Selasa, 04 Februari 2014

Review: Runaway Days by Nalaa

Runaway Days
Penulis Nalaa
Penerbit: Bentang Belia, lini Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-9397-25-3
Cetakan I: Mei, 2012
Tebal: 158 halaman
Blurp:

 Hidup Rara berubah dalam waktu kurang dari 24 jam! Karena suatu alasan, ia nekat kabur dari rumah. Di jalan, ia bertemu dengan cowok sebayanya yang sok cool, tengil, dan entah kenapa selalu muncul di hadapan Rara.

Akhirnya, Rara sepakat untuk pergi bersama si cowok tengil yang enggal ia kenal. Tak disangka, di perjalanan, Rara menemui banyak kejadian seru, seram dan enggak terlupakan. Mulai dari dikejar bonek, ketangkap Satpol PP, sampai baku hantam melawan preman.

Sebenarnya, apa masalah Rara sampai kabur dari rumah? Mau ke mana Rara? Dan, gimana akhir perjalanannya dengan si cowok tengil ini?

Tekanan skripsi dari berbagai arah memaksa egoisme dalam diri ini untuk menyelesaikan novel ini sebagai pengalihan (mau bilang males aja susah banget, yak!).

Sesuai judul, si tokoh utama, Adelia Ferara, mengalami masa surut dalam hidupnya, yang menjadikan cewek itu mengambil keputusan secara cepat: kabur dari rumah!

Dasar memang lagi apes, dalam jarak yang tidak sampai berkilo-kilo dari rumahnya, Rara harus kehilangan tasnya di halte busway Jogja karena dia berusaha menyelamatkan dompet seseorang yang mengobrol dengannya di halte itu tersebut.

Rara hampir saja menyerah untuk tidak meneruskan pelarian, sampai akhirnya cowok itu menawarkan diri untuk menemani Rara sampai Bali, ke tempat tujuannya. Terlanjur kesal dengan sesuatu yang mengubah hidupnya di rumah, ia merasa malas untuk kembali, dan menerima tawaran cowok tengil nan sok cool itu.


Novel ini ringan. Bahasanya ramah tapi tetap ada diksinya. Menjadikan kalimat-kalimat dalam buku ini tetap enak dibaca. Cenderung meledak-ledak dan cukup membuat tertawa karena kekonyolan yang diselipkan.

Masalah sampul, Bentang nggak perlu diragukan lagi kualitasnya. Begitupun dengan layout. Apik! Warna pastelnya adem. Tata letak dan hiasannya tepat.

Ada beberapa adegan yang kurasa tidak perlu atau terkesan seperti ditambah-tambahkan. Tapi semuanya tertutupi karena dibiarkan mengalir saja dengan konflik utamanya.

Nice books!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar