Tampilkan postingan dengan label Kampus Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2014

Cerpen: Day 1, Day 2, Day 3, Day of Regret

Credit to the owner.

Mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti rasa penyesalan setelah merasa kehilangan...

*

Day 1

Pintu terbuka.

Tak pernah sedetik apapun pandangan ini teralih. Debu tak turut menggoyahkan. Posisi ini sudah kekal, susah bergeser barang sederajat. 

Pemandangan monoton semalaman itu kini tak lagi sama.

Kamu melangkah maju. Langkah kakimu senada dengan degup jantung ini.

"Baiklah...."

Kini kamu menangkup diri ini erat.

"Mau kemana kita hari ini?"

Kemana saja, asal denganmu.

Kamu tersenyum, lalu membimbing tangan ini untuk dilingkarkan padamu.

Hangat.

Menyenangkan.

*

Senin, 24 Maret 2014

#FiksiLaguku - Aishiteru

Taken from here.

“Apa yang harus diucapkan ketika ingin mengungkapkan cinta dengan gadis Jepang?”

“Mau yang panjang, atau yang pendek?”

“Ah, yang singkat saja. Aku lemah dalam mengingat.”

“Jangan harap kau bisa mendapatkan hati mereka jika usahamu hanya segitu.”

“Kau kira aku akan benar-benar menyatakannya pada gadis Jepang? Ini untuk pelajaran Bahasa Jepang-ku di sekolah.”

...atau, sekiranya begitulah aku memasang tameng kata untuk berdalih. Memangnya, sejak kapan di sekolah ada pelajaran Bahasa Jepang?

“Kurasa ‘aishiteru’ sudah cukup.”

Begitulah jawabannya.

“Aishiteru,” ucapku saat itu, berbisik, padanya, gadis (penyuka) Jepang di hadapanku.

“Aishiteru.” Aku mengulangnya untuk yang kesekiankali untuk hari ini. Kali ini, tidak ada bisikkan. Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Dengan harapan, perasaan yang sudah terlambat ini tetap tersampaikan padanya.

Padanya, yang kini tertidur tenang di perut Bumi.


*) Diikutsertakan dalam #FiksiLaguku @KampusFiksi
**) Terinspirasi dari lagu Aishiteru - Monkey Manjik

Sabtu, 30 November 2013

The One That I'm Willing To Meet The Most

Taken from here.


Karena seseorang yang ingin selalu kutemui itu ya, kamu. Hanya kamu. Yang selalu berdiri di bawah rindangnya pohon besar yang aku tidak pernah tahu namanya hingga sekarang, walaupun sudah beberapa waktu lamanya aku tinggal di sini.

Hujan kadang menghalangiku untuk memandangi paras tampanmu dari sisi ini, di satu bilik khusus milikku. Kamarku, dengan jendela kecil yang buatku bisa mengakses pemandangan dirimu. Namun kini menuai jarak antara kita berdua.

Mungkin kamu tidak pernah melihatku, tapi, kedua manik mata ini selalu tertumbuk padamu, yang kini bagai menu sarapanku, makan siangku, makan malamku.

Aku, tak pernah tahu namamu. Dan tiada pentingnya buatmu juga untuk mengetahui namaku. Tak apa. Aku maklum. Tapi, kalau aku memanggilmu malaikat, tidak berlebihan, kan?

Seperti ini dayaku. Memandang rupamu dari kejauhan. Kadang sisi kanan wajahmu yang nampak. Tak jarang juga sisi kirimu yang sedang melihat ke arah yang tak bisa kulihat dari bilik ini. Tenang saja. Kau tetap tampan dengan keduanya. Tapi, aku tetap wajahmu secara keseluruhan.

Seperti sekarang ini, kau yang sedang menumbukkan pandangan padaku.

Kupikir kita satu. Ya, satu. Perlahan kita menjadi dua pribadi yang menurutku saling mengerti. Mungkin, karena sinyal yang berusaha kukirim terus menerus padamu? Hingga akhirnya kau bersedia mengalihkan pandanganmu ke sini?