Senin, 17 Maret 2014

Review Unfriend You - Dyah Rinni

Unfriend You
Penulis: Dyah Rinni
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 278 halaman
Cetakan 1: 2013
ISBN(13): 978-979-780-648-4
Blurp:

Aku adalah noda untuk dosa yang tak kulakkukan.
Aku mencoba bertahan, berusaha mengerti; mungkin ada bagian dari dirimu yang tak bisa kuraih. Namun, yang tak kunjung kupahami, mengapa ada persahabatan yang menyakiti?

This novel is a part of Gagas Debut. Dan bisa dibilang ini adalah novel favorit kedua setelah After Rain-nya Mbak Anggun. Bercerita tentang kehidupan anak SMA, eits, tapi nggak hanya sebatas cecintaannya anak SMA yang sarat akan cinta monyet, kok. Novel ini membawa kita ke sisi dunia anak SMA yang lain: bullying.

Diceritakan Katrissa, yang awalnya bersyukur, karena ia bisa menjadi sahabat dari kaum angsa di Eglatine High, Aura dan Milani. Karena awalnya, Katrissa adalah bagian dari kaum itik buruk rupa. Katrissa, yang (terpaksa) hobi pindah sekolah karena pekerjaan ayahnya, harus mengalami yang namanya kesulitan untuk berteman. Dia tidak pernah benar-benar memiliki teman dekat. Sampai akhirnya, Aura, bagian dari kaum angsa Egan (sebutan Eglantine High), memuji paper craft buatannya. Katrissa merasa sangat dihargai saat itu.

Dan akhirnya, waktu lambat laun memutarbalikkan pendapat Katrissa.

Egan sarat akan bullying. Pojok derita adalah saksi bisu keburukkan sekolah elit tersebut. Entah itu kakak kelas yang gila akan penghormatan dari adik kelasnya, atau masalah kecil yang dibesar-besarkan: merebut kekasih orang lain. Tidak tanggung-tanggung, korbannya benar-benar dipojokkan sampai mereka harus benar-benar merasa putus asa, hingga melakukan percobaan bunuh diri.

Novel ini, wajib ada di perpustakaan sekolah menengah, sebagai pelajaran dan paling tidak, membuka mata para oknum siswa yang masih menerapkan hal ini. Pihak sekolah sebenarnya tidak akan pernah tahu jika tidak ada yang mengadu. Tetapi, aduan tersebut pun masih dikambinghitamkan oleh oknum penggencet sebagai pengecut. Serba salah.

Novel ini padat akan informasi psikologis. Masalah-masalah yang dipaparkan memang cukup membuka mata mengenai penyebab-penyebab adanya permasalahan seputar perpeloncoan di kalangan siswa. Ya, walaupun sebenarnya, semua orang tahu bahwa sekolah tidak akan benar-benar aman dan tentram. Aku pun dulu pernah melihat hal seperti ini, and I was the victim myself, walaupun tidak sampai ke fisik.

Kekurangannya, beberapa bagian dari novel ini ada yang tanggung. Konflik percintaannya dibiarkan menggantung di satu orang itu. Duh, padahal menuju ending, aku cukup harap-harap cemas penulis akan memberikan penyelesaian. Ya, walaupun akhirnya juga nggak jadi sama cowok itu, aku berharap cowok itu diberi ruang untuk selesai. Karena di pertengahan, perhatian-perhatian cowok itu seperti diluncurkan pada tokoh utama. ('itu' disamarkan. Takut spoiler :p)

Masih nemu beberapa typo juga. But finally, aku menutup buku ini dengan senyum puas.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar