Sabtu, 23 Agustus 2014

Review: Fantasy by Novellina A.

Fantasy
Love doesn't conquers all, faith does.

Penulis: Novellina A. (@novellinaapsari)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (@Gramedia)
ISBN: 9786020303550
Tebal: 312 halaman
Terbit: April 2014
Blurp:

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cina, persahabatan, kesetiaan dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. 
"Kamu tahu kenapa persahabatan kita sangat berbeda dengan persahabatan orang lain? Karena Tuhan sudah menggariskan jalan hidup kita. Bahwa kita akan menyukai laki-laki yang sama. Laki-laki yang memasukki hidup kita secara bersamaan, dan Tuhan memberi kita hati yang besar, dan sedikit hormon, sehingga kita tidak akan pernah bertengkar memperebutkannya." (hal. 125)
Persahabatan perempuan dan laki-laki sesungguhnya sangat jarang yang pernah benar-benar terjalin seperti judulnya. Senyawa kimia yang tidak pernah bisa dijelaskan yang mengakibatkan sengatan listrik menyenangkan di kedua individu lawan jenis ini pun dirasakan oleh dua perempuan dan satu laki-laki yang menjali persahabatan sejak lama: Davina, Armitha dan Awang.

Davina adalah seorang perempuan yang selalu berpikiran positif dan tidak pernah sekalipun berpikiran negatif pada orang lain. Perempuan keturunan seperempat Belanda ini memiliki tinggi badan yang sedikit lebih menjulang dari teman-teman perempuan di kelasnya dan tidak mau disebut bule dengan perawakannya yang memang bule tersebut. Sedangkan Armitha, adalah sahabat perempuannya yang selalu berpikir untuk melindungi Davina dari orang yang berniat jahat karena sifat positif yang cenderung naif. Penyuka musik tapi tidak berminat untuk mendalami alat musik apapun, sampai akhirnya Awang, pangeran kedua perempuan tersebut, membius Mitha untuk mati-matian mempelajari piano. Alat musik itulah yang kemudian membawa Mitha dan Awang menuju sebuah janji, yang kemudian melibatkan Davina, dan kompleksitas rasa di dalamnya.

"Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta, melainkan keegoisan." (hal. 126)

Davina dihadapkan oleh sesuatu yang meresahkan hatinya: Awang akan pergi, jauh. Ia dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Setelah sebelumnya Vina dihantui rasa bersalah pada Mitha karena ia jatuh cinta pada Awang (yang disambut dengan perasaan yang sama oleh laki-laki itu), kali ini ia digeluti perasaan bersalah yang lain. Ia tidak ingin ditinggal pergi, namun ia tidak ingin menjadikan dirinya beban Awang sehingga laki-laki itu harus menarik mimpinya, hanya karena seorang Davina yang mungkin di masa depan tidak memberikan sesuatu sebanding dengan mimpi Awang yang selalu diidam-idamkannya, yaitu menjadi pianis handal.

Namun dengan berat hati, Davina melepaskannya. Ia mengalahkan keegoisannya sendiri.

Di sisi lain, Armitha juga menaruh perhatiannya pada Awang. Permainan piano yang membius itu berhasil membuatnya tergila-gila pada piano. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah benar-benar terpengaruh pada alat-alat musik meskipun papanya adalah seniman musik besar. Mereka pun menjalani pendidikan bermusik milik pianis Indonesia berbakat, Valenntina. Karena satu sekolah, mereka pun memutuskan untuk tampil secara berpasangan di acara showcase. Dan pada akhirnya, mereka berjanji suatu saat nanti akan saling berkompetisi piano, apapun acaranya.

Awang kemudian pergi dan Vina tidak pernah membalas e-mail-nya barang satu kalipun. Namun hal itu tidak dilakukan Mitha. Dia selalu membalas e-mail Awang yang tengah menjalani kehidupan bermusiknya di luar negeri. Sampai akhirnya hal mengerikan itu terjadi. Tak ada lagi e-mail balasan yang bertengger di kotak masuk Awang.

"Kamu tahu kenapa manusia begitu suka sulap?" - Awang | "Karena sebenarnya manusia lebih suka ditipu?" - Davina | "Karena manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat, pikiran kita sendirilah yang menipu penglihatan kita. Begitu juga dengan keajaiban. Manusia mana yang tidak pernah mengharapkan keajaiban? Mereka berpikir bahwa hidup akan semudah sulap, simsalabim mimpi terwujud di hadapan mata kemudian hidup akan berubah drastis. Namun kaki mereka tak pernah ingin melangkah untuk mendekati mimpinya." - Awang (hal. 270)
Awalnya datar. Kehidupan SMA antara tiga tokoh dipaparkan secara halus. Perkenalan ketiganya berjalan biasa, layaknya anak SMA. Vina menyadari bahwa Awang adalah orang yang baik, begitu juga Mitha. Vina yang pintar, Mitha yang cantik dan Awang yang suka membolos pelajaran eksak, semua dipaparkan secara biasa. Tapi, siapa sangka paparan yang biasa tersebut menyimpan kejutan-kejutan untuk masa depan mereka bertiga?

Penulisnya berhasil menceritakan proses yang realistis. Walaupun alurnya lambat, tuturnya tidak membosankan. Pilihan kata dan diksinya tidak melulu puitis walaupun ada beberapa. Kompleksitas cerita yang berasal dari percampuran friendship, love, obsession, promises dan tolerance berhasil menghanyutkan perasaan. Rasa sesaknya mulai bisa dirasakan dari awal masuk konflik hingga akhir cerita. Kejadian tidak terduganya berhasil mengalihkan 'tebakan awal' para pembaca yang mungkin sudah disuguhkan oleh penulis lain, benar-benar di luar ekspetasi, namun tidak juga keluar jalur. Semuanya pas.Karakternya pun kuat dan tidak melenceng walaupun jangka waktu yang dibawakan dalam novel ini memakan waktu bertahun-tahun.

Setting-nya epic. Mengambil latar beberapa negara, tidak terbayang seberapa dalam riset yang didalami penulis untuk menggambarkan latar yang demikian detail. Komposisi yang dimainkan oleh tokoh-tokohnya pun terasa real. Berhubung penulisnya menuliskan pengaruh musik klasiknya adalah karena dorama Nodame Cantabile, komposisi-komposisi yang tertulis pun terdengar tidak asing bagi yang sudah menonton dorama ini.

Karena komposisi itu juga, tak jarang malah membayangkan tokoh-tokoh dorama tersebut yang memainkan komposisi, seperti saat mereka memainkan komposisi Spring yang dimainkan Awang dan Mitha, yang terbayang malah adegan Chiaki dan Nodame. Begitu juga dengan satu karakter Mitha yang sangat mirip dengan karakter Nodame. Orisinalitas bagian tokohnya sedikit berkurang karena hal ini, tapi tidak mengurangi esensi keindahannya cerita yang dipaparkan.

Ada begitu banyak kata asing yang tidak disertai catatan kaki. Padahal itu cukup perlu agar pembaca mengerti. Dan bagian awal yang datar itu cukup fatal bagi pembaca yang tidak sabaran. Namun berhasil diakali dengan blurp yang menggoda. Penggunaan PoV dari dua sisi tokoh perempuan dalam buku ini menjadi daya tarik tersendiri, dan yang tentunya menjadikan buku ini cukup tebal dan memakan waktu untuk dinikmati.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan, pecinta musik, pecinta Jepang, pecinta Nodame dan pecinta buku lainnya. Prosesnya mengajarkan bagaimana kehidupan itu tidak selalu berada di jalur yang diinginkan, melainkan bagaimana seharusnya manusia melangkah menuju proses mewujudkan mimpi.

Hidup adalah tentang bermimpi. (hal. 284)
"You are my Fantasy in D Minor, my ending from my search of happiness." (hal. 308) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar