Rabu, 07 Mei 2014

The One Who Stop The Time



"And I believe, that in my life, I will see an end of hopelessness, or giving up, or suffering..."


Dokter menepuk bahu keduanya. Menguatkan.

Sebisa mungkin ia mengalirkan energi positifnya pada dua orang yang tampak terpukul, terluka.

Waktunya hampir mencapai batas.

"Oh...?"

Ia membuka mata yang sendu itu perlahan. Matanya bertumbukkan denganku.

"Kau...sudah...datang?"

Aku mengangguk. "Menagih janji," ucapku.

Kini ia berpaling menengadah langit-langit kamar inapnya. "Benar-benar...tidak bisa?"

Aku menggeleng lemah. "Maaf."

"...aku, sudah berusaha, kan?"

"Ya." Aku mengangguk.

"Tolong...sampaikan...maafku..."

"Pasti," ujarku cepat.

Hembusan napas berat kini terdengar beriringan dengan bunyi bip panjang nan dingin.

"Kamu sudah berusaha melawannya. Perjuanganmu sudah cukup sampai di sini," bisikku sambil membelai rambutnya lembut.

Ini yang terbaik.

Waktunya sudah seharusnya berhenti.

Dan hanya hembusan angin yang menggoyangkan tirai jendela yang kutinggalkan setelah menyelesaikan pekerjaanku, bersamaan dengan lipatan kertas berisi permintaan maaf.


*) Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar