Senin, 02 Juni 2014

Review: The Devil In Black Jeans by aliaZalea

The Devil In Black Jeans
Penulis: aliaZalea
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792291889
Tebal: 352 halaman
Cetakan Kedua: Februari 2013
Blurp:

Dara betul-betul mencintai pekerjaannya sebagai personal assistant para artis, sampai dia bekerja untuk Blu, penyanyi opera Indonesia berumur lima belas tahun. Masalahnya bukan pada Blu, tapi kakaknya, yaitu Johan Brawijaya, drummer paling ganteng se-Indonesia yang superprotektif kepada adiknya dan membuat Dara ingin mencekiknya setiap kali bertemu.
Sebagai drummer kawakan Indonesia dengan wajah di atas rata-rata dan masih single, Jo mencintai kebebasannya untuk melakukan apa saja yang dia mau. Kebebasan ini punah dengan kedatangan adiknya di rumahnya. Seakan itu belum cukup menyebalkan, berbentuk Dara, muncul dan mulai mengatur hidupnya.
Satu-satunya hal yang membuat mereka berdua bisa saling bertoleransi adalah karena Blu. Atau itulah yang mereka pikir hingga ciuman itu terjadi. Satu ciuman yang membuat keduanya berpikir dua kali tentang perasaan mereka terhadap satu sama lain

Baru pertama kali menyentuh karyanya aliaZalea dan langsung suka! Dimulai dari a super devil drummer who turns out being sister-complex sampai ke personal-assistant-complex. Udah cukup ketebak sebenarnya bagaimana ujung dari kisah orang yang ada di sampul ini. Tapi konfliknya itu, lho, nendang!

Diceritakan Johan Brawijaya, yang maunya dipanggil Jo, nggak pakai Han. Menurutnya Johan itu nama jadul yang nggak pantas buat orang se-modern dia. Drummer paling ganteng se-Indonesia ini ternyata nggak diperhatikan secara baik oleh ayah kandungnya. Ibu kandung sudah meninggal. Ayahnya pada akhirnya memiliki Poppy, yang usianya hanya terpaut 10 tahun dengan Jo, sebagai istri ke-3 sekaligus istri terakhir sebelum akhirnya sang ayah meninggal. Warisan satu-satunya yang dititipkan pada Jo adalah menjaga Blu, adik perempuannya, anak dari Poppy.

Buah tak jatuh dari pohonnya, Blu berkarir juga di dunia seni sebagai penyanyi opera di Megix Records & Artist Management (MRAM), manajemen yang sama dengan Jo. Poppy yang selama sembilan bulan harus kursus memasak di Paris itu menjadikan kebebasan Jo terenggut. Rumahnya kini dipenuhi manusia-manusia yang selama ini tidak ada di sana.

Dan selama Poppy tidak ada, penyakit sister-complex Jo perlahan menguat. Jo melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kepengurusan Blu: mengantar jemput sekolah, ke MRAM untuk latihan vokal, sampai ke hal berbelanja keperluan wanita yang mau tak mau membuat Jo bergidik. Sampai akhirnya ia benar-benar menyadari bahwa ia perlu personal assistant untuk mengurus Blu.

Dara adalah personal-assisstant yang cukup mumpuni. Namun ternyata kemampuannya itu tidak dihargai oleh tunangannya, Panji, yang sudah terdoktrin bahwa calon istri yang baik itu adalah istri yang menuruti semua perkataan suaminya. Diiming-imingi gaji besar karena kebutuhan pernikahan mereka yang beberapa bulan lagi terlaksana dan untuk tabungan di kehidupan setelah menikah, akhirnya Panji mengizinkannya menjadi PA Blu. Dengan beberapa larangan yang pada akhirnya terlalu susah untuk dipatuhi oleh Dara.

Konfliknya padat. Banget! Selesai konflik pertama, ada lagi konflik lainnya yang memang berkesinambungan. Terasa banget greget-nya. Kurang suka dengan ending-nya yang biasa aja, yang menurutku seharusnya cukup disudahi di bagian-bagian sebelum menyentuh ending  yang sudah tertulis di buku ini. Tapi mungkin penulis bermaksud untuk tidak meninggalkan kepingan cerita apapun yang belum terselesaikan, walaupun sebenarnya yang dibahas di ending menurutku sudah cukup teredam dengan konflik naik turunnya Jo dan Dara.

Gotta read the other books!

Rating: 4/5


Moral message: Do what you want as long as you happy!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar