Kamis, 30 Januari 2014

Review: 17 Years of Love Song by Orizuka

17 Years of Love Song
Penulis: Orizuka
Penerbit: Puspa Storia, Grup Puspa Swara, Anggota Ikapi
Cetakan I: Jakarta, 2008
Tebal: 206 halaman
ISBN: 978-979-1481-82-3
Blurp:
Nana, saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu berada di sampingmu. Menemani sepimu. Menghapus air matamu. Menjadi kekuatanmu. Aku ingin menjagamu. Aku ingin kau hanya menyusahkanku dan bergantung padaku. 
Begitulah Leo, penyuka baseball yang pendiam, berkata dalam hatinya. Nana, gadis berkursi roda yang ia temui di sebuah padang ilalang indah di belakang sekolahnya, telah membuat dirinya berubah. Dari anak kota, yang meremehkan kondisi kampung yang ia tinggali, Leo justru menemukan segalanya di sana. Persahabatan, tanggung jawab, sampai cinta. Namun, saat-saat indah itu hanya sekejap. Musibah yang datang bertubi-tubi memisahkan Leo dengan penyemangat hidupnya, Nana. Lima tahun Leo sibuk menyelusuri jejak gadis itu tanpa lelah. Saat bertemu kembali, Leo sadar bahwa semuanya sudah berubah. Apalagi, Leo kini sudah punya idaman lain bernama Raras. Berhasilkah Leo dan Nana merajut kembali kenangan-kenangan yang indah seperti dulu? Atau seseorang harus ada yang kalah?

KAAAK ORI AKHIRNYA AKU DAPET NOVEL INI JUGA! *tunjuk-tunjuk buku 17 Years of Love Song di udara*

*matiin mic*

Sebenernya, udah pernah beli Summer Breeze sebelum ini terbit. Tapi berhubung zaman SMP dulu aku lumayan kudet (kurang update), jadilah buku ini baru dibeli dan dibaca enam tahun setelah terbit perdananya.

*nangis di pojokan*

Buku ini kudapatkan dari salah satu teman penulis di Facebook yang sedang menjual koleksi buku lamanya. Setelah membaca Audy4R, aku langsung mampir ke website-nya Orizuka dan melihat-lihat buku apa saja yang belum aku baca. Dan rupanya masih banyak sekali yang tertinggal. *cek dompet*

Membaca novel ini, aku merasa kalau aku membaca di waktu yang salah. Novel ini hanya membuatku nyesek tanpa menangis. Harusnya aku baca ini saat zaman SMP-ku dulu. Pasti menangis tersedu-sedu.

Leo, anak ibukota. Karena perceraian kedua orangtuanya, akhirnya ia memutuskan untuk memilih tinggal bersama sang ibu, Asti, ke Purwakarta. Mereka berdua tinggal di pedesaan. Leo yang terbiasa naik mobil atau motor ke sekolah, sekarang harus merelakan betisnya untuk merasakan nyeri berlebih karena harus mengayuh sepedanya sepanjang lima kilometer plus tanjakan untuk mencapai sekolah barunya.

Leo tampak lesu, tidak ada semangat sama sekali untuk ke sekolah. Cowok yang satu ini nggak suka keramaian. Dan dia merasa bete karena dia populer (oke, fine). Dan dia makin bete karena di sekolah barunya itu tidak ada ekskul baseball.

Leo sangat menyukai baseball karena sang ayah, Yanto. Yanto yang membuatnya tergila-gila akan baseball semenjak pulang dari Amerika untuk menonton tim favoritnya, dan mendapatkan bola hasil homerun tepat di pangkuannya.

Bola yang menjadi harta karun tersendiri bagi Leo.

Ia hampir mati bosan di sekolah. Sampai akhirnya ia menemukan padang ilalang di belakang sekolah dan penghuni setianya, Nana. Si gadis berkursi roda.

Yang mengubah tujuan hidupnya.

Konflik yang remaja banget ini membuat aku benar-benar menyesal karena aku terlambat enam tahun. Feel yang kurasakan nanggung karena aku sudah banyak diracuni novel-novel yang konfliknya kompleks. Banyak adegan-adegan yang kurasa kurang penting dan nanggung (lagi). Dan, ya, how to say this, novel ini memang memenuhi keinginan remaja-remaja tanggung, yang pada dasarnya memang suka kisah cinta yang ngenes.

Kak Ori selalu memulai novelnya dengan sederhana, menceritakannya dengan sederhana dan mengakhirinya dengan mulus. Kualitas tulisannya memang nggak diragukan lagi, lah. Sangat disayangkan buat Penerbit Puspa Swara yang belum berniat mencetak ulang buku ini. Padahal di luar sana banyak banget Readerizuka yang masih hunting 17 Years of Love Song ini. Termasuk aku yang akhirnya memutuskan untuk beli kolprinya.

Honestly, kalau aku baca novel ini enam tahun yang lalu, rating Goodreads mungkin bisa kuisi penuh lima bintang. Berhubung telat enam tahun, jadilah hanya tiga dari lima bintang saja yang kuisi.

Ah, by the way, Kak Ori nerbitin buku barunya lagi, ya? *lirik dompet yang menggelepar*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar