Tampilkan postingan dengan label #FF100Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FF100Kata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2013

Bukan Tipeku

"Gimana?"

Yang melempar pertanyaan memainkan alisnya, membuatnya naik turun menggoda, kepada calon penjawab pertanyaannya.

"Terserah Papa aja, lah," ujarku malas.

Aku menyodorkan kembali foto yang sempat berada di tanganku dan kembali memperhatikan game di ponsel.

"Terserah melulu. Papa butuh kepastian, Ga. Tahu sendiri kalau Papa udah tua. Nanti engga ada yang mau lagi sama Papa."

Papa membesarkanku sebagai single parent. Mama meninggalkan kami dulu sekali, tak pernah kembali.

Aku menghela napas mendengar desakannya.

"Pa, orang ini bukan tipeku. Dan bukan tipe lelaku normal mana pun yang sedang mencari pasangan."

Aku mengerti kenapa Mama pergi.

"Kamu engga seneng sama Om Surya?"



A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan teman #Absurditas

Rabu, 20 November 2013

Tak Terlawan

"Menuh-menuhin daerah saya aja. Engga menghasilkan!"

Pria berumur tiga puluhan itu kini mengisap rokoknya kesal. Dihembuskannya kasar ke arah seseorang di hadapannya yang tampak takut.

"Ta-tapi, Pak – "

Yang disela pun marah. Matanya mendelik. Lubang hidungnya kembang kempis.

"Racuni semua. Saya engga peduli! Atau kamu saya pecat!"

Yang dihardik menunduk takut-takut, terpaksa patuh. Dibalikkannya badan setelah mundur tiga langkah.

Sesampainya di luar, ia menatap racun yang teronggok.

Kenangan bersama mereka berkelebat dalam memorinya. Sempat membuatnya ragu.

Namun titah ketua adalah mutlak.

Besoknya, ia hanya menatap lapangan rumput yang menjadi tempat bermain bersama teman-temannya itu mengering, dengan tulisan 'Proyek Pembangunan Mall'.


A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Genosida.

Selasa, 19 November 2013

Another Writing Virus to be Inspired For.

So, I've been following Kak Sindy & Kak Anastasye's writing project called #FF100Kata selama dua minggu (7-21 November 2013). Awalnya berniat untuk nantangin diri sendiri, karena selama ini susah banget konsisten sama yang namanya nulis, naskah yang niatnya mau dikirim pun terbengkalai tak bernyawa dalam folder.

Tapi!

Setelah 'memaksakan' diri untuk terus ikut sampai hari terakhir ini, pintu hati(?) sedikit terbuka: "Ternyata bisa juga konsisten".

Aku dipercaya teman virtual di Facebook untuk mengasuh sebuah grup menulis, di bawah naungan fanpage yang sudah sangat terkenal di dunia fiksi fans khusus boyband Super Junior (link). Mereka membuat sub-page dengan nama SJFF Academy yang visinya adalah untuk menyebarkan virus menulis dan menampung para author per-fanfiksi-an untuk menimba ilmu di sana.

The Ho(s)ttest

Tempat ini selalu penuh.

Ramai, tak pernah jemu dari kata menyesakkan.

Rino baru saja menapakkan kakinya di bagian terluar tempat itu, namun begitu banyak jumlah orang yang tengah sekadar mengantri untuk melewati pintu.

Ia hanya mendengar beberapa ocehan saja, tapi minatnya sudah sangat tertarik. Sependengarannya, salah satu tuan rumah yang akan menyambut di depan pintu luar biasa panas.

Manusia dalam antrian terus menghilang di balik pintu.

Giliran Rino. Ia meneguk ludah. Keseksian bidadari merah di hadapannya membelenggu hasrat.

Diulurkannya lengan mulus itu melingkari bahu Rino.

Suara napas menaikkan bulu roma. Desahan halus memasukki telinga Rino.

"Siap masuk neraka?"


A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata hari ketigabelas.

Minggu, 17 November 2013

Apapun Cantik Di Kamu

Taken from here.


"Kalau yang ini"

"Cantik kok, Sayang."

Wanita di hadapanku kembali membongkar display pakaian itu gusar. Mungkin karena label diskon lima puluh persen yang tersemat.

"Kalau ini?"

"Cantik."

Dia menggeleng, tampak merasa tidak puas. Lalu tangannya cekatan membuka lipatan-lipatan baju yang menumpuk. Warna merah muda, ungu, cokelat tua, krem, hijau muda, motif bunga, motif pita kecil-kecil dan motif-motif lainnya.

"Kalau yang ini?" Kali ini dia melayangkan padaku yang bewarna merah muda, dengan akses pita di bagian dada.

"Cantik kok, Ma," jawabku jujur.

"Satu aja sih, Pa!"

Aku menatap penghuni baby walker yang sedang terlelap. "Buat Asha, baju apa aja cantik, Ma."


A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #MataLelaki

Sabtu, 16 November 2013

Janji

Taken from here.

Shift-ku di penitipan anak berakhir. Aku menuju ke ruang loker dan mengunci pintunya.

Kusematkan kunci dan loker terbuka. Kulepas seragam kerja yang sedari pagi menempel di tubuh, menyisakan boxer.

"Lho, Rie-chan, belum pulang?" tanyaku kaget ketika menemukan Rie yang kini meringkuk dalam lokerku. "Mau main petak umpet sama onni-chan?" lanjutku.

Bocah itu menggeleng. Bosan, kah?

"Ah, tapi tadi kita sudah janji mau main dokter-dokteran, kan?" sahutku sembari mengingat janjiku padanya siang tadi. "Sekarang saja, yuk!"

Kuturunkan boxer yang menyesakkan. Rie-chan seperti melonjak kesenangan dalam ikatan tali di tangan dan kakinya itu.

Matanya bengkak.

Mungkin menangis bahagia karena bisa bermain denganku?


A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- -chan merupakan panggilan sayang atau antar orang yang sudah kenal dekat.
- onni-chan: Kakak laki-laki
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Parafilia

Jumat, 15 November 2013

All My Love Is For You

Taken from here.


"Bagaimana, ya, cara agar dia tahu kalau perasaan ini benar-benar nyata untuknya?"

Nina menatap gadis di hadapannya, tampak kebingungan. Keringat dingin perlahan muncul di wajahnya.

"Apa aku harus pakai cara seperti yang kau pernah ceritakan itu?"

"Nina – "

"...dia, pasti melihatku, kan? Kalau aku melakukan sesuatu yang menarik perhatiannya?"

"T-tapi, Nin – "

Nina melangkah menuju meja belajarnya, mengambil sesuatu yang beada dalam gelas berisi kumpulan alat tulisnya.

"Nin, serius?" tanya gadis itu lagi.

Tak lama, di akun Nina kini terdapat foto lengan kiri yang bertuliskan nama idolanya, disertai dengan username Twitter idola tersebut ditambah gambar hati.

Dengan garis-garis bewarna darah.



A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki ini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Obsesi.


Kamis, 14 November 2013

Trendsetter

Taken from here.

Aku tahu, sejak hari 'itu' dia sudah memperingatkanku bahwa aku akan terkenal. Sinar flash akan menyinariku dari berbagai sudut dan orang-orang akan ramai membicarakanku.

Karena tato baruku.

Dan benar saja, begitu aku keluar dari tempat ternyamanku, sinar flash menyerangku bergantian. Silau, memang. Tapi aku harus terbiasa. Ya, karena ini langkah awalku untuk bisa menjadi trendsetter.

Orang-orang di hadapanku kini mulai banyak melontarkan pertanyaan lewat Jane, orang yang sangat kupercaya dan menyayangiku. Dan karena nasihatnya itulah aku bisa melangkah seperti sekarang ini.

Seseorang mengarahkan ponselnya padaku, ke tubuh, dan memotret tato yang dicat di sana.

Yang kalau tidak salah bernama QR Code.


A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Artikel mengenai sapi dengan QR Code bisa diakses di sini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Tato.

Rabu, 13 November 2013

Kritis

Taken from here.

"Lo bisa buta, Vi."

Vivi memijat keningnya sejenak. Ria, sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter itu telah menjatuhkan vonis padanya.

Vivi kalut.

Kedua tangan Ria kini sudah berada di bahu Vivi.

"Ayolah, Vi. Jangan menyerah, oke?" ucap Ria tulus.

"Kenapa lo engga bantu gue dari sekarang kalau gitu, Ria? Lo tahu gue kritis tapi lo cuma ngomong doang!" cecar Vivi ketus. Ia sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan apa yang ia alami sekarang.

"Heh! Gue ini lagi bantuin lo, bangke! Biar elo engga kena virus shopaholic sampe tagihan kartu kredit lo bengkak kayak sekarang!" cecar Ria sebal pada sahabatnya.



A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Virus

Selasa, 12 November 2013

(Almost) Last Role

Taken from here.

"Udah siap?" tanya Mika pada laki-laki yang kini mengenakan setelan kemeja dan celana dasar. Laki-laki itu masih mematut dirinya di cermin.

"Bentar, deh," ujar laki-laki itu dengan suara seraknya. Kancing kemejanya belum dipasangkan sepenuhnya.

"Lama, deh. Nanti telat lho, Pa," rengek Mika.

"Yakin mau bareng Papa? Bukannya lebih baik Mama yang nemenin? Selama ini yang nemenin belanja juga Mama, kan?" tanya beliau.

"Mika maunya sama Papa." Mama Mika tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"Papa gampang capek, Ma," keluh Papa Mika.

"Ngeles-nya engga mempan! Papa itu kan guru olahraga! Bilang aja engga rela mau nemenin Mika milih wedding dress-nya di butik."



A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #Ayah

Senin, 11 November 2013

Precious

My Heart Is Yours by Jenniolma on Deviantart

Ini, perasaan apa, ya?

Entahlah. Aku tidak mengerti. Seluruh tubuhku rasanya remuk redam. Namun ada bagian tertentu yang merasakan betapa lega dan bahagianya aku sekarang. Rasa sakit itu perlahan sirna begitu aku mendapati rupanya.

Kuusap perlahan kulitnya.

Sedikit kubuka yang sempat menutupi wajahnya. Ingin sekali memasatinya dari dekat.

Kugerakkan tanganku perlahan, berharap tak menyakitinya.

Kusingkirkan peluh yang membasahi dahiku kini dengan bahu tangan.

Ini, anakku, kan?

Iya, kan?

Sedikit tidak percaya, aku lagi-lagi memasatinya. Intens. Walaupun sebelumnya sudah kuperiksakan berkali-kali, memastikan tidak ada kesalahan, aku tetap melakukannya.

"Anakku, akhirnya kamu lahir juga, Nak," ucapku pada skripsi yang kini dilapisi hardcover.




A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #Bayi

Minggu, 10 November 2013

Terbius Sakura

Taman Ueno ketika musim bunga sakura. Diambil dari sini.

Aku sedikit menggebu ketika tahu bahwa sebentar lagi aku akan menemui apa yang kuidam-idamkan selama ini.

Terserah bila aku tampak aneh. Yang kutahu orang yang menganggapku demikian belum mengerti bagaimana rasanya terbius karena sihir yang bernama mimpi.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.

Akhirnya!

Bunga sakura!

Pilihanku tidak salah. Taman Ueno di samping stasiun pusat Tokyo ini memang tempat terindah untuk pemandangan hanami-nya!

Aku menata letak tripod kameraku, menyetelnya ke moda self-timer, dan bergegas menuju ke depan kamera.

Satu, dua, tiga!

Pandanganku sempat buram karena flash yang terpancar.

Setelah mengerjapkan mataku sejenak, aku mendapati hujan kelopak bunga sakura pada poster di langit-langit kamarku.

A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Hanami adalah budaya orang Jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura, biasanya dilakukan dengan melakukan piknik di bawah deretan pohon sakura.
- Artikel mengenai kegiatan hanami di Taman Ueno, Tokyo bisa diakses di Japan Guide.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Sihir.

Sabtu, 09 November 2013

Backstage Dilemma

Taken from here.

Gugup itu lumrah.

Setiap penampilan di depan banyak orang tidak akan pernah mudah.

Sejumlah pasang mata yang terpaku padamu.

Bibir yang siap berucap menghujatmu ketika kau melakukan kesalahan.

Penghasil cahaya mengejutkan yang membutakan matamu sesaat.

Apalagi ketika tidak ada yang menepuk pundakmu sebelum kau melangkah ke panggung itu.

"Masuklah," ujar petugas itu dingin. Sama dinginnya dengan udara pagi hari yang diiringi hujan.

Bertemankan selimut tipis.

Aku pun melangkah sesuai perintah, menuju singgasana sementaraku di tengah-tengah sana.

Semuanya yang tengah duduk kini menatapku tajam. Kubiarkan mata ini tetap mengarah ke depan. Tak peduli.

Dan perintah penampilanku pun dikumandangkan.

"Terdakwa dipersilakan berdiri."

A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Panggung

Jumat, 08 November 2013

Perenggut Langkah

Taken from here.
Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini.

"Sudahlah. Semua sudah terjadi."

Aku masih menatap jendela yang terbuka itu benci.

Padahal sahabatku masih punya mimpi: menjadi ksatria tangguh pelindung tertinggi.

Kenapa dia harus mengalami nasib seperti ini?

Kini kami undur diri. Korban meningkat dalam jumlah besar karena terperangkap zona nyaman kami sendiri: ketidakpedulian pemilik istana lama. Dan akan semakin besar jika kami tidak mengatur strategi.

"Senjata apa itu?"

Aku menggeleng lemah, makin miris setelah mengingat sahabatku yang sudah kehilangan kakinya.

Karena bubuk cokelat pekat itu.

"Ampas kopi ini ampuh sekali untuk mengusir semut, ya?" ujar pemilik istana baru pada seseorang di hadapannya.


A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Artikel mengenai penggunaan ampas kopi sebagai pengusir semut bisa dilihat di sini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata, dengan tema: #AmpasKopi

Kamis, 07 November 2013

Pilihan


Taken from here.

“Ini cantik.”

“Lumayan.”

“Ini boleh juga.”

“Tua banget.”

“Selera lu ketinggian. “

“Bukan gitu. Kalau sekali pake langsung K.O, ngapain? Enakan cari yang lain. Yang lebih seger. Lebih enak dilihat. Terlalu menor buat ilfeel juga, kali.”

Keduanya menatap album foto dengan deretan gambar wanita yang memasang berbagai macam pose. Dari yang malu-malu hingga menantang.

Pemilik kafe remang-remang itu kini menghampiri mereka yang masih sibuk berdebat mengenai pilihan yang cocok.

“Belum juga fix?”

Keduanya mengangguk. “Iya, Tante. Cantik-cantik semua. Jadi bingung.”

Pemilik kafe menunjukkan satu gambar, “Ini oke, lho.”


Tampak menimbang, salah satunya mengangguk. “Oke deh. Aku perawanin dulu dress-nya, Tante.”

A/N: 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki ini.
Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema hari kedua: #Perawan.

Mereka, Yang Sempat Dipercaya

Taken from here.

Wanita yang berdiri di hadapan dinding yang memisahkan dua pintu itu kini menggoreskan seutas garis, seperti angka satu, di dalam catatannya.

“Aku butuh tambahan orang di sini,” ujar pesan singkat yang di kirim orang dari balik pintu sebelah kiri. Wanita itu masih sibuk menggariskan kolom sebelah kiri dengan garis-garis lainnya begitu antrian orang-orang ini menghilang satu per satu.

Sementara kolom sebelah kanan masih berjumlah sepuluh garis, namun antriannya hanya bersisa satu orang.

Wanita penggores kapur itu hanya mengangguk maklum. Menginterogasi kehidupan para manusia yang pernah hidup di dunia memang sangat memakan waktu.

Apalagi sesi interogasi mereka yang ber-title pejabat negara.

A/N: Diikutsertakan dalam #FF100Kata