Senin, 02 Desember 2013

Review: Kamu Duniaku by Rosa Amanda Salim

Taken from my instagram.

Kamu Duniaku
Penulis: Rosa Amanda Salim (@rondalim)
Penerbit: Grasindo (@grasindo_id)
ISBN:  978-602-251-214-1
Blurp:
Lily bukan setangkai bunga yang rapuh. Juga tak cantik. Ia cuma gadis remaja ala kadarnya yang terjebak dalam butanya cinta pertama. Obsesi akan Aldi, cinta pertamanya, membawa Lily masuk ke Fakultas Kedokteran.
Tetap melangkah sambil membawa luka hati yang menganga, Lily berusaha menggapai cita-citanya. Begitu masuk dunia koas, gadis berotak cemerlang ini perlu banyak beradaptasi. Terutama karena ada "teman sehidup-semati" dalam kehidupan koas yang berkelompok. Kelompok sehidup-semati ini pula yang membuat Lily harus selalu bersama Robby.
Keduanya berujung pada nyeri berdenyut yang menggerogoti dunianya. Lantas, bagaimana mempertahankan dunianya sendiri agar tetap utuh?

Tagline "Lebih baik mengejar ke ujung dunia, daripada kehilangan dunia itu sendiri" menggambarkan kehidupan percintaan Lily, yang sebagian besar, bahkan hampir semuanya, memengaruhi aspek-aspek kehidupan gadis remaja itu. Selalu Aldi, Aldi lalu Aldi lagi yang hadir hampir di setiap harinya. Sejak Lily menemukan Aldi di kehidupan SMP-nya, Aldi selalu meracuni Lily secara tidak langsung untuk terus mengikutinya.

Lily masuk ke SMA yang sama dengan Aldi. Dan ia ingin menempuh perjalanan terjal di dunia sekolah kedokteran pun karena orang yang sama, Aldi.

Dreams come true. Aldi bukan lagi mimpi. Lily akhirnya bisa bersama dengan mimpi cinta butanya. Kini Aldi melangkah bersamanya, hingga membawa gadis yang terbutakan cinta itu dalam jurang kenikmatan, yang kemudian membawa luka hati yang mendalam.

Lily pun menjalani masa koas, dan Robby, adalah orang yang menjadi teman 'sehidup-semati' Lily untuk dua tahun ke depan. Layaknya teman yang saling mendukung, Lily dan Robby selalu hadir untuk satu sama lain, yang ternyata memang menyimpan luka hati masing-masing: terancam kehilangan dunia mereka sendiri.


Novel ini ditulis oleh seorang dokter, sehingga detail-detail kedokterannya benar-benar terasa. Dan agak cukup nyess juga, karena di dalam novel ini, kematian pasien seperti dianggap biasa oleh dokter. Eits, tapi bukan biasa dalam konteks mereka dengan mudahnya menganggapnya demikian. Tapi penggambaran pasien dari sisi dokter ini benar-benar membuka mata: hidup dan mati itu sudah takdir. Dokter memang membantu, tetapi hanya sesuai prosedur yang layak. Jika tak bisa diselamatkan lagi karena prosedur-prosedur itu, maka maut memang sudah saatnya.

Dan berhubung penulisnya dokter, aku merasa bahwa novel ini merupakan gambaran kehidupan dari penulisnya sendiri (sok tau *uhuk*), jadi benar-benar tervisualisasikan dengan baik tiap detail ceritanya. Dan dengan baca novel ini, enggak jarang aku manggut-manggut karena baru tahu seluk-beluk dunia pendidikan kedokteran dan profesinya. Begitu, toh.

Dialirkan secara smooth dan menyenangkan oleh Bu Dokter Amanda. Konflik-konflik yang ada juga jarang ditemukan di novel-novel kebanyakan. Dan sedikit warning buat yang sedang menempuh kehidupan koas juga bisa ditemukan di sini. Wajib punya kalau mau menambah wawasan, deh! Walaupun jalan menuju ending-nya menurutku agak sedikit tidak bertanggung jawab karena langsung 'lari', tapi overall aku suka.

Sedikit catatan buat layouter-nya, pesan-pesan singkat dirasakan kurang real karena hanya bermain dengan font, dan font yang dipilih pun kurang menarik dan tidak merepresentasikan fitur pesan singkat. Begitu juga dengan font di bawah sub-judul itu. Agak susah dibaca.


P.S: Ternyata cinlok enggak cuma ada di lokasi syuting aja, yey.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar