Tampilkan postingan dengan label Nulisbuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nulisbuku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Mei 2014

The One Who Stop The Time



"And I believe, that in my life, I will see an end of hopelessness, or giving up, or suffering..."


Dokter menepuk bahu keduanya. Menguatkan.

Sebisa mungkin ia mengalirkan energi positifnya pada dua orang yang tampak terpukul, terluka.

Waktunya hampir mencapai batas.

"Oh...?"

Ia membuka mata yang sendu itu perlahan. Matanya bertumbukkan denganku.

"Kau...sudah...datang?"

Aku mengangguk. "Menagih janji," ucapku.

Kini ia berpaling menengadah langit-langit kamar inapnya. "Benar-benar...tidak bisa?"

Aku menggeleng lemah. "Maaf."

"...aku, sudah berusaha, kan?"

"Ya." Aku mengangguk.

"Tolong...sampaikan...maafku..."

"Pasti," ujarku cepat.

Hembusan napas berat kini terdengar beriringan dengan bunyi bip panjang nan dingin.

"Kamu sudah berusaha melawannya. Perjuanganmu sudah cukup sampai di sini," bisikku sambil membelai rambutnya lembut.

Ini yang terbaik.

Waktunya sudah seharusnya berhenti.

Dan hanya hembusan angin yang menggoyangkan tirai jendela yang kutinggalkan setelah menyelesaikan pekerjaanku, bersamaan dengan lipatan kertas berisi permintaan maaf.


*) Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Terbuka 'tuk Terluka



"Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata. Namun kucoba menerima. Hatiku membuka, siap untuk terluka."


"Re?"

Athena menatap Arre tak percaya.

Arre bergeming di sisi seberang wanitanya (yang dulu), di kala yang tepat di sisinya kini bergelayut bingung di tangan kekarnya.

"Kenapa, kau - "

Arre gagu.

"Aku, nggak percaya....! Apa-apaan kamu, Re?!"

"Ini nggak seperti yang kamu pikir, Na!" teriak Arre.

Athena yang kini bergeming.

"Bukankah kamu sudah janji menerima aku apa adanya, Na? Inilah aku, Na! Inilah aku yang sebenar-benarnya!" Arre kini putus asa. Ia tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi. Yang kini bergelayut manja di sisinya tanpa bergerak hanya bisa memperkeruh suasana.

Dada kiri Athena kini merasakan sakit yang amat sangat, beriringan dengan denyut kepalanya yang perlahan menusuk.

"Bukankah kau sudah berjanji untuk menerimaku apa adanya, Na? Iya, kan?" Arre histeris.

Kini, Athena benar-benar tak sanggup melihat orang yang tengah bergelayut manja di lengan Arre itu adalah lawan jenisnya sendiri.



*) Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku







Rabu, 16 April 2014

The Beautiful Suicide

*
‘cause happiness means doing what you want with life to the fullest, so there’s no regret.
*

Hong Xing Garden – The Bay Bali




“Sudah lama?”

“Aku baru saja datang, kok.”

Audrio segera berdiri dari tempat duduknya, menuju tempat duduk lain di hadapannya. Dengan cekatan, ia memundurkan sedikit kursi yang akan digunakan Meilana untuk memberi jalan masuk bagi perempuan itu, dan mengembalikannya ke posisi semula sebelum Meilana benar-benar duduk di atasnya. Manners.

“Perempuan mana saja yang sudah jatuh hati hanya dengan sikapmu barusan?” goda Lana – nama kecil Meilana.

“Hampir semuanya, Nona,” ujar Audrio dengan penekanan pada kata pertama. “Hanya ada satu yang tampaknya tidak terkesan sama sekali,” lanjutnya sambil melemparkan tatapan nakal pada perempuan di hadapannya.

“Tatapanmu penuh arti, Au.” Meilana melayani akting opera sabun Audrio. “Cut!” ujarnya kemudian. Mereka tertawa begitu drama mini mereka terhenti.

“Apa kabar, Lan?” tanya Audrio pada akhirnya. Tatapannya sejurus tulus, menatap manik mata Meilana lurus.

“Baik. Sangat baik. Eng, bisa kutambah dengan kata perfect? Yaa, itu kalau kau tidak keberatan.”
Senyum Audrio merekah begitu melihat rekahan bulan sabit sempurna pada bibir Meilana. Begitu pun dengan sifat talkative-nya yang muncul jika perasaannya sedang baik.

Keputusannya saat itu ternyata tidak salah.

Rabu, 18 Desember 2013

Reflection

Girl, you're my reflection, all I see is you.

Dion menatap gadis di hadapannya yang tengah tenang. Sesekali tangannya menggapai-gapai gelas capucino yang sembarangan saja di gesernya, tak tahu arah. Disitulah peran kecil Dion dimulai: menggeser gelas hingga menuju ke gapaian gadis itu.

"Seru banget, ya?"

Gadis itu hanya mengangguk tanpa melepas pandangannya. Mata Dion kini tertumbuk lagi pada buku yang tengah ia baca juga. Ya, mereka sama-sama hobi membaca buku. Dan mereka juga sama-sama memesan capucino, yang menjadikan meja mereka kini diisi dengan dua gelas tinggi dengan noda kecokelatan.

Si gadis kini melambaikan tangannya pada pelayan dan memesan dua gelas capucino lainnya karena persediaan mereka sudah menipis. Dan buku yang tengah dilahapnya masih bersisa sekitar seratus halaman lagi.

"Berapa lagi, Dion?" tanya sang gadis.

"150 halaman lagi," jawab Dion setelah melirik sedikit ke arah sang penanya.

Kafe buku selalu menjadi tempat favorit mereka. Selalu. Karena inilah dunia mereka. Inilah dunia Dion dan si gadis yang dianggapnya sebagai belahan jiwanya. Setengah dari dirinya.

Yang mana ketika dia menghilang, Dion tidak bisa hidup tanpanya.

"Capucino-nya, Mbak Dian," sapa sang pelayan pada Dian, saudara kembar Dion yang masih sibuk dengan seratus halaman terakhirnya itu.


Diikutsertakan dalam #FF2in1 tema: Mirrors.

Indah

"Indah."

Kata itulah yang pertama kali terbesit di pikiranku ketika pandangan ini tertumbuk padamu. Pada parasmu yang elok nan memikat.

Tiada kata yang bisa mewakili rasa yang tengah berkecamuk ini.

Diam-diam, ya, dalam diam. Kudekati dirimu yang tengah menengadahkan wajah pada hangatnya sinar mentari. Menjadikanmu lebih bersinar dari biasanya.

Indah, semakin indah.

Dan semuanya akan indah, jika seandainya aku bisa memilikimu.

Pikiran lain yang terbesit inilah yang kemudian memberanikan diriku untuk (lagi) mendekatimu, secara diam-diam.

Keinginan hati ini tak terucap. Namun niat ini begitu membuncah.

Aku ingin lebih dekat denganmu.

Kuberanikan diri untuk mencoba mendekatimu. Dalam diamnya rasa suka yang tak terbendung lagi.

Dan aku bisa merasakan betapa jantungku serasa meledak begitu tahu jarak di antara kita semakin menipis.

Ya, kita sudah dekat. Dan jarak yang semakin menghilang ini makin membuncahkan rasa sukaku padamu, jarak hampir nol yang menguarkan aromamu.

Dalam diam lainnya, aku memberanikan diri untuk mempersempit jarak ini. Mencoba menelisik apa yang membuatmu tampak indah dan memikat.

Kukibaskan sayapku, mendekati akar dari keindahan yang memikat dari dirimu.

Nektar yang begitu manis.



Diikutsertakan dalam #FF2in1 dengan tema: Diam-Diam Suka

Rabu, 11 Desember 2013

Last Call

Mungkin mesti begini, ulat-ulat itu membangun kepompongnya
Melipat-lipat daun: percaya takkan direbahkan ke bumi,

sebelum segala mimpi usai.

---

"Panggilan kepada penumpang pesawat tujuan Korea Selatan..."

Napasku memburu.

Aku melirik jam tanganku berulang kali. Padahal aku sudah memberitahu sopirku agar menambah kecepatan. Tapi kemacetan benar-benar menghalangiku! Aku terpaksa meninggalkan satu koperku yang berisi peralatan make up yang harus kukenakan pada masa pelatihan nanti!

Ah, sudahlah. Aku beli saja di sana.

Ya, aku akan menjadi artis terkenal di sana!

Terima kasih, Tuhan! Aku berhasil melewati tahap audisi online itu dan menerima panggilan entertaintment terkenal di sana! Mimpiku tinggal selangkah lagi!

Aku terengah. Sedikit lagi, aku bisa sampai ke gerbang check in, yang perlu kulakukan hanya tinggal menunjukkan tiketku dan membayar boarding pass, lalu...

Penantian

Kutatap langit yang masih sedikit mendung.

Aspal kini basah. Lalu lalang kendaraan membuat genangan itu sesekali memercik ke berbagai arah. Mengotori kain yang melapisi tubuh yang berada di dekatnya.

Dan hampir saja mengotoriku.

Lapisan kain yang kedap air yang terbentang di hadapanku untung saja berhasil melindungi sebagaimana mestinya. Setidaknya tidak bernoda sudah cukup.

Aku kembali menatap langit. Dan mendapati pelangi yang kini tersenyum padaku.

Rabu, 04 Desember 2013

I Really Wanna Love Somebody

Dion sudah memutuskan untuk melakukannya hari ini juga.

Ia sudah jatuh cinta pada gadis dengan kuncir kuda berhiaskan pita itu kurang lebih tiga bulan lamanya. Selayaknya remaja lain yang sedang jatuh cinta, Dion menghabiskan waktunya menelisik kehidupan gadis itu. Kirana namanya.

Tak sulit bagi Dion untuk membuntuti Kirana. Tepat jam istirahat, ia akan berada di kelas yang terletak di paling ujung lantai dua, duduk sendirian dan memakan makan siangnya sambil menatap ke arah jendela yang terbuka.

Dion berniat untuk menghampirinya siang nanti. Ia ingin menyampaikan perasaan yang selama ini dipendamnya. Dirasakannya jantung di dada kirinya itu berdegup sangat kencang. Helaian rambut Kirana yang melambai karena sapuan angin sepoi-sepoi dari jendela itu makin membuat pemandangannya tampak indah, walaupun hanya tampak belakang saja.

Belakangnya saja indah, bagaimana bagian depannya, ya?

Pasti tak kalah indah, batin Dion dalam hati.

Dion mendekat perlahan. Ia menghampiri Kirana yang kini hanya berjarak setengah meter darinya.

"Ki-Kirana!"

Setelah mengerahkan seluruh tenaganya untuk memanggil gadis itu, ia terengah.

Gadis itu perlahan menoleh ke arah sumber suara. Matanya mengerjap-ngerjap bingung.

"Ki-Kirana?"

Perlahan raut wajah gadis itu menjadi tidak mengenakan. Dion merasa ada yang salah darinya, tapi ia tidak tahu apa itu.

Kirana langsung membereskan tempat makanannya, dan mengambil langkah seribu dari situ.

"Ternyata benar kelas ini ada penunggunya," desis Kirana.

Dion hanya menunduk lesu. Menatap kakinya yang kini tak menyentuh lantai.

"Cinta itu, sulit sekali, ya," sahutnya getir.


Diikutsertakan dalam #FF2in1 NulisBuku

Menyesal

Aku tidak akan pernah mengerti salahku dimana.

Begitu banyak yang kami lalui bersama. Selama ini aku merasa di antara kami baik-baik saja. Tidak ada hal menganggu apapun. Aku terus berusaha memantaskan diriku untuknya.

Mungkin memang aku tak pernah sempurna di matanya?

Apa yang harus kupaksa? Aku bukan manusia super yang bisa melakukan apapun!

Batinku terus menerus bergejolak. Tak jarang aku memukul-mukul kepalaku sendiri. Mungkin memang aku yang bodoh. Orang paling bodoh yang tak pernah mengerti dirinya.

Pelupuk mata di sudut kini sudah tak kuat lagi menahan beban, tetesan bening pun mengalir setelahnya. Aku membiarkan mereka turun deras-deras. Biarlah. Biarlah mereka semua keluar seiring dengan perasaan yang tak terbendung lagi.

Jikalau aku boleh melupakan ini, aku lebih memilih untuk amnesia, melumpuhkan memori tentangnya yang tersimpan. Lebih baik aku tidak pernah memutuskan untuk bertemu dengannya daripada tersiksa batin seperti ini.

Hilangkan ingatanku, Tuhan.

Aku menyesal, Tuhan.

Lumpuhkan semua ini, Tuhan.

Hapuskan memori ini, Tuhan. Semua memori ini, tentangnya. Keinginanku bersamanya. Cita-cita yang pernah kurencanakan bersamanya.

Aku, menyesal.

Karena, dari awal, dia tidak pernah singgah dalam hati dan pikiranku.

"Ma, aku mau pindah. Aku enggak mau jadi dokter kayak permintaan Mama. Aku enggak mau ketemu fisika di jurusan IPA. Aku mau ke IPS aja," pintaku di kala sesak masih menghalangi kata-kataku. Mama hanya mendesah pelan begitu melihat banyak nilai merah di rapor pertengahan semester ini.


Diikutsertakan dalam #FF2in1 Nulisbuku.