengarahkan lensa kameranya dan menekan tombol rana untuk mengabadikan pemandangan itu. Satya pun ada di sana, mengacaukan pemandangan indah yang diinginkan Al dengan menebarkan makanan sehingga formasi para angsa itu berantakan. Namun Al tidak kecil hati. Ia mendekat, menembus lapisan tipis danau beku itu, sampai akhirnya ia terjatuh. Lapisan danau tidak kuat menahan beban tubuhnya. Beku pun tak segan-segan menyerang tubuh Al, dan kamera kesayangannya.

Jaket wol Satya menjadi penyelamat sementara bagi Al. Janji untuk mengembalikan segera pun terucap. Namun sebagian memori Al seketika lenyap. Al tertabrak mobil. Kepalanya mengalami pendarahan.

Dan tahun pun berlalu. Al kembali ke Jakarta, meninggalkan Satya yang masih terus merahasiakan jejaknya.

Pemuda itu memang terlalu berkesan untuk dilupakan. (hal. 131)
Simpel, namun memikat. Diksinya tidak menye-menye dan terkesan minimalis. Tutur katanya pun mengalir halus seperti alurnya. Walaupun agak disayangkan alur bagian depannya yang terlalu cepat dan kurang greget, tapi bagian tengah menuju akhir yang mendayu-dayu itu menghanyutkan perasaan. Suasana romantis dari musim dingin Kopenhagen pun menambah nilai mellow ceritanya.

Detail tempat pun cukup. Tidak terlalu detail, tapi pas, sehingga tidak menjadikan buku ini semacam tour guide sebagai isi sampingannya hanya karena paparan latar. Penulis berhasil menciptakan benang merah yang smooth tanpa kusut dari konflik-konfliknya.

Secara teknis, masih dapat ditemukan typo. Tutur Satya dan sahabat serta keluarga di Kopenhagen yang menggunakan kata baku sedikit melenceng di beberapa kalimat dialog karena masih menggunakan sedikit kata gaul, sehingga kurang enak dibaca. Penceritaan dari dua sudut pandang laki-laki dan perempuan dalam buku ini menjadi magnet tersendiri untuk tidak meninggalkan buku ini sampai benar-benar selesai.
There is no use living in denial. You know exactly the truth, but you don't want to accept it. (hal. 153)
Bagi para secret admirer yang sedang hidup dalam persembunyian, buku ini sangat disarankan untuk dibaca. Pembaca bisa mengambil pelajaran hidup yang Satya tuturkan dalam menjalani kehidupan cinta penuh kesetiaan jarak jauh. Sangat direkomendasikan untuk semua kalangan.

Rating: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar