Minggu, 01 Juni 2014

Review: Dear Friend With Love by Nurilla Iryani

Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani (@nyiell)
Penerbit: Stiletto Book (@Stiletto_Book)
ISBN: 9786027572072
Cetakan I, Oktober 2012
Tebal: 146 halaman
Blurp:

Karin
Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat kamu jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Rama
Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!

Ceritanyaaa, bisa ditebak dari judulnya lah, ya. Eits! Tapi jangan langsung misuh-misuh nggak jelas begitu baca judulnya yang begitu menggambarkan isi bukunya. Isi bukunya memang tergambarkan seperti yang diceritakan oleh judul, tapi proses pemaparan ceritanya yang nggak biasa!

Karin betah ngejomblo delapan tahun cuma demi cumi goreng nggak tahu diri bernama Rama. Karena apa? Karena bagi Rama, Karin is his forever bestfriend dan nggak lebih. Bertahun-tahun jadi 'tempat sampah'-nya Rama, jadi 'gadis sewaan' Rama ketika cowok itu jomblo dan undangan kondangan bertebaran, kurang ngek apa lagi kehidupan percintaan Karin ini? Dan kurang peka apa lagi si Rama udah nganggurin Karin bertahun-tahun? Mungkin telinganya si Rama belum pernah dibersihin. *skip*

Kehidupan Karin dan Rama digambarkan secara menggebu-gebu oleh penulisnya. Alhasil, walaupun novel ini termasuk jenis yang easy-going, bacanya tetep ngos-ngosan juga. Emosi penulis terhadap dua kehidupan tokoh di novel ini berasa naik turunnya. Yang satu mirisnya kebangetan, di kala yang lainnya ngeselin minta diinjek.

Sempet nemu beberapa typo di dalam dan di luar isi buku. Dari sampulnya, aku sempat mengira kalau buku ini bakal menceritakan kisah cinta SMA yang menye-menye. Ternyata jatuh cinta dengan sahabat sendiri bisa enak juga kalau dibawa ke young adult. Lebih banyak feel yang bisa dirasain.

Ending-nya cukup tidak terduga. Menurutku sedikit terlalu cepat karena cerita harusnya masih bisa dilanjutkan. Tapi mungkin memang keinginan dari penulisnya sendiri untuk membuat pembacanya menerka-nerka apa yang terjadi berikutnya. But it's still too far from the true ending, menurutku. Berharap ada sekuelnya, lah. Entah dalam buku atau dalam statement. Berasa nggak puas banget diakhiri gitu aja. Hiks!

Rating: 3/5


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar