Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juni 2014

Review & Blog Tour: Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Sun


K-Toon: Simple Thinking about Blood Type
Komikus: Park Dong Sun
Webtoon: Link
Penerbit: Penerbit Haru (@penerbitharu)
Penerjemah: Achie Linda
Cetakan Keempat, April 2014
Tebal: 262 halaman
ISBN: 9786027742253
Blurp:Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!
Annyeonghaseo! *mengenakan hanbok dan membungkuk a la orang Korea*


Review post kali ini adalah salah satu rangkaian blog tour dari komik Simple Thinking about Blood Type yang digagas oleh Penerbit Haru. Siap untuk mengenali golongan darahmu lebih dalam lagi?



Komik Simple Thinking about Blood Type adalah komik non-ilmiah yang menjelaskan karakter seseorang berdasarkan golongan darahnya. Pada awalnya, Simple Thinking about Blood Type ini adalah sebuah webtoon, yaitu komik yang ditayangkan di web. Penulis menggarisbawahi kata non-ilmiah, karena memang buku ini bukan buku ilmiah, dan Park Dong Sun sangat berharap cerita-cerita mengenai golongan darah ini tidak dipercayai begitu saja, melainkan hanya dibaca sebagai hiburan.

Rabu, 20 November 2013

No More Hiding, No More Jealousy

Since I was in kindergarten, Mama sering bercerita bahwa beliau sangat menyukai menari. Beliau tidak bilang kalau ia cukup handal dalam bidang ini, namun dari foto-fotonya saat zaman belia dulu, aku yakin beliau adalah penari yang hebat.

Buah tak jatuh dari pohonnya, aku pun mulai menggeluti seni tari. Dari TK, aku sudah memberanikan diri untuk ikut dalam grup tari yang dibina oleh guru seni. Dan hal yang lama-kelamaan ini menjadi hobi, terus berlanjut. Di bangku sekolah dasar, aku ikut aktif dalam ekstrakulikuler tari. Ibu Diah adalah pelatihku selama lima tahun aku menimba ilmu di salah satu sekolah dasar negeri di daerah Puspitek.

Menginjak SMP, aku berhenti. Bukannya aku menyerah. Bukan. Tapi memang tidak ada ekskul di SMP-ku saat itu yang bisa menaungi minatku. Beruntungnya, teman-teman komplek rumah masih ada yang satu minat, sehingga tak jarang kami turut meramaikan acara-acara yang diadakan oleh pengurus RT kami.

Waktu berlalu dan aku menginjakkan kaki di bangku SMA. Aku harus angkat kaki dari SMA di daerah Tangerang Selatan yang setahun kutempati karena urusan keluarga. Padahal ada begitu banyak cabang tarian yang bisa kuikuti.

Tapi Tuhan sepertinya memang tidak akan pernah benar-benar memisahkan dari dunia seni itu.

Senin, 21 Oktober 2013

5 Songs Challenge: Dusk 'till Dawn


Halo!

Apa itu 5 Songs Challenge?

Aku mengikuti salah satu sekolah kepenulisan online khusus penyuka Korean Pop (K-Pop) di Facebook. Salah satu tutor (atau seonsaengsim/ssaem - biasa kami menyebutnya) membuat posting mengenai 5 Songs Challenge (Nama keren: Songfic (Song Fiction)), yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai Tantangan 5 Lagu.

Ketentuannya adalah seperti ini:
1. Buka Windows Media Player atau aplikasi apapun pada PC/Laptop kamu dan taruh semua lagu yang ada di harddisk pada playlist-nya.
2. Buka Ms. Word, Chrome/Opera/Mozilla/Safari untuk persiapan browsing atau aplikasi Minilyric (opsional dariku, untuk membantu memahami lirik lagu yang tidak menggunakan bahasa Indonesia
3. Setting player kamu agar bisa memainkan lagu secara acak/shuffle.
4. Setelah lagu pertama dimainkan secara otomatis (untuk kasus Windows Media Player, biasanya aplikasi ini akan memainkan lagu yang berada di baris paling pertama), klik tombol next.
5. Setelah lagu terputar, dengarkan, dan gunakan judul lagu dan tuliskan nama penyanyinya di awal cerita. Buatlah flashfiction/drabble (tulisan pendek. Biasanya berukuran 100-200 kata) yang terinspirasi dari lagu yang didengarkan.
6. Tulis dengan spontan. Begitu kalian mendengarkan lagu, tuliskan apa yang menginspirasi dari lagu itu ke dalam flashfiction/drabble kalian.
7. Rules: Tidak boleh memilih lagu favorit. Tuliskan sesuai dengan judul lagu yang diputar secara acak oleh Windows Media Player kalian.

Dan begitu pula selanjutnya.

Menurut ssaem yang mengajar di KFFSchool, 5 Songs Challenge bisa diselesaikan dalam waktu satu jam.

But, 'cause I'm breaking the last rule - not really though (Aku memang melakukan shuffle, tapi aku tidak memilih lagu yang biasa aku dengarkan, melainkan memilih judul lagu yang how to say this - yang mana ketika aku mendengar dan membaca lirik lagu tersebut, aku lebih cepat mendapatkan inspirasi (Yeah, I know that this is complicated), aku menyelesaikan tantangan ini dalam waktu kurang lebih dua jam.

Dan, here we go. Berikut adalah flashfiction/drabble hasil dari not-so-shuffled playlist-ku:

1st song: What Means The Most by Colbie Caillat

“What means the most to me is waking up next to you, feel the morning breeze.”

                Manik matanya mulai mengerjap-ngerjap, membiasakan bola putih dengan hitam di tengah itu agar tidak terlalu sakit ketika menatap sinar dari balik jendela yang terendam tirai putih.
                Seperti biasa, ia akan selalu menggeser posisinya sedikit ke arah kanan ketika kesadaran sudah dimiliki sepenuhnya. Menatap mata yang selalu terbuka untuknya, senyum yang akan selalu mengembang untuknya.
                Hanya untuknya.
                “Selamat pagi, Jong In-a.”
                Sang pemilik nama diam, namun tetap dengan mata yang terbuka, menatapnya. Bibir yang merekah, melemparkan senyumnya.
                “Jong In-a, kau tidak pernah lelah tersenyum, ya?” tanya wanita itu, balas menatapnya.
                “Ha Na-ya, sarapan sudah omma siapkan. Jangan tidak makan, ya. Omma taruh di depan pintu,” seru suara dari balik pintu kamarnya.
                “Kau lapar?” tanya Ha Na pada Jong In, yang tetap tersenyum, hanya padanya.
                “Tidak? Baiklah. Hm, sepertinya pagi ini cerah. Mau ke balkon dan menikmati udara segar?”
                Ha Na kemudian melangkah ke arah jendela yang memisahkan kamar dan balkon, dan membukanya. Udara segar pun masuk, angin pagi yang menerpa wajahnya membuat rambutnya yang tergerai tampak menari.
               Ia kembali masuk ke kamarnya, dan mengambil sesuatu yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Sebuah pigura.
                “Jong In-a, bagaimana? Segar, tidak?”
                Ha Na menatap foto yang tersemat dalam pigura itu. Namun yang dimaksud hanya tersenyum menatapnya.
Senyum dan tatapan yang sudah lama dan akan terus membeku di sana.
“Orang aneh. Aku sedang bertanya, bodoh. Jangan senyum terus. Jawab pertanyaanku.”
Sisipan getaran terdengar dari kalimatnya. Ia menggenggam pigura itu erat, dalam tangis.

~ * ~
  
2nd Song: After Dark by Asian Kung-Fu Generation

                “If it was a dream we woke, but we have done nothing yet, advance!”

                “Jeongmal?”
                Se Hun mengangguk menggebu-gebu. “Lalu, setelah kita melewati gerbangnya, warna-warna pastel akan menyambutmu. Ukiran-ukirannya begitu unik. Cocok sekali untuk dijadikan latar belakang berfoto. Para burung merpati juga banyak yang bertengger di sana. Jika kau ingin dihampiri oleh mereka, kau bisa beli pakan burung yang dijual di sekitar air mancur. Atau jika kau membawa roti, kau bisa menyobeknya sedikit demi sedikit dan menaruhnya di atas tanganmu yang terbuka. Mereka akan berkumpul dengan sendirinya.”
                “Lalu?”
                “Pertamanya memang mengerikan ketika dihampiri belasan burung yang tiba-tiba menyerbumu, tetapi setelah mereka mendekat dan memakan remah-remah rotinya, rasanya senang saja. Sekaligus geli. Paruh mereka menggelitik,” ucap Se Hun panjang lebar, dan antusias.
                “Daaan, siapa lagi?”
                “Eh?”
                “Ya, Se Hunnie, kau pikir aku bodoh mau percaya pada ceritamu tentang kota Wina itu? Aku tanya sekarang, kau mendapatkan cerita dari siapa lagi?” bentak Lu Han telak.
                “Ng, dari trainee yang pernah ke sana,” jawab Se Hun takut-takut.
                Lu Han menepuk pundak Se Hun tegas. “Bangunlah. Mulailah melangkah untuk mencapai impianmu ke Eropa.”
 ~ * ~

3rd Song: Baby Baby by 4MEN

                “There’s not a thing that can stop me from looking at you.”
               
                “Blus favoritmu, ya?”
                “Tepat sekali.”
                “Kau mengenakan kalung juga?”
                “Tentu saja.”
                Suaranya begitu lembut terdengar masuk ke gendang telingaku. Getaran yang tak pernah dan tak akan pernah terlupakan.
                Aku memeluknya erat. Memaksa memori otakku untuk terus mengingat aroma ini. Manis, namun tenang. Tidak terlalu mencolok, namun memabukkan.
                “Kalau kau membeli baju baru, biarkan aku memelukmu seperti ini, ya?” rengekku manja. Tak apalah, sesekali.
                “Repot juga, ya,” kekehnya geli. “Baiklah, chagiya.”
                Ia mengecup keningku sekilas, membuatku merasakan desiran membahagiakan di sekujur tubuhku.
                “Bolehkah aku memandangmu?” tanyaku, lagi. Ah, entahlah. Aku pun heran mengapa aku begitu manja pagi menjelang siang ini.
                “Boleh,” ia mengizinkan. Kurasakan tangannya kini mengenggam tanganku dan membawanya ke arah wajahnya. Bisa kurasakan rahangnya, tulang pipinya. Kugerakkan sedikit tanganku sampai akhirnya bisa menyentuh hidungnya, bibirnya...
                “Kau, cantik.”
                “Gomawo, chagiya,” ucapnya lembut.
                Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk memandanginya. Ya, dia. Istriku.
                Meskipun mata ini sudah kehilangan cahayanya.

~ * ~

4th Song: The Last Song Ever by Secondhand Serenade

“I wish my life was this song. ‘cause songs they never die. I could write years and years, and never have to cry.”
               
                “Jong Dae-ya.”
                “Wae?”
                “Terpikir untuk menulis lagumu sendiri, tidak?”
                “Belum terpikir.”
                “Sampai kapan kau akan memikirkan itu?”
                “Entahlah.”
             “Beberapa puisiku sudah kau bawakan di pentas seni melalui musikalisasi, kadang juga kau bawakan sebagai lagu, dan kau nyanyikan sendiri. Teman-teman menilaimu luar biasa. Sudah saatnya kau melangkah, Jong Dae-ya.”
                “Aku...tidak mau. Lebih nyaman dengan puisi-puisimu,” ujar Jong Dae, dengan suara bergetar.
                “Tapi, aku sudah seperti ini, Jong Dae-ya,” sergah Sung Byul.
                Jong Dae tidak merespon. Sung Byul menghela napasnya berat.
                “Jika aku boleh meminta, aku ingin bereinkarnasi jadi lagumu saja, kalau begitu. Bagaimana?”
                Jong Dae menatap mata Byul yang kini berbinar. Kemudian ia menggerakkan tangannya, mencoba menyentuh pipi yang selalu ia rasakan kelembutannya.
                Nihil.
                Ia hanya menggenggam udara.
                Dan tatapan Sung Byul terlihat makin sedih setelahnya.

~ * ~

5th Song: Love In The Ice by DBSK

“Your cold hands, your trembling lips. You bear it as if nothing has happened.”

                Kali ini ia kembali dalam bayang gelapnya kota Seoul.
             Suara pintu terbuka terdengar, langkah heels-nya yang mengetuk lantai hanya berlangsung sebentar. Lalu berganti dengan suara gesekan sandal rumah di atas lantai kayu apartemennya yang tidak terlalu mewah.
                Ia menghampiriku. Lalu memelukku erat, sebentar. Sebisa mungkin kujalarkan kehangatan yang kumiliki agar ia tidak merasa kedinginan. Musim dingin kali ini terlalu dingin untuknya. Aku bisa merasakan itu.
                Dress mini, heels tinggi, jam kerja malam hingga dini hari.
                Orang-orang itu pastilah sudah menelan kehangatannya, lagi, malam ini.
                Ia lalu menyeduh kopi. Ia akan menuangkan bubuk kopi sebanyak dua sendok. Gula satu sendok, serta krim secukupnya. Lalu ia akan menguncang tekonya sebelum dituangkan, dan dinikmati perlahan.
                Kulihat tangannya sedikit bergetar. Pemanas ruangan sialan. Kenapa kau malah mendekati ajalmu di saat seperti ini?
Suhu ruangan tidak sehangat yang ia inginkan. Menjadikan bibirnya bergetar. Tangan yang begitu dingin. Kuku-kuku kaki yang kurasa akan terlihat bewarna pucat jika tidak ditutupi oleh kuteks merah mencolok itu.
Lagi, aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan. Dalam bisu.
Karena aku hanya sebuah sweater rajut abu tua, yang tergantung dekat pintu masuk.


~ * ~


Well, how do you think?