Kamis, 12 Desember 2013

Review: Soulmate.com by Jessica Huwae

soulmate.com
Penulis: Jessica Huwae
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-2020-9
Tebal: 224 halaman
Blurp:
Cantik, cerdas, sophisticated, memiliki pekerjaan dan teman-teman yang menyenangkan. Di usianya yang ke-25, Nadya Samuella memiliki banyak hal yang sanggup membuat wanita mana saja iri. Kekurangannya hanya satu: cinta. Dengan embel-embel "plus-plus" yang dimilikinya, ternyata tidak mudah bagi Nadya untuk menemukan pria yang sungguh-sungguh mencintainya. Hidup seakan berkonspirasi mengantarnya pada deretan "pria-pria salah". Pacar yang dulu setia tiba-tiba mengkhianatinya, pacar tukang pukul, sampai deretan panjang kencan-satu-malam yang membuatnya lelah dan bosan. Sampai suatu hari dia bertemu dengan Oka, pria sederhana yang ditemuinya lewat internet. Dalam sekejap hidup Nadya kembali sempurna. Namun sayang, Oka ternyata menyimpan rahasia yang bukan hanya mengguncang langit hidup Nadya, tapi juga memutarbalikkan semua keyakinannya akan cinta. Masih percayakah Nadya kalau soulmate itu ada? Atau dia harus mulai melepaskan mimpi-mimpi Cinderella masa remajanya?

Alkisah(?) Bimo dan Rido, yang duluan mengunjungi bazar buku di Gramedia pusat di Palembang, berkoar-koar di grup LINE NBCPalembang tentang buku-buku yang berhasil ditemukan di sana. Dengan berbekal smartphone, dengan segera foto-foto itu terpampang di wajah para anggota komunitas. Besoknya, aku menyegerakan diri untuk mampir. Menemukan buku penuh perjuangan, dengan kening penuh peluh karena harus berputar di seputar rak yang tersedia di venue bazar. Sekitar lima kali bolak-balik dan belum nemu juga. Sampai akhirnya aku kirim pesan singkat nanya posisi bukunya dimana pas dua sejoli itu nemuin bukunya, masih enggak ketemu juga!

Padahal mata udah empat. Hiks.

Anyway, akhirnya aku menemukan buku ini atas bantuan patjar.

I found this old book, but the content is never old enough as its age.

Nadya Samuella.
Cantik, cerdas, pekerjaan dan teman-teman yang menyenangkan, plus-plus, deh! Tapi se-plus-plus-nya manusia, ternyata masih aja ada kurangnya, kok. Untuk kasus Nadya ini, ia mengalami kekurangan di satu aspek kehidupan yang terpenting: cinta.

Di usianya yang ke-25, ia masih belum juga menemukan pria yang sungguh-sungguh.

Pacar yang berkhianat.
Si tukang pukul.
Si tangan gurita.
Si pemalu.

Dan para 'si - ' lainnya dan tetap saja masih ada yang belum benar-benar singgah sepenuhnya.

Dan the hero pun akhirnya muncul.


Love is everywhere. Pertemuan mereka cukup simple. Sebatas komentar penyemangat di blog Nadya yang tengah patah hati karena baru saja dikhianati.

Pria itu, Oka.

Mereka akhirnya bertukar akun yahoo messenger, dan setelah itu, tiada hari tanpa membuka aplikasi chat yang satu itu. Nadya selalu Oka. Dan Oka selalu saja Nadya. YM, mail, hingga akhirnya mereka mendengar suara masing-masing.

Kebersamaan mereka mengalir tanpa beban. Oka selalu ada untuk Nadya, begitu juga Nadya yang selalu menyempatkan dirinya untuk membuka yahoo messenger. Rasa rindu pun tak jarang menyelimuti apabila tak bersua di chatroom barang beberapa jam saja.

Merasa nyaman dengan diri masing-masing yang selalu bersama, mereka sepakat untuk 'beriringan'. Tanpa banyak janji dan tanpa berniat merayakan hari jadi setiap bulannya, seperti anak SMA. Karena tak ada yang lebih penting dari dua hati yang telah sepakat.

Dibalik kenyamanan itu, ternyata Oka menyimpan rahasia. Yang kemudian sanggup membuat Nadya melupakan idealismenya tentang cinta, dan membiarkan dirinya tersesat. Tanpa kompas, tanpa manual.

Dari segi isi, novel ini membuka pandangan baru padaku tentang soulmate. Soulmate tidak melulu 'pasangan yang ditakdirkan untukmu'. Soulmate itu "seperti magnet yang terus-menerus menarik satu sama lain", seperti yang dikutip dari endorsement-nya Mbak Fira Basuki, Editor in Chief SPICE! Alurnya mengalir cepat. Tapi menurutku ada beberapa bagian yang sedikit 'ditinggalkan' oleh penulis, yaitu pada bagian mimpi Nadya, akan lebih baik jika ada penjelasan untuk perealisasian mimpinya di akhir cerita dan tidak membiarkan itu berakhir begitu saja.

Sampul, menarik. Penuh makna. Minimalis namun meninggalkan kesan. gambar mouse yang ada di sampul depan sudah mewakili kisah perjalanan cinta Nadya yang memang berawal dari kebiasannya di balik komputer dan meng-click mouse-nya.

Tata letak, oke. Minimalis seperti sampulnya. Sehingga tidak mengganggu konsentrasi pembaca.

Pemilihan font, cukup. Yang agak kusayangkan adalah ketika penulisan tanggal untuk postingan blog yang disuguhkan, ukurannya terlalu besar.

Walaupun umurku masih di bawah tokoh, membaca buku-buku Metropop terbitan Gramedia ini membuka mataku terhadap kehidupan orang dewasa yang mungkin memang itulah yang seharusnya orang dewasa jalani: penat karena pekerjaan dan pasang surut kehidupan cinta yang ternyata bisa membutakan siapa saja yang tenggelam di dalamnya.

Dan kesimpulan yang dapat kuambil setelah membaca novel ini adalah life is all about drama. Diri sendiri yang jadi artisnya dan menjalani peran, orang-orang sekitar yang menonton dan mengomentari, dan Tuhan produser sekaligus sutradaranya.

Weird? If yes then, sorry. ._.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar