Karena seseorang yang ingin selalu kutemui itu ya, kamu. Hanya kamu. Yang selalu berdiri di bawah rindangnya pohon besar yang aku tidak pernah tahu namanya hingga sekarang, walaupun sudah beberapa waktu lamanya aku tinggal di sini.
Hujan kadang menghalangiku untuk memandangi paras tampanmu dari sisi ini, di satu bilik khusus milikku. Kamarku, dengan jendela kecil yang buatku bisa mengakses pemandangan dirimu. Namun kini menuai jarak antara kita berdua.
Mungkin kamu tidak pernah melihatku, tapi, kedua manik mata ini selalu tertumbuk padamu, yang kini bagai menu sarapanku, makan siangku, makan malamku.
Aku, tak pernah tahu namamu. Dan tiada pentingnya buatmu juga untuk mengetahui namaku. Tak apa. Aku maklum. Tapi, kalau aku memanggilmu malaikat, tidak berlebihan, kan?
Seperti ini dayaku. Memandang rupamu dari kejauhan. Kadang sisi kanan wajahmu yang nampak. Tak jarang juga sisi kirimu yang sedang melihat ke arah yang tak bisa kulihat dari bilik ini. Tenang saja. Kau tetap tampan dengan keduanya. Tapi, aku tetap wajahmu secara keseluruhan.
Seperti sekarang ini, kau yang sedang menumbukkan pandangan padaku.
Kupikir kita satu. Ya, satu. Perlahan kita menjadi dua pribadi yang menurutku saling mengerti. Mungkin, karena sinyal yang berusaha kukirim terus menerus padamu? Hingga akhirnya kau bersedia mengalihkan pandanganmu ke sini?