- "Kadang aku rindu pelukan tak bertuan untuk sekadar menenangkan, bahwa sesungguhnya aku masih memiliki satu orang saja yang masih bisa kupercaya." -
---
Terisak.
Sendirian.
Napasku makin sesak seiring aku coba untuk berhenti. Sulit. Memikirkannya barang sedikit dan tumpahan emosi itu seketika memuncak. Tersumbat.
Aku tidak mengerti kenapa semua ini hanya terjadi padaku.
"Kau bisa mengajak seseorang ke kamarmu karena alasan semudah itu? Kau ini bodoh, ya?"
Kau yang bodoh, bodoh!
"Kucing mana yang tidak mau ketika disodori ikan asin?"
Oh, sudah semurah itu ternyata nilaiku.
Ya, mungkin memang begitu.
Kutarik selimut hingga menutupi leher. Suhu ruangan tak bersahabat. Hujan dan pendingin yang tak dimatikan membuatku beku.
Pesan singkat itu tetap terpampang di layar ponsel. Sampai malam tadi, aku kira aku tidak akan menyesal.
Awalnya.
Semuanya tinggal lalu sekarang.
Beranjak dari tempat tidur, aku berusaha berjalan normal setelah semua kekasaran yang dilakukannya padaku. Aku mulai mengais helai demi helai pakaian yang tergeletak tak tentu arah di sekitar ruangan. Selimut tak bersalah ikut terseret bersamaku. Seketika semua menjadi begitu dingin.
"Terima kasih, ya. Jangan cari aku lagi."
Brengsek.
Sia-sia aku memacarinya setahun belakangan ini.
*
Cemooh sana-sini sudah dirasakan normal untukku. Wajar. Perut ini membesar tanpa terlihatnya sosok laki-laki. Apalagi kalau bukan wanita murahan?
Kulewati mual ini sendirian.
Sakit punggung hingga pinggang.
Pembekakan jari-jari.
"Perkiraan 2 minggu lagi, Bu."
Hingga masa-masa menuju hari perkiraan lahir bayi yang sedang kukandung.
"Jaga kesehatan."
Aku hanya mengangguk, kemudian permisi untuk berlalu.
Kubelai calon bayi yang akan segera lahir ini. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.
Ya, semuanya akan baik-baik saja.
Percaya saja.
*
Hari ini tiba juga.
Prosesnya mematikan. Sakit. Amat sakit. Air mataku terus mengalir seiring dengan teriakan keputusasaanku sembari melahirkannya. Melahirkan apa yang pernah ditanam olehnya. Aku harus kuat. Aku harus tetap percaya bahwa semuanya akan baik.
Akan baik. Pasti.
Kita semua akan baik-baik saja.
Seketika semua tenang.
Sepersekian detik kemudian, tulang-tulang ini pun terasa patah, beriringan.
Teriakanku kini dihiasi teriakan putus asa lainnya.
Kenapa tangisanmu terdengar menyakitkan, Nak?
*
Mungkin aku memang bodoh.
Dia memang berkata begitu, dulu.
Sampai sekarang pun aku tetap bodoh. Aku tetap berharap. Aku tetap tak menampik kesia-siaan perasaan yang pernah tercurah untuknya. Aku mencintainya sepenuh asa. Aku terpuruk karena ketiadaan.
Tapi percayalah yang membuatku kuat hingga saat ini.
Percaya semuanya akan baik saja.
Aku tak pernah berpikir akan sejahat itu dirinya pada diriku yang bermaksud untuk mencintainya sepenuh hati. Yang pernah bermaksud untuk menjadikannya muara terakhir dari perasaan.
Tapi dia khianat. Dia tanamkan benihnya tanpa mau menyemai.
Namun aku berusaha percaya.
Tetap percaya.
Akan ada yang datang ke pelukanku. Menenangkanku dari guncangan ini. Akan ada yang datang mengikat tangannya lembut pada leherku dan menciumi bibirku perlahan.
Akan ada yang berusaha tetap menaikkan tawaku dan meredam tangisku dalam-dalam.
"Mama, kenapa nangis?"
Namun...
Haruskah itu tetap kamu?
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 April 2016
Kamis, 07 Agustus 2014
#LetterstoAubrey from Kak Putri - Take Your Time
![]() |
Dear Ubii,
Salam kenal, Ubii. Sebelumnya, Kak Putri mau ngucapin selamat ulang tahun yang ke-2, ya. Semoga senyum Ubii bisa terus menyinari mommy dan daddy-nya, plus para kakak, para tante dan para orang tua lain di luar sana yang setia memantau perkembangan Ubii dari jauh.
Dear Ubii,
Kakak sangat percaya kalau manusia sudah punya waktunya sendiri-sendiri. Dan setiap pergerakan yang kita lakukan sesungguhnya sudah digariskan sama Tuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Jarum detik akan terus berjalan, menggerakkan jarum menit, lalu keduanya akan mendorong jarum jam. Lalu jam berubah menjadi hari, bulan, kemudian tahun. Dan aktivitas yang kita sehari-hari lakukan sudah ditentukan oleh Tuhan per detiknya, per menitnya, per jamnya. Pasang surut Mami dan Papi Ubii pun begitu. Beruntung kamu, Bii. Mami Papi kamu begitu sayang padamu. Ada begitu banyak orang di luar sana yang sudah jatuh karena sudah terlalu larut dalam surut. Beruntungnya kamu, Bii. Mami Papi kamu itu true heroes.
Dear Ubii,
Dalam kehidupan Kakak, Kakak punya waktu sendiri untuk berkembang: kapan Kakak harus mulai bicara, duduk, berdiri, lalu jatuh, kapan harus mulai menangis lalu mengembangkan senyum, kapan harus merasa seperti anak kecil sampai kapan harus menanggapi sesuatunya dengan dewasa. Ubii pun begitu. Ubii menangis, tapi ada saatnya ketika Ubii memahami Mami Grace lebih dari apapun sehingga Ubii tidak rewel sama sekali. Ubii tahu saatnya bermanja, lalu Ubii pun tahu kapan harus berhenti dan mulai berjuang tanpa kenal lelah. Mungkin Ubii memang berkembang tahap demi tahap, tapi di balik itu pula ada makna besar yang secara tidak langsung mengajarkan betapa bahagia itu sederhana.
Sabtu, 28 Juni 2014
Cerpen: Day 1, Day 2, Day 3, Day of Regret
![]() |
| Credit to the owner. |
Mereka tidak akan pernah benar-benar mengerti rasa penyesalan setelah merasa kehilangan...
*
Day 1
Pintu terbuka.
Tak pernah sedetik apapun pandangan ini teralih. Debu tak turut menggoyahkan. Posisi ini sudah kekal, susah bergeser barang sederajat.
Pemandangan monoton semalaman itu kini tak lagi sama.
Kamu melangkah maju. Langkah kakimu senada dengan degup jantung ini.
"Baiklah...."
Kini kamu menangkup diri ini erat.
"Mau kemana kita hari ini?"
Kemana saja, asal denganmu.
Kamu tersenyum, lalu membimbing tangan ini untuk dilingkarkan padamu.
Hangat.
Menyenangkan.
*
Rabu, 16 April 2014
The Beautiful Suicide
*
‘cause happiness means doing what you want with life to the fullest, so there’s no regret.
*
“Sudah lama?”
“Aku baru saja datang, kok.”
Audrio segera berdiri dari tempat duduknya, menuju tempat duduk lain di hadapannya. Dengan cekatan, ia memundurkan sedikit kursi yang akan digunakan Meilana untuk memberi jalan masuk bagi perempuan itu, dan mengembalikannya ke posisi semula sebelum Meilana benar-benar duduk di atasnya. Manners.
“Perempuan mana saja yang sudah jatuh hati hanya dengan sikapmu barusan?” goda Lana – nama kecil Meilana.
“Hampir semuanya, Nona,” ujar Audrio dengan penekanan pada kata pertama. “Hanya ada satu yang tampaknya tidak terkesan sama sekali,” lanjutnya sambil melemparkan tatapan nakal pada perempuan di hadapannya.
“Tatapanmu penuh arti, Au.” Meilana melayani akting opera sabun Audrio. “Cut!” ujarnya kemudian. Mereka tertawa begitu drama mini mereka terhenti.
“Apa kabar, Lan?” tanya Audrio pada akhirnya. Tatapannya sejurus tulus, menatap manik mata Meilana lurus.
“Baik. Sangat baik. Eng, bisa kutambah dengan kata perfect? Yaa, itu kalau kau tidak keberatan.”
Senyum Audrio merekah begitu melihat rekahan bulan sabit sempurna pada bibir Meilana. Begitu pun dengan sifat talkative-nya yang muncul jika perasaannya sedang baik.
Keputusannya saat itu ternyata tidak salah.
Selasa, 15 April 2014
Antara Aku, Kamu dan Orang Ketiga
| Ilustrasi diambil dari sini. |
"Sudah benar-benar mantap, ya?"
Si lelaki hanya menggangguk.
Si perempuan kini menatap awan yang sama sendunya dengan raut wajahnya kini. Guratan lelah tercetak samar karena make up. Namun tatapan mata tidak bisa berbohong.
Ia sedih.
"Kamu bahagia?" tanya si perempuan lagi.
"Kamu tidak terlihat seperti itu," alih si lelaki.
Si perempuan tertawa kecil, sebisa mungkin menyembunyikan nada miris. "Aku hanya lelah karena kesibukanku. Tidak ada hubungannya dengan ini."
Hening menyelimuti mereka sesaat. Sesekali, si lelaki menyesap kopi yang hangatnya masih tersisa sambil mencuri pandang pada perempuan yang ada di hadapannya.
"Ya, aku harap kalian baik-baik saja nantinya. Pernikahan itu berat. Tidak cukup hanya dengan cinta saja. Mental keduanya dipertaruhkan." Si perempuan menyesap teh hangatnya sesaat. "Kesabaran adalah kunci. Ada saja gelombang pasang yang menghambur untuk menghancurkan kalian nantinya. Bangunlah pondasi kalian sebelum hal itu terjadi."
Si lelaki menggenggam tangan perempuan berkulit pucat di hadapannya, dan membelainya dengan ibu jari. "Semuanya akan berbeda tanpamu," tuturnya tulus.
Senin, 24 Maret 2014
#FiksiLaguku - Aishiteru
| Taken from here. |
“Mau yang panjang, atau yang pendek?”
“Ah, yang singkat saja. Aku lemah dalam mengingat.”
“Jangan harap kau bisa mendapatkan hati mereka jika usahamu hanya segitu.”
“Kau kira aku akan benar-benar menyatakannya pada gadis Jepang? Ini untuk pelajaran Bahasa Jepang-ku di sekolah.”
...atau, sekiranya begitulah aku memasang tameng kata untuk berdalih. Memangnya, sejak kapan di sekolah ada pelajaran Bahasa Jepang?
“Kurasa ‘aishiteru’ sudah cukup.”
Begitulah jawabannya.
“Aishiteru,” ucapku saat itu, berbisik, padanya, gadis (penyuka) Jepang di hadapanku.
“Aishiteru.” Aku mengulangnya untuk yang kesekiankali untuk hari ini. Kali ini, tidak ada bisikkan. Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Dengan harapan, perasaan yang sudah terlambat ini tetap tersampaikan padanya.
Padanya, yang kini tertidur tenang di perut Bumi.
*) Diikutsertakan dalam #FiksiLaguku @KampusFiksi
**) Terinspirasi dari lagu Aishiteru - Monkey Manjik
Selasa, 31 Desember 2013
Present
---
"Why do people give present? 'cause they entrust their feelings to a thing. 'cause feelings aren't visible to the eyes." -- Zakuro (Tokyo Mew Mew)
---
"How?"
"Apanya yang how?"
"Hadiahnya."
Gadis berambut panjang itu berusaha menyelipkan rambutnya yang kini dimainkan oleh angin yang berhembus di teras rumahnya. Menatap langit yang kini ramai akan bintang yang berkembang di langit. Yang tidak pernah dilihat selama hampir beberapa tahun ini.
Jangka waktu yang sama semenjak kepergian laki-laki itu.
"Dan dengan begini, kau tidak perlu lagi merasa kehilanganku. Karena kita akan selalu bersama, kan?"
Tapi gombalannya barusan tidak membuat bulan sabit berkembang di wajah gadis itu barang sedikit pun.
***
This (should be) a normal day, two days ago.
"Ketika yang begitu dirindukan adalah sesuatu yang begitu ingin dilupakan..."
"Tya...Anantya...bangun, Nak...."
Suara Ibu membangunkan Tya dari tidur singkatnya. Seluruh badannya terasa sakit karena tidur terlalu malam. Setelah meneguk air putih yang disediakan Ibu di sisi tempat tidurnya, ia menyeret langkah menuju ruang makan yang menguarkan aroma pengundang lapar. Seketika Tya meneguk ludah dan merasakan sesuatu yang bergetar dari arah perutnya.
"Pempek ya, Bu?"
Ibu Tya mengangguk pelan. Seketika itu juga, seakan lupa akan sesuatu, ia melanjutkannya dengan kata-kata. "Iya, Nak."
Ibu Tya menuntun gadis itu perlahan menuju kursinya. Setelah semuanya aman terkendali, beliau mulai menuangkan cuko*) ke mangkuk kecil di hadapan Tya, lalu menaruh garpu mini di genggaman tangan anak gadisnya itu.
"Yang isi telur di piring sebelah kanan. Pempek kulit di piring tengah. Pempek ada'an di paling kiri. Ibu ke belakang dulu, ya. Pempeknya masih panas, jadi tiup dulu sebelum dimakan, ya. Oh ya, mangkukmu persis di hadapanmu. Hati-hati."
Setelah memberikan arahan pada Tya, Ibu Tya tampak berlari kecil ke arah dapur, meninggalkan Tya sendiri di meja makan.
"Wong Plembang nian Ibu kito nih, pagi-pagi la makan pempek**)," sahut Nanda, adik laki-laki Tya begitu sampai di meja makan dan melihat ke arah piring yang berjejer di dekat kakak perempuannya.
"Tinggal makan aja kok susah, Nda," tukas Tya.
Nanda mengernyit, bukan karena celotehan kakaknya barusan, tetapi karena melihat tangan kanan berhiaskan garpu mini milik kakaknya itu tengah melayang-layang di udara tak tentu arah. Batinnya tersentak begitu mengetahui semuanya sudah berbeda.
"Kakak mau yang mana?" tanya Nanda.
"Pempek telur aja."
Nanda dengan sigap mengambil garpu mini yang tadi terselip di genggaman Tya dan menancapkan satu pempek telur, lalu kembali menyerahkannya pada Tya.
"Makasih. Sebenernya lebih enak kalau tangan aku langsung yang kamu tuntun, bukan garpunya," ujar Tya terkekeh. Setelah meraba letak mangkuk kecilnya, ia mencelupkan pempek itu perlahan.
Terbesit rasa ketidakrelaan dalam diri Nanda atas keadaan yang tengah meliputi angggota keluarganya. Padahal kakaknya masih muda dan cantik. Begitu banyak mimpi yang ingin digapainya. Begitu banyak yang masih bisa ia lakukan.
Kuliahnya pun nyaris selesai.
Mungkin sekarang Tya nampak biasa saja. Namun apa yang terlihat di luar siapa yang tahu. Manusia begitu penuh dengan topeng.
Mungkin di dalam, pecahan kaca hatinya sudah bertebaran di berbagai sudut.
Dan Nanda, masih mengharapkan seseorang itu dapat dengan segera menghiburnya. Seseorang dari masa lalu yang kini merantau demi mimpi. Seseorang yang selalu Nanda jadikan panutan.
Dan, seseorang yang selalu menjadi tempat Anantya berbagi keluh kesah, nyaris seumur hidupnya.
"Kak...," Nanda memulainya takut-takut.
"Apa?"
"Nggak kangen Kak Dimas?" lanjutnya, menyerupai bisikan.
"Apa? Jelas-jelas dong ngomongnya," sahut Tya setelah susah payah menelan pempeknya.
"Kak Dimas mau pulang katanya. Penerbangan paling pagi dari Papua. Dia baru bisa dapet cuti minggu ini," lanjut Nanda sembari mengambil mangkuk kecil dan menuangkan cairan cokelat kehitaman itu ke dalamnya.
"Dimas?"
Nanda mengangguk sekilas, "Iya."
"Dimas, siapa?"
Sungguh, beribu alasan sudah dikeluarkannya, dan nampaknya ia takkan sanggup lagi untuk menutupi hal ini dari calon kakak iparnya yang sebentar lagi akan datang kemari dan menjenguk kakaknya setelah baru mendapatkan waktu libur dari perusahaan tambang internasional tempatnya bekerja.
Nanda benar-benar berharap waktu bisa berjalan sangat lambat.
***
Our time, three years ago.
"Maaf, nunggu lama. Jauh, antriannya rame," sahut Dimas terburu-buru. Ia menyodorkan semangkuk kecil jasuke (jagung, susu, keju) pada Tya yang masih hangat dalam genggaman, beserta dua buah jagung bakar dan minuman dingin dalam dua kantung plastik hitam yang berbeda.
"Makasih," ucap Tya sebagai balasan. Ditatanya bungkusan itu di antara kursi penumpang dan pengemudi. Lelehan susu, mentega dan taburan keju dari jasuke ternyata dengan segera menggugah seleranya.
"Nggak apa-apa dari jauh gini?" tanya Dimas di sela-sela kesibukan barunya meniup hawa panas dari camilan baru mereka.
"Nggak apa-apa. Yang penting masih bisa lihat kembang api."
Parkir mobil di area BKB penuh sesak. Namun, masih ada keberuntungan yang akhirnya membawa mereka ke area parkir di sisi kiri Kantor Walikota Palembang, yang setidaknya masih dekat dengan venue tahun baru ibukota Sumatera Selatan ini.
Jam masih menunjukkan kurang lebih setengah jam lagi menuju pergantian tahun.
"Dimas."
"Hm?"
"Jadi, pergi?"
"Begitulah."
Tya menghela napas berat.
"Kenapa nggak ngelamar yang deket-deket aja, sih? PT Bukit Asam kan ada," erangnya manja. Ia benar-benar tidak rela harus sejauh itu dengan kekasihnya.
"Semenjak aku kuliah pertambangan, Freeport itu perusahaan impian, sayang. Perjuangannya nggak main-main, lho. Masa' kulepasin gitu aja?"
Perkataan Dimas ada benarnya. Saat itu juga, Tya merasa dirinya benar-benar perempuan yang tidak pengertian. Keberadaan laki-laki di sampingnya sudah terlalu lekat dalam kesehariannya.
"Sampai kapan?"
Dimas menggeleng, "Aku tidak tahu dan tidak bisa janji. Tapi akan kuusahakan untuk pulang jika memang bisa."
Dimas menutup pintu mobil yang sedaritadi terbuka dan menghidupkan mesin untuk sekadar menghidupkan pendingin.
Anantya kini tengah meragu. Janji Dimas tidak benar-benar pasti. Ia memang percaya bahwa memang kodrat perempuan sejatinya adalah menunggu. Tetapi ia tidak tahu bahwa akan menunggu di dalam ketidakpastian itu rasanya sekhawatir ini.
Karena Dimas selalu memberinya kepastian, sampai akhirnya waktu menyentuh saat ini dan mengubah semuanya.
"Kenapa?" tanya Dimas begitu melihat raut resah dari Tya.
"Aku, takut."
Bayang-bayang gelap perlahan memenuhi batin Tya. Jarak beratus-ratus kilometer, tempat kerjanya yang berbahaya menurut kabar burung, hingga ketakutan-ketakutan lainnya yang menggerogoti pikiran positifnya.
Dimas tampak memikirkan sesuatu.
"Apa yang membuatmu takut?" tanyanya lembut, sambil membiarkan tangan kanannya kini bergerak, menyelipkan rambut Tya yang tergerai pada daun telinga gadisnya itu.
"Ketidakpastian," jawab Tya mantap.
Tya menikmati tiap gesekan udara yang tercipta karena aksi Dimas barusan, yang akhirnya membiarkan kedua tangan mungil itu untuk menggenggam yang tengah menjulur padanya, menempelkannya di pipi tirus miliknya. Merasakan kehangatan yang menjalari sarafnya.
Seakan takut tidak akan pernah bertemu kembali.
"Semua di hidup ini adalah kehendak Tuhan, Masayu Anantya Putri. Ketidakpastian itu pasti adanya. Karena kita tidak benar-benar tahu apa kehendak-Nya." Dimas memainkan ibu jari pada tangan yang masih dipenjarakan oleh dua tangan mungil kekasihnya, membelai lembut pipi lawan bicaranya. "Kalau begitu, apa yang akan membuatmu setidaknya bisa tenang?"
Bola mata Tya kini mengarah ke daun palem di sisi kanannya yang bergerak lambat karena desau angin, seakan lamat memasang telinga pada perbincangan berat sejoli itu.
"Nikahi aku?" ucap Tya pada akhirnya, setelah perdebatan batin antara malu dan keegoisannya untuk tetap bersama Dimas.
Mata Dimas sedikit terbelalak, setelah akhirnya berhasil menguasai kekagetannya. Ia tersenyum kecil dan melepaskan genggaman tangan mereka. Lalu menggantinya dengan belaian lembut di puncak kepala Tya.
"Aku belum bisa kalau yang itu, Anantya sayang. Aku baru saja diberi jalan untuk mengumpulkan tabungan hidupku untuk diriku sendiri. Kalau itu, berarti aku harus menghidupimu dan membawa turut serta ke Papua. Mau makan apa kita nanti?" ujarnya tertawa kecil.
Tya menatap raut tertawa Dimas lekat-lekat. Ia cukup kecewa dengan respon Dimas yang seperti itu. Padahal butuh waktu untuk menenggelamkan rasa malu ketika mengucapkannya tadi.
Tawa kecil Dimas kini terhenti karena Tya sudah menunjukkan ketidaksukaannya.
Dimas kini menggigit bibir. Dilema kini menyelimutinya. Rencana jangka panjang yang sudah disusun sedemikian rupa, agaknya harus ada yang sedikit mengalami perombakan.
"Eng, tapi...." Suara tercekat Dimas memaksa Tya harus menatap Dimas kembali. "Kalau tunangan dulu, gimana?" lanjutnya malu-malu.
Tya membekap mulutnya tak percaya.
Setidaknya, ia tidak perlu khawatir dengan bayangan negatif lainnya yang sedaritadi ia pikirkan: Dimas dengan wanita lain.
Setidaknya, ada hal yang bisa membuatnya yakin ketika ia meragu nantinya.
"Dimas! Kita kelewatan kembang api!" teriak Tya histeris. Sepertinya tahun ini mereka harus puas dengan kembang api kecil yang baru saja berkembang dan menyudahi riuh rendah para penonton dari arah pusat acara.
***
How regret comes at the end of our way, within two days (ago)...
Suara ketukan datang dari arah pintu depan. Nanda yang sedaritadi menonton tivi tanpa minat, terlanjur gelisah, segera menghamburkan diri ke arah pintu tanpa mengindahkan lagi pertanyaan Ibunya yang tengah penasaran dengan tingkah Nanda yang tampak aneh.
Namun, sesampainya di depan pintu, gerakan tangan Nanda terhenti di udara, persis lima sentimeter dari bagian atas kenop pintu bewarna emas kekuningan itu.
"Kenapa nggak dibuka, Nda?" Suara Ibu membahana dari balik punggung Nanda, yang sudah pasti terdengar dari sisi luar pintu. Dengan hati yang berat, Nanda menekan kenop dan membuka pintu kayu, menghadapkannya pada wajah laki-laki calon kakak ipar yang tengah terengah. Tidak seperti kebiasaannya yang selalu rapi, Dimas tampak berantakan. Kemeja yang dikenakannya tampak kusut dan tidak terselip dengan baik di balik celana jeans-nya.
Dimas mencium tangan Ibu Tya dan Nanda begitu mata mereka bertemu pandang.
"Bu..." Dimas memulai pembicaraan. "Dimas minta maaf," lanjutnya dengan suara bergetar.
Ibu kemudian memeluk Dimas dan menepuk-nepuk punggungnya. "Sudahlah, Dimas. Semua orang juga tahu kalau pegawai Freeport itu pasti sibuk dan susah pulang. Kamu mau dateng aja Ibu sudah bersyukur. Nggak ada yang tahu, Nak, kapan Tuhan nurunin musibah ke kita. Yuk, masuk dulu."
Nanda diam-diam mengucap syukur punya Ibu yang pengertian seperti Ibunya. Keadaan Dimas terlihat begitu kacau di matanya. Bukan saat yang tepat untuk perang kata.
Karena, Nanda cukup tahu betapa sedihnya Ibu ketika melihat kakak tertuanya itu kecelakaan di bawah pengaruh ketiadaan kabar sebulan penuh dari lelaki ini.
"Nanda, bantu bawa bawaan Dimas, gih," titah Ibu.
Dengan sigap, Nanda meraih koper kecil yang terlepas dari genggaman Dimas ketika Ibu memeluknya.
"Ah, nggak usah, Nda. Biar kakak bawa -- "
"Nggak apa-apa, Kak. Duduk aja."
Dimas yang merasa tidak enak, terpaksa harus patuh dan duduk di sofa terdekat.
Ibu akhirnya pamit untuk membuatkan minuman, yang lagi-lagi sempat ditolak oleh Dimas dan dibalas tolak lagi oleh Ibu. Tersisalah Nanda yang menemani.
"Anantya, sehat?" tanya Dimas berbasa-basi. Selarik kemudian ia benar-benar menyesal dalam hati telah menanyakan hal itu.
"Begitulah, Kak," jawab Nanda.
"Nggak bisa disembuhin, ya?
"Bisa, sih. Tapi bank mata di Palembang lagi kesulitan donor, Kak. Mereka bilang mesti nunggu beberapa bulan karena stok donornya nggak ada. Mesti nunggu diimpor gitu katanya," papar Nanda jujur, berdasarkan apa yang didengarnya begitu mengantar Ibu ke bagian mata rumah sakit umum.
"Berapa lama?"
Nanda menggeleng, disambut dengan desahan napas Dimas yang berat.
Nanda tenggelam dalam kebingungan terbesarnya kini. Ia tidak tahu apakah harus membiarkan hal itu sampai akhirnya Dimas mengetahuinya sendiri, atau memberitahunya dalam jangka waktu yang begitu sempit. Cepat atau lambat, Dimas pasti akan mengetahui hal menyakitkan lainnya selain kehilangan indra penglihatan yang kini dialami kakak perempuannya.
Ibu datang dengan dua gelas minuman dingin.
Dan bersama dengan pilihan pertama Nanda yang bahkan belum sempat ia pilih.
"Mau bawa Tya kemana, Bu?" tanya Tya yang kini mengekor pada Ibu dengan melingkarkan lengannya pada lengan Ibu.
"Ada tamu buat kamu."
Setelah menyodorkan nampan minuman pada Nanda, Ibu menuntun Tya untuk duduk di sebelah Dimas.
"Siapa, Bu?"
"Halo, Tya."
Suara berat Dimas berhasil mengalihkan pandangan Tya ke arah sumber suara, Dimas Dwi Nugraha.
Kekasihnya.
Tunangannya.
Yang (dulu) selalu berada di sisinya, meskipun hanya lewat sambungan jarak jauh.
Yang satu bulan lalu menghilang tanpa kabar.
"Apa kabar?" tanyanya lagi. Suaranya bergetar tertahan.
Tya tampak kebingungan. Dahi berkerut, menjadikan kedua alis hitamnya bertaut.
"Ini siapa, Bu?"
Nanda dan Ibu lalu menggigit bibir dan memejamkan mata bersamaan. Seperti ingin turut merasakan kepedihan yang Dimas rasakan.
"Ini, kejutan? Atau, gimana?" Dimas kehilangan kata-kata. Ia menoleh pada Nanda dan Ibu yang kini saling memalingkan muka, menutup rapat mulut mereka dan memendam fakta dalam-dalam.
"Bu? Ibu kemana? Bu? Aku takut, Bu. Di depanku siapa, Bu?" Tya kini meraba sofa panjang tempatnya duduk bersama Dimas, panik. Gelap yang menguasainya menambah efek samping ketakutannya terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui, menaikkan levelnya hingga ke level siaga.
"Maaf, Kak," bisik Nanda takut-takut. "Kak Tya, lupa ingatan."
***
Where were you, in a month? When I was missing you like crazy?
"Isi blog-mu akhir-akhir ini kayaknya galau melulu, Ya. Entah flashfiction, cerpen, sampe puisi."
Tya yang sedang asyik mengaduk minumannya di salah satu meja di pojokan restoran di area Kambang Iwak tersentak. "Ha? Iya apa?"
Teman-teman satu komunitas nulis di Palembang kini mencecarinya dengan berbagai pertanyaan. Tya menanggapinya tanpa minat, cenderung ngeles. Ia memutuskan untuk mengikuti meeting kali ini dengan harapan dapat membawanya ke hal-hal lain selain orang itu. Laki-laki yang sudah satu bulan ini tidak pernah menghubunginya lagi.
Entah kenapa sebabnya.
"Udah, dooong, please. Kita ke sini kan tujuannya mau ngomongin project nulis yang baru aja selesai deadline-nya. Bukan ngegosipin aku," ujarnya dengan nada bercanda dansedikit memaksa.
"Galaunya nggak mau dibagi-bagi nih, Buuu?" ejek salah satu teman perempuan komunitasnya.
"Kalau bisa dibagi udah kusumbangin deh!"
Tawa membahana kini memenuhi lingkaran itu. Di sela-sela tawa, mata Tya masih iseng mengarahkan ke ponsel. Berharap ada notifikasi pesan, atau missed call, atau notifikasi socmed, atau apa pun itu!
Selama itu masih mengandung nama Dimas Dwi Nugraha dan pengabarannya. Hanya itu.
***
Hari ini adalah tepat satu bulan semenjak hari-hari tanpa pengabarannya.
Begitu banyak media yang ia coba. Sms, telepon, messenger dari tiga platform, hingga fasilitas chat lainnya milik si lelaki yang terdaftar di ponselnya.
Nihil.
Jam yang seharusnya belum saatnya untuk disentuh kegelapan, tampak menuju pekat dengan cepat. Setelah pembubaran, awan hujan datang dan menyelimuti langit Palembang. Menjadikan yang di bawahnya kini kucar-kacir mencari perlindungan.
Tya, yang sedang sial karena tidak membawa payung seperti yang biasa ia lakukan ketika bepergian, terpaksa menunggu di teras kafe. Berharap setidaknya, hujan bersembunyi barang sedikit saja, untuk sekadar mengizinkannya menuju halte Trans Musi yang tepat berada di seberangnya.
Tapi sepertinya awan hitam sedang overload malam ini.
Kalau saja, Dimas di sini.
Terbesit pengharapan dalam benaknya. Hujan membuatnya benar-benar tak berdaya. Sesaat kemudian ia menyesal tidak menerima ajakan pulang oleh teman satu komunitasnya.
Jangan nebeng cowok lain, ya.
Aish, perintah yang selalu terpatri di hatinya itu kini membawa kerugian sendiri baginya.
Jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jam-jam krisis dimana Trans Musi bisa-bisa tidak lewat sama sekali.
Dan ia terlalu takut untuk menggunakan angkutan umum lain.
Langkahnya maju mundur. Namun hujan deras seakan tak mau berhenti gugur. Batinnya berdebat antara pulang dengan cara nekat atau menunggu yang tak pasti.
Dan setelah pilihan pertama memiliki lebih banyak suara dan menerjang hujan yang hampir mirip badai itu, ketakutan Tya akan angkutan umum yang selalu ugal-ugalan itu makin menjadi.
Ia tertabrak salah satunya, lalu tak sadarkan diri.
***
You never let me know, won't you? Then I'll do the same,
in these two days (ago)...
"Nanda," panggil Dimas dengan amarah tertahan. "Kenapa nggak ngasih tahu Kakak?"
Nanda takut-takut, ia menjauhkan pandangannya sebisa mungkin dari tatapan Dimas yang sedang menggali informasi darinya. Tinggallah mereka berdua di ruang tamu, sementara Ibu mengungsikan Tya ke dalam kamarnya.
"Aku, takut, Kak," jawab remaja kelas dua SMA itu pada akhirnya.
Dimas menghela napas berat. Ditopangnya kepala yang masih penuh dengan ketidakngertiannya pada keadaan dengan tangan kanan.
Dimas mencoba mengontrol diri. Berusaha untuk tetap berpikir panjang. Seperti dirinya di keadaan biasa.
"Dari kecelakaan, langsung begitu?"
Nanda mengangguk. "Pas aku selesai ngabarin kakak, aku kasih tahu Ibu kalau aku sudah menghubungi kakak soal Kak Tya. Dan pas Kak Tya sadar, aku juga ngasih tahu dia kalau kakak bakal jenguk."
Nanda meneguk ludah sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dan dia, nggak kenal kakak, sama sekali."
"Pemeriksaan dokter gimana?"
"Diagnosa amnesia parsial, Kak."
Dimas memijat keningnya lagi.
Dan detik ini juga, ia menyesal telah merencanakan kejutan yang jangka waktunya terlampau panjang.
Perempuan, memang tak benar-benar dibuat untuk menunggu. Apalagi ketidakpastian. Walaupun semuanya sudah diusahakan agar tetap pasti, untuk sekadar menenangkan hati.
Dan Dimas (masih) menyesal.
***
Tya kini terduduk di sisi tempat tidurnya. Tercenung dengan semua kejadian yang tak sampai lima menit itu.
Pertemuan yang terlampau singkat, yang begitu diidamkannya setelah sekian lama.
"Anantya."
Suara Ibu terdengar dari balik pintu.
"Ada apa, Bu?"
Terdengar suara bisik-bisik dari balik pintu.
"Dimas mau bicara denganmu."
Napas Tya sedikit tercekat. "Dimas siapa, Bu? Aku merasa tidak mengenal laki-laki manapun yang bernama Dimas."
Bisik-bisik terdengar lagi dari balik pintu.
"Anantya."
Kali ini suara bass yang berbicara. Dimas.
"Maaf, baru sempat menemuimu."
Setelah Ibu dan Nanda menyingkir secara sukarela dari tempat mereka kini, Dimas menarik napas dalam-dalam. Hendak melanjutkan kalimatnya.
"Aku, maaf. Aku, tidak tahu bahwa satu bulan itu adalah jangka waktu yang cukup untuk membuatmu seperti ini. Pada awalnya, aku, tak berniat untuk melakukan apapun. Sungguh. Aku, aku...."
Tya baru sadar bahwa napasnya tertahan, ketika menunggu lanjutan tiap kata yang terlontar dari seberang pintu itu.
"Mungkin kau tak menerima alasan. Aku, minta maaf, Tya. Aku benar-benar minta maaf. Aku, benar-benar tak bermaksud, untuk...aku...."
Kini air mata tak sanggup lagi ia tahan, setegar apapun laki-laki ini.
"Maaf, Tya...aku...aku...tidak tahu...sebenci itukah kau padaku...sampai membuatmu melupakanku?"
Tya membisu dalam keremangan kamarnya.
"Maaf, Tya. Maaf...maaf...maaf...."
Dimas kini terduduk di atas lututnya, dalam isak tangis yang tertahan.
Tya hanya menggigit bibir, menyengkram spreinya kuat-kuat. Menahan keinginannya untuk menuju pintu itu dan memberitahu semuanya.
Semua kebohongannya tentang 'melupakan'.
***
Mama Dimas tersentak begitu mengetahui kepulangan putranya yang mendadak itu.
"Dimas?! Kapan kamu pulang?! Kenapa nggak bilang?" tanya Mama histeris.
Dimas memeluk Mamanya sekejap.
"Dimas mau pinjem mobil, Ma," ucap Dimas sebagai salam pertamanya.
"Lho? Nggak mau makan dulu, Nak? Udah lewat makan siang, lho," sahut beliau Raut wajah Mama Dimas tampak khawatir.
"Nggak usah. Nanti Dimas makan kalau semuanya udah kelar aja," jawabnya mantap. Ia tidak ingin membuat gadis yang kini dirundung kegelapan itu makin menunggu lama.
Dan ia sudah menyiapkan diri untuk tidak menyerah sedikitpun, walau nantinya sudah diprediksi datangnya penolakan.
"Mau ngapain emangnya?"
"Mau ngeresmiin calon menantu Mama."
Seketika, setelah mengambil kunci mobil yang masih tergantung di tempat biasa yang tak pernah berubah semenjak kepergiannya, ia melesat ke arah garasi.
Ia takkan membuatnya menunggu lagi.
***
You've gone again, leaving all the excuses.
A week after our first (short) meet up.
Entahlah.
Ia tidak tahu harus menyesal, atau malah senang karena peran 'lupa' yang dijalaninya ternyata sangat cocok untuknya.
Dimas tak kembali lagi setelah pertemuan singkat mereka yang dibatasi ruang.
Entahlah.
Apakah Dimas sudah benar-benar membuangnya karena tahu ia cacat, atau memang tidak ingin berurusan lagi dengan gadis yang kini merangkap sebagai aktris pendatang baru, di dunia nyatanya sendiri?
Entahlah.
Tya tidak tahu.
Ketidakpastian lainnya kini menyelimuti Tya. Ia tahu betul akan Dimas.
Dia tidak akan semudah itu mengkhianatinya, kan?
Atau setidaknya begitulah harapan Tya.
Sisi devil-nya merajalela. Mengingatkannya akan satu hal:
"Dimas tak lagi sama. Bergelimangan harta sebagai pegawai perusahaan internasional menjadikannya buta. Perempuan cantik dan sempurna mana yang tidak terpesona olehnya, jika ia sudah begitu?"
Meskipu menyakitkan, Tya mengamini itu. Menjadikannya pedoman, dan memutuskan untuk menyongsong hari yang baru, tanpanya.
Dalam renungannya di hadapan angin yang kini menderu halus menyapu teras belakang rumah, langkah seseorang seperti menghampirinya.
"Kak, donor matanya udah ada. Kapan mau operasi? Dokternya udah nanyain."
"Secepatnya, Nda. Secepatnya," jawab Tya mantap. Seakan siap menanti lembaran baru.
***
Here we are now.
Suara batin Tya bergejolak. Rasa bersalah begitu memenuhi rongga dadanya.
"Aku, nggak tahu harus ngomong apa."
Ibunya hanya mengelus punggung putrinya pelan.
"Mulailah dengan kata-kata yang ingin kamu ucapkan," tutur Ibu.
Setelah menyiram gundukkan tanah itu dengan air, helaan napas terdengar dari bibir Tya.
"Halo, Dimas. Maaf atas kebohonganku, dan, terima kasih atas hadiahnya."
Atau, setidaknya, itu lah yang berada di ujung lidahnya, sebelum akhirnya ia menangis, dalam rasa bersalah yang amat sangat.
***
*) Cuko: Cairan cokelat tua teman makan pempek
**) Orang Palembang beneran deh si Ibu ini, pagi-pagi udah makan pempek
Nanda dengan sigap mengambil garpu mini yang tadi terselip di genggaman Tya dan menancapkan satu pempek telur, lalu kembali menyerahkannya pada Tya.
"Makasih. Sebenernya lebih enak kalau tangan aku langsung yang kamu tuntun, bukan garpunya," ujar Tya terkekeh. Setelah meraba letak mangkuk kecilnya, ia mencelupkan pempek itu perlahan.
Terbesit rasa ketidakrelaan dalam diri Nanda atas keadaan yang tengah meliputi angggota keluarganya. Padahal kakaknya masih muda dan cantik. Begitu banyak mimpi yang ingin digapainya. Begitu banyak yang masih bisa ia lakukan.
Kuliahnya pun nyaris selesai.
Mungkin sekarang Tya nampak biasa saja. Namun apa yang terlihat di luar siapa yang tahu. Manusia begitu penuh dengan topeng.
Mungkin di dalam, pecahan kaca hatinya sudah bertebaran di berbagai sudut.
Dan Nanda, masih mengharapkan seseorang itu dapat dengan segera menghiburnya. Seseorang dari masa lalu yang kini merantau demi mimpi. Seseorang yang selalu Nanda jadikan panutan.
Dan, seseorang yang selalu menjadi tempat Anantya berbagi keluh kesah, nyaris seumur hidupnya.
"Kak...," Nanda memulainya takut-takut.
"Apa?"
"Nggak kangen Kak Dimas?" lanjutnya, menyerupai bisikan.
"Apa? Jelas-jelas dong ngomongnya," sahut Tya setelah susah payah menelan pempeknya.
"Kak Dimas mau pulang katanya. Penerbangan paling pagi dari Papua. Dia baru bisa dapet cuti minggu ini," lanjut Nanda sembari mengambil mangkuk kecil dan menuangkan cairan cokelat kehitaman itu ke dalamnya.
"Dimas?"
Nanda mengangguk sekilas, "Iya."
"Dimas, siapa?"
Sungguh, beribu alasan sudah dikeluarkannya, dan nampaknya ia takkan sanggup lagi untuk menutupi hal ini dari calon kakak iparnya yang sebentar lagi akan datang kemari dan menjenguk kakaknya setelah baru mendapatkan waktu libur dari perusahaan tambang internasional tempatnya bekerja.
Nanda benar-benar berharap waktu bisa berjalan sangat lambat.
***
Our time, three years ago.
"Maaf, nunggu lama. Jauh, antriannya rame," sahut Dimas terburu-buru. Ia menyodorkan semangkuk kecil jasuke (jagung, susu, keju) pada Tya yang masih hangat dalam genggaman, beserta dua buah jagung bakar dan minuman dingin dalam dua kantung plastik hitam yang berbeda.
"Makasih," ucap Tya sebagai balasan. Ditatanya bungkusan itu di antara kursi penumpang dan pengemudi. Lelehan susu, mentega dan taburan keju dari jasuke ternyata dengan segera menggugah seleranya.
"Nggak apa-apa dari jauh gini?" tanya Dimas di sela-sela kesibukan barunya meniup hawa panas dari camilan baru mereka.
"Nggak apa-apa. Yang penting masih bisa lihat kembang api."
Parkir mobil di area BKB penuh sesak. Namun, masih ada keberuntungan yang akhirnya membawa mereka ke area parkir di sisi kiri Kantor Walikota Palembang, yang setidaknya masih dekat dengan venue tahun baru ibukota Sumatera Selatan ini.
Jam masih menunjukkan kurang lebih setengah jam lagi menuju pergantian tahun.
"Dimas."
"Hm?"
"Jadi, pergi?"
"Begitulah."
Tya menghela napas berat.
"Kenapa nggak ngelamar yang deket-deket aja, sih? PT Bukit Asam kan ada," erangnya manja. Ia benar-benar tidak rela harus sejauh itu dengan kekasihnya.
"Semenjak aku kuliah pertambangan, Freeport itu perusahaan impian, sayang. Perjuangannya nggak main-main, lho. Masa' kulepasin gitu aja?"
Perkataan Dimas ada benarnya. Saat itu juga, Tya merasa dirinya benar-benar perempuan yang tidak pengertian. Keberadaan laki-laki di sampingnya sudah terlalu lekat dalam kesehariannya.
"Sampai kapan?"
Dimas menggeleng, "Aku tidak tahu dan tidak bisa janji. Tapi akan kuusahakan untuk pulang jika memang bisa."
Dimas menutup pintu mobil yang sedaritadi terbuka dan menghidupkan mesin untuk sekadar menghidupkan pendingin.
Anantya kini tengah meragu. Janji Dimas tidak benar-benar pasti. Ia memang percaya bahwa memang kodrat perempuan sejatinya adalah menunggu. Tetapi ia tidak tahu bahwa akan menunggu di dalam ketidakpastian itu rasanya sekhawatir ini.
Karena Dimas selalu memberinya kepastian, sampai akhirnya waktu menyentuh saat ini dan mengubah semuanya.
"Kenapa?" tanya Dimas begitu melihat raut resah dari Tya.
"Aku, takut."
Bayang-bayang gelap perlahan memenuhi batin Tya. Jarak beratus-ratus kilometer, tempat kerjanya yang berbahaya menurut kabar burung, hingga ketakutan-ketakutan lainnya yang menggerogoti pikiran positifnya.
Dimas tampak memikirkan sesuatu.
"Apa yang membuatmu takut?" tanyanya lembut, sambil membiarkan tangan kanannya kini bergerak, menyelipkan rambut Tya yang tergerai pada daun telinga gadisnya itu.
"Ketidakpastian," jawab Tya mantap.
Tya menikmati tiap gesekan udara yang tercipta karena aksi Dimas barusan, yang akhirnya membiarkan kedua tangan mungil itu untuk menggenggam yang tengah menjulur padanya, menempelkannya di pipi tirus miliknya. Merasakan kehangatan yang menjalari sarafnya.
Seakan takut tidak akan pernah bertemu kembali.
"Semua di hidup ini adalah kehendak Tuhan, Masayu Anantya Putri. Ketidakpastian itu pasti adanya. Karena kita tidak benar-benar tahu apa kehendak-Nya." Dimas memainkan ibu jari pada tangan yang masih dipenjarakan oleh dua tangan mungil kekasihnya, membelai lembut pipi lawan bicaranya. "Kalau begitu, apa yang akan membuatmu setidaknya bisa tenang?"
Bola mata Tya kini mengarah ke daun palem di sisi kanannya yang bergerak lambat karena desau angin, seakan lamat memasang telinga pada perbincangan berat sejoli itu.
"Nikahi aku?" ucap Tya pada akhirnya, setelah perdebatan batin antara malu dan keegoisannya untuk tetap bersama Dimas.
Mata Dimas sedikit terbelalak, setelah akhirnya berhasil menguasai kekagetannya. Ia tersenyum kecil dan melepaskan genggaman tangan mereka. Lalu menggantinya dengan belaian lembut di puncak kepala Tya.
"Aku belum bisa kalau yang itu, Anantya sayang. Aku baru saja diberi jalan untuk mengumpulkan tabungan hidupku untuk diriku sendiri. Kalau itu, berarti aku harus menghidupimu dan membawa turut serta ke Papua. Mau makan apa kita nanti?" ujarnya tertawa kecil.
Tya menatap raut tertawa Dimas lekat-lekat. Ia cukup kecewa dengan respon Dimas yang seperti itu. Padahal butuh waktu untuk menenggelamkan rasa malu ketika mengucapkannya tadi.
Tawa kecil Dimas kini terhenti karena Tya sudah menunjukkan ketidaksukaannya.
Dimas kini menggigit bibir. Dilema kini menyelimutinya. Rencana jangka panjang yang sudah disusun sedemikian rupa, agaknya harus ada yang sedikit mengalami perombakan.
"Eng, tapi...." Suara tercekat Dimas memaksa Tya harus menatap Dimas kembali. "Kalau tunangan dulu, gimana?" lanjutnya malu-malu.
Tya membekap mulutnya tak percaya.
Setidaknya, ia tidak perlu khawatir dengan bayangan negatif lainnya yang sedaritadi ia pikirkan: Dimas dengan wanita lain.
Setidaknya, ada hal yang bisa membuatnya yakin ketika ia meragu nantinya.
"Dimas! Kita kelewatan kembang api!" teriak Tya histeris. Sepertinya tahun ini mereka harus puas dengan kembang api kecil yang baru saja berkembang dan menyudahi riuh rendah para penonton dari arah pusat acara.
***
How regret comes at the end of our way, within two days (ago)...
Suara ketukan datang dari arah pintu depan. Nanda yang sedaritadi menonton tivi tanpa minat, terlanjur gelisah, segera menghamburkan diri ke arah pintu tanpa mengindahkan lagi pertanyaan Ibunya yang tengah penasaran dengan tingkah Nanda yang tampak aneh.
Namun, sesampainya di depan pintu, gerakan tangan Nanda terhenti di udara, persis lima sentimeter dari bagian atas kenop pintu bewarna emas kekuningan itu.
"Kenapa nggak dibuka, Nda?" Suara Ibu membahana dari balik punggung Nanda, yang sudah pasti terdengar dari sisi luar pintu. Dengan hati yang berat, Nanda menekan kenop dan membuka pintu kayu, menghadapkannya pada wajah laki-laki calon kakak ipar yang tengah terengah. Tidak seperti kebiasaannya yang selalu rapi, Dimas tampak berantakan. Kemeja yang dikenakannya tampak kusut dan tidak terselip dengan baik di balik celana jeans-nya.
Dimas mencium tangan Ibu Tya dan Nanda begitu mata mereka bertemu pandang.
"Bu..." Dimas memulai pembicaraan. "Dimas minta maaf," lanjutnya dengan suara bergetar.
Ibu kemudian memeluk Dimas dan menepuk-nepuk punggungnya. "Sudahlah, Dimas. Semua orang juga tahu kalau pegawai Freeport itu pasti sibuk dan susah pulang. Kamu mau dateng aja Ibu sudah bersyukur. Nggak ada yang tahu, Nak, kapan Tuhan nurunin musibah ke kita. Yuk, masuk dulu."
Nanda diam-diam mengucap syukur punya Ibu yang pengertian seperti Ibunya. Keadaan Dimas terlihat begitu kacau di matanya. Bukan saat yang tepat untuk perang kata.
Karena, Nanda cukup tahu betapa sedihnya Ibu ketika melihat kakak tertuanya itu kecelakaan di bawah pengaruh ketiadaan kabar sebulan penuh dari lelaki ini.
"Nanda, bantu bawa bawaan Dimas, gih," titah Ibu.
Dengan sigap, Nanda meraih koper kecil yang terlepas dari genggaman Dimas ketika Ibu memeluknya.
"Ah, nggak usah, Nda. Biar kakak bawa -- "
"Nggak apa-apa, Kak. Duduk aja."
Dimas yang merasa tidak enak, terpaksa harus patuh dan duduk di sofa terdekat.
Ibu akhirnya pamit untuk membuatkan minuman, yang lagi-lagi sempat ditolak oleh Dimas dan dibalas tolak lagi oleh Ibu. Tersisalah Nanda yang menemani.
"Anantya, sehat?" tanya Dimas berbasa-basi. Selarik kemudian ia benar-benar menyesal dalam hati telah menanyakan hal itu.
"Begitulah, Kak," jawab Nanda.
"Nggak bisa disembuhin, ya?
"Bisa, sih. Tapi bank mata di Palembang lagi kesulitan donor, Kak. Mereka bilang mesti nunggu beberapa bulan karena stok donornya nggak ada. Mesti nunggu diimpor gitu katanya," papar Nanda jujur, berdasarkan apa yang didengarnya begitu mengantar Ibu ke bagian mata rumah sakit umum.
"Berapa lama?"
Nanda menggeleng, disambut dengan desahan napas Dimas yang berat.
Nanda tenggelam dalam kebingungan terbesarnya kini. Ia tidak tahu apakah harus membiarkan hal itu sampai akhirnya Dimas mengetahuinya sendiri, atau memberitahunya dalam jangka waktu yang begitu sempit. Cepat atau lambat, Dimas pasti akan mengetahui hal menyakitkan lainnya selain kehilangan indra penglihatan yang kini dialami kakak perempuannya.
Ibu datang dengan dua gelas minuman dingin.
Dan bersama dengan pilihan pertama Nanda yang bahkan belum sempat ia pilih.
"Mau bawa Tya kemana, Bu?" tanya Tya yang kini mengekor pada Ibu dengan melingkarkan lengannya pada lengan Ibu.
"Ada tamu buat kamu."
Setelah menyodorkan nampan minuman pada Nanda, Ibu menuntun Tya untuk duduk di sebelah Dimas.
"Siapa, Bu?"
"Halo, Tya."
Suara berat Dimas berhasil mengalihkan pandangan Tya ke arah sumber suara, Dimas Dwi Nugraha.
Kekasihnya.
Tunangannya.
Yang (dulu) selalu berada di sisinya, meskipun hanya lewat sambungan jarak jauh.
Yang satu bulan lalu menghilang tanpa kabar.
"Apa kabar?" tanyanya lagi. Suaranya bergetar tertahan.
Tya tampak kebingungan. Dahi berkerut, menjadikan kedua alis hitamnya bertaut.
"Ini siapa, Bu?"
Nanda dan Ibu lalu menggigit bibir dan memejamkan mata bersamaan. Seperti ingin turut merasakan kepedihan yang Dimas rasakan.
"Ini, kejutan? Atau, gimana?" Dimas kehilangan kata-kata. Ia menoleh pada Nanda dan Ibu yang kini saling memalingkan muka, menutup rapat mulut mereka dan memendam fakta dalam-dalam.
"Bu? Ibu kemana? Bu? Aku takut, Bu. Di depanku siapa, Bu?" Tya kini meraba sofa panjang tempatnya duduk bersama Dimas, panik. Gelap yang menguasainya menambah efek samping ketakutannya terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui, menaikkan levelnya hingga ke level siaga.
"Maaf, Kak," bisik Nanda takut-takut. "Kak Tya, lupa ingatan."
***
Where were you, in a month? When I was missing you like crazy?
"Isi blog-mu akhir-akhir ini kayaknya galau melulu, Ya. Entah flashfiction, cerpen, sampe puisi."
Tya yang sedang asyik mengaduk minumannya di salah satu meja di pojokan restoran di area Kambang Iwak tersentak. "Ha? Iya apa?"
Teman-teman satu komunitas nulis di Palembang kini mencecarinya dengan berbagai pertanyaan. Tya menanggapinya tanpa minat, cenderung ngeles. Ia memutuskan untuk mengikuti meeting kali ini dengan harapan dapat membawanya ke hal-hal lain selain orang itu. Laki-laki yang sudah satu bulan ini tidak pernah menghubunginya lagi.
Entah kenapa sebabnya.
"Udah, dooong, please. Kita ke sini kan tujuannya mau ngomongin project nulis yang baru aja selesai deadline-nya. Bukan ngegosipin aku," ujarnya dengan nada bercanda dan
"Galaunya nggak mau dibagi-bagi nih, Buuu?" ejek salah satu teman perempuan komunitasnya.
"Kalau bisa dibagi udah kusumbangin deh!"
Tawa membahana kini memenuhi lingkaran itu. Di sela-sela tawa, mata Tya masih iseng mengarahkan ke ponsel. Berharap ada notifikasi pesan, atau missed call, atau notifikasi socmed, atau apa pun itu!
Selama itu masih mengandung nama Dimas Dwi Nugraha dan pengabarannya. Hanya itu.
***
Hari ini adalah tepat satu bulan semenjak hari-hari tanpa pengabarannya.
Begitu banyak media yang ia coba. Sms, telepon, messenger dari tiga platform, hingga fasilitas chat lainnya milik si lelaki yang terdaftar di ponselnya.
Nihil.
Jam yang seharusnya belum saatnya untuk disentuh kegelapan, tampak menuju pekat dengan cepat. Setelah pembubaran, awan hujan datang dan menyelimuti langit Palembang. Menjadikan yang di bawahnya kini kucar-kacir mencari perlindungan.
Tya, yang sedang sial karena tidak membawa payung seperti yang biasa ia lakukan ketika bepergian, terpaksa menunggu di teras kafe. Berharap setidaknya, hujan bersembunyi barang sedikit saja, untuk sekadar mengizinkannya menuju halte Trans Musi yang tepat berada di seberangnya.
Tapi sepertinya awan hitam sedang overload malam ini.
Kalau saja, Dimas di sini.
Terbesit pengharapan dalam benaknya. Hujan membuatnya benar-benar tak berdaya. Sesaat kemudian ia menyesal tidak menerima ajakan pulang oleh teman satu komunitasnya.
Jangan nebeng cowok lain, ya.
Aish, perintah yang selalu terpatri di hatinya itu kini membawa kerugian sendiri baginya.
Jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Jam-jam krisis dimana Trans Musi bisa-bisa tidak lewat sama sekali.
Dan ia terlalu takut untuk menggunakan angkutan umum lain.
Langkahnya maju mundur. Namun hujan deras seakan tak mau berhenti gugur. Batinnya berdebat antara pulang dengan cara nekat atau menunggu yang tak pasti.
Dan setelah pilihan pertama memiliki lebih banyak suara dan menerjang hujan yang hampir mirip badai itu, ketakutan Tya akan angkutan umum yang selalu ugal-ugalan itu makin menjadi.
Ia tertabrak salah satunya, lalu tak sadarkan diri.
***
You never let me know, won't you? Then I'll do the same,
in these two days (ago)...
"Nanda," panggil Dimas dengan amarah tertahan. "Kenapa nggak ngasih tahu Kakak?"
Nanda takut-takut, ia menjauhkan pandangannya sebisa mungkin dari tatapan Dimas yang sedang menggali informasi darinya. Tinggallah mereka berdua di ruang tamu, sementara Ibu mengungsikan Tya ke dalam kamarnya.
"Aku, takut, Kak," jawab remaja kelas dua SMA itu pada akhirnya.
Dimas menghela napas berat. Ditopangnya kepala yang masih penuh dengan ketidakngertiannya pada keadaan dengan tangan kanan.
Dimas mencoba mengontrol diri. Berusaha untuk tetap berpikir panjang. Seperti dirinya di keadaan biasa.
"Dari kecelakaan, langsung begitu?"
Nanda mengangguk. "Pas aku selesai ngabarin kakak, aku kasih tahu Ibu kalau aku sudah menghubungi kakak soal Kak Tya. Dan pas Kak Tya sadar, aku juga ngasih tahu dia kalau kakak bakal jenguk."
Nanda meneguk ludah sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dan dia, nggak kenal kakak, sama sekali."
"Pemeriksaan dokter gimana?"
"Diagnosa amnesia parsial, Kak."
Dimas memijat keningnya lagi.
Dan detik ini juga, ia menyesal telah merencanakan kejutan yang jangka waktunya terlampau panjang.
Perempuan, memang tak benar-benar dibuat untuk menunggu. Apalagi ketidakpastian. Walaupun semuanya sudah diusahakan agar tetap pasti, untuk sekadar menenangkan hati.
Dan Dimas (masih) menyesal.
***
Tya kini terduduk di sisi tempat tidurnya. Tercenung dengan semua kejadian yang tak sampai lima menit itu.
Pertemuan yang terlampau singkat, yang begitu diidamkannya setelah sekian lama.
"Anantya."
Suara Ibu terdengar dari balik pintu.
"Ada apa, Bu?"
Terdengar suara bisik-bisik dari balik pintu.
"Dimas mau bicara denganmu."
Napas Tya sedikit tercekat. "Dimas siapa, Bu? Aku merasa tidak mengenal laki-laki manapun yang bernama Dimas."
Bisik-bisik terdengar lagi dari balik pintu.
"Anantya."
Kali ini suara bass yang berbicara. Dimas.
"Maaf, baru sempat menemuimu."
Setelah Ibu dan Nanda menyingkir secara sukarela dari tempat mereka kini, Dimas menarik napas dalam-dalam. Hendak melanjutkan kalimatnya.
"Aku, maaf. Aku, tidak tahu bahwa satu bulan itu adalah jangka waktu yang cukup untuk membuatmu seperti ini. Pada awalnya, aku, tak berniat untuk melakukan apapun. Sungguh. Aku, aku...."
Tya baru sadar bahwa napasnya tertahan, ketika menunggu lanjutan tiap kata yang terlontar dari seberang pintu itu.
"Mungkin kau tak menerima alasan. Aku, minta maaf, Tya. Aku benar-benar minta maaf. Aku, benar-benar tak bermaksud, untuk...aku...."
Kini air mata tak sanggup lagi ia tahan, setegar apapun laki-laki ini.
"Maaf, Tya...aku...aku...tidak tahu...sebenci itukah kau padaku...sampai membuatmu melupakanku?"
Tya membisu dalam keremangan kamarnya.
"Maaf, Tya. Maaf...maaf...maaf...."
Dimas kini terduduk di atas lututnya, dalam isak tangis yang tertahan.
Tya hanya menggigit bibir, menyengkram spreinya kuat-kuat. Menahan keinginannya untuk menuju pintu itu dan memberitahu semuanya.
Semua kebohongannya tentang 'melupakan'.
***
Mama Dimas tersentak begitu mengetahui kepulangan putranya yang mendadak itu.
"Dimas?! Kapan kamu pulang?! Kenapa nggak bilang?" tanya Mama histeris.
Dimas memeluk Mamanya sekejap.
"Dimas mau pinjem mobil, Ma," ucap Dimas sebagai salam pertamanya.
"Lho? Nggak mau makan dulu, Nak? Udah lewat makan siang, lho," sahut beliau Raut wajah Mama Dimas tampak khawatir.
"Nggak usah. Nanti Dimas makan kalau semuanya udah kelar aja," jawabnya mantap. Ia tidak ingin membuat gadis yang kini dirundung kegelapan itu makin menunggu lama.
Dan ia sudah menyiapkan diri untuk tidak menyerah sedikitpun, walau nantinya sudah diprediksi datangnya penolakan.
"Mau ngapain emangnya?"
"Mau ngeresmiin calon menantu Mama."
Seketika, setelah mengambil kunci mobil yang masih tergantung di tempat biasa yang tak pernah berubah semenjak kepergiannya, ia melesat ke arah garasi.
Ia takkan membuatnya menunggu lagi.
***
You've gone again, leaving all the excuses.
A week after our first (short) meet up.
Entahlah.
Ia tidak tahu harus menyesal, atau malah senang karena peran 'lupa' yang dijalaninya ternyata sangat cocok untuknya.
Dimas tak kembali lagi setelah pertemuan singkat mereka yang dibatasi ruang.
Entahlah.
Apakah Dimas sudah benar-benar membuangnya karena tahu ia cacat, atau memang tidak ingin berurusan lagi dengan gadis yang kini merangkap sebagai aktris pendatang baru, di dunia nyatanya sendiri?
Entahlah.
Tya tidak tahu.
Ketidakpastian lainnya kini menyelimuti Tya. Ia tahu betul akan Dimas.
Dia tidak akan semudah itu mengkhianatinya, kan?
Atau setidaknya begitulah harapan Tya.
Sisi devil-nya merajalela. Mengingatkannya akan satu hal:
"Dimas tak lagi sama. Bergelimangan harta sebagai pegawai perusahaan internasional menjadikannya buta. Perempuan cantik dan sempurna mana yang tidak terpesona olehnya, jika ia sudah begitu?"
Meskipu menyakitkan, Tya mengamini itu. Menjadikannya pedoman, dan memutuskan untuk menyongsong hari yang baru, tanpanya.
Dalam renungannya di hadapan angin yang kini menderu halus menyapu teras belakang rumah, langkah seseorang seperti menghampirinya.
"Kak, donor matanya udah ada. Kapan mau operasi? Dokternya udah nanyain."
"Secepatnya, Nda. Secepatnya," jawab Tya mantap. Seakan siap menanti lembaran baru.
***
Here we are now.
"How?"
"Apanya yang how?"
"Hadiahnya," Nanda kaget begitu kakak perempuannya malah membalas ucapannya. "Dengerin dan nggak pake komentar, Kak."
Gadis berambut panjang itu berusaha menyelipkan rambutnya yang kini dimainkan oleh angin yang berhembus di teras rumahnya. Menatap langit yang kini ramai akan bintang yang berkembang di langit. Yang tidak pernah dilihat selama hampir beberapa tahun ini.
Jangka waktu yang sama semenjak kepergian laki-laki itu.
"Dan dengan begini, kau tidak perlu lagi merasa kehilanganku. Karena kita akan selalu bersama, kan?" Nanda terus membaca surat yang di sampaikan pihak bagian mata di rumah sakit seiring dengan dokumen donornya.
Tapi gombalannya barusan tidak membuat bulan sabit berkembang di wajah gadis itu barang sedikit pun.
---
"Aku menulis ini di antara tanda-tanda yang membuatku begitu yakin bahwa keberadaanku tidak akan lama lagi. Tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hanya milik-Nya. Maaf. Dan entah tiupan angin pengabaran Tuhan yang seperti apa yang membuatku seperti ini. Begitu aku merasa sehat dari kecelakaan yang cukup menimbulkan kengerian bagi kendaraan di sekitarku itu, aku merasa aku perlu melakukan sesuatu untukmu. Sesuatu yang lain dari yang lain."
"Aku minta maaf, Anantya. Atas segalanya. Aku, hanya bermaksud untuk memberimu kejutan. Aku mendapatkan idenya dari teman kerjaku di sini. Dan dia laki-laki yang sudah beristri. Aku meminta sarannya agar momen kita bisa indah dan bisa diingat. Yang tak kusangka akan memakan waktu hingga sebulan persiapan. Persiapan tanpa sedikitpun kamu tahu."
"Tapi nyatanya apa? Aku egois. Padahal pasangan seharusnya ditakdirkan untuk berdua, merencanakan sesuatunya berdua, dan melalui juga berdua. Bersama. Tapi aku malah menyalahi takdir itu."
"Mungkin ini hukuman Tuhan padaku. Akan keegoisanku."
"Sebagai ganti semuanya yang kurasa takkan pernah terjadi ini, terbesit ide lain, yang setidaknya membiarkan kita untuk terus bersama. Walaupun nantinya aku harus berlalu lebih dulu darimu."
"Dan jika kamu sudah menerima surat ini, selamat, kamu sudah menerima hadiahku, yang tidak seberapa ini."
"Maafkan aku. Begitu banyak perasaan yang membuncah begitu menulis ini. Tapi, aku benar-benar berharap yang tak seberapa ini bisa mewakili perasaanku. Karena aku sudah tak bisa apa-apa lagi."
"Masih sudikah dirimu, untuk menjalani hidup bersamaku, yang tanpa apa-apa ini?"
"Haha, hanya bercanda."
"Semoga kamu bisa mencari kebahagiaanmu. Ini hanya sedikit cahaya lilin dariku. Ketika sudah menemukan pendamping, cahaya kalian yang menyatu akan selalu menerangi jalan kalian."
"Semoga bahagia."
"Maaf, dan terima kasih. Sudah pernah menjadi memoriku, sampai akhir."
---
Tanggal yang tertulis yang bermakna satu minggu yang lalu itu kini luntur begitu selesai dibacakan oleh Nanda yang menangis dengan deras.
Dan Anantya yang hanya terduduk lemas dan berteriak histeris.
***
The fact that she didn't know.
A week and two days ago...
---
"Aku menulis ini di antara tanda-tanda yang membuatku begitu yakin bahwa keberadaanku tidak akan lama lagi. Tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hanya milik-Nya. Maaf. Dan entah tiupan angin pengabaran Tuhan yang seperti apa yang membuatku seperti ini. Begitu aku merasa sehat dari kecelakaan yang cukup menimbulkan kengerian bagi kendaraan di sekitarku itu, aku merasa aku perlu melakukan sesuatu untukmu. Sesuatu yang lain dari yang lain."
"Aku minta maaf, Anantya. Atas segalanya. Aku, hanya bermaksud untuk memberimu kejutan. Aku mendapatkan idenya dari teman kerjaku di sini. Dan dia laki-laki yang sudah beristri. Aku meminta sarannya agar momen kita bisa indah dan bisa diingat. Yang tak kusangka akan memakan waktu hingga sebulan persiapan. Persiapan tanpa sedikitpun kamu tahu."
"Tapi nyatanya apa? Aku egois. Padahal pasangan seharusnya ditakdirkan untuk berdua, merencanakan sesuatunya berdua, dan melalui juga berdua. Bersama. Tapi aku malah menyalahi takdir itu."
"Mungkin ini hukuman Tuhan padaku. Akan keegoisanku."
"Sebagai ganti semuanya yang kurasa takkan pernah terjadi ini, terbesit ide lain, yang setidaknya membiarkan kita untuk terus bersama. Walaupun nantinya aku harus berlalu lebih dulu darimu."
"Dan jika kamu sudah menerima surat ini, selamat, kamu sudah menerima hadiahku, yang tidak seberapa ini."
"Maafkan aku. Begitu banyak perasaan yang membuncah begitu menulis ini. Tapi, aku benar-benar berharap yang tak seberapa ini bisa mewakili perasaanku. Karena aku sudah tak bisa apa-apa lagi."
"Masih sudikah dirimu, untuk menjalani hidup bersamaku, yang tanpa apa-apa ini?"
"Haha, hanya bercanda."
"Semoga kamu bisa mencari kebahagiaanmu. Ini hanya sedikit cahaya lilin dariku. Ketika sudah menemukan pendamping, cahaya kalian yang menyatu akan selalu menerangi jalan kalian."
"Semoga bahagia."
"Maaf, dan terima kasih. Sudah pernah menjadi memoriku, sampai akhir."
---
Tanggal yang tertulis yang bermakna satu minggu yang lalu itu kini luntur begitu selesai dibacakan oleh Nanda yang menangis dengan deras.
Dan Anantya yang hanya terduduk lemas dan berteriak histeris.
***
The fact that she didn't know.
A week and two days ago...
Hanya suara roda-roda besi dan tiang yang saling bergerak yang kini mengiringi isak tangis keluarga Dimas. Wajahnya begitu pucat, napasnya berlari cepat, tangan kanannya tampak memegangi perut bagian kiri yang kini menegang.
Seorang perawat langsung memeriksa tekanan nadi Dimas begitu sampai di salah satu bilik UGD.
"Pendarahan dalam. Apa dia mengalami kecelakaan? Sejak kapan, Bu?" tanya dokter jaga terburu-buru pada orang yang kini mengelilingi Dimas.
"Saya, tidak tahu, Dok." Kalimat Mama Dimas terhenti oleh isak tangis. "Saya, hanya menemukan ini di meja di kamarnya," lanjutnya lagi sambil menunjukkan surat rujukan dari dokter jaga UGD poliklinik, tertanggal dua hari yang lalu.
Dokter jaga memegang kendali. Diagnosa pecahnya limpa Dimas masih misteri. Tapi bercak memar yang begitu menghitam cukup menjelaskan seberapa kuat benturan yang dialaminya, dua hari sebelum hari ini.
Prosedur kedokteran sudah dilakukan semampunya. Namun para penyambung tangan Tuhan itu tetaplah manusia biasa.
Pandangan Dimas mengabur.
Sampai akhirnya, waktu Dimas berakhir detik ini.
***
I really don't know how to say goodbye.
I mean, a real goodbye.
Apa yang harus kuucapkan pertama kali?
Suara batin Tya bergejolak. Rasa bersalah begitu memenuhi rongga dadanya.
"Aku, nggak tahu harus ngomong apa."
Ibunya hanya mengelus punggung putrinya pelan.
"Mulailah dengan kata-kata yang ingin kamu ucapkan," tutur Ibu.
Setelah menyiram gundukkan tanah itu dengan air, helaan napas terdengar dari bibir Tya.
"Halo, Dimas. Maaf atas kebohonganku, dan, terima kasih atas hadiahnya."
Atau, setidaknya, itu lah yang berada di ujung lidahnya, sebelum akhirnya ia menangis, dalam rasa bersalah yang amat sangat.
***
![]() |
| Kompetisi #NulisKilat Plopoint dan Bentang |
**) Orang Palembang beneran deh si Ibu ini, pagi-pagi udah makan pempek
Kamis, 21 November 2013
Bukan Tipeku
"Gimana?"
Yang melempar pertanyaan memainkan alisnya, membuatnya naik turun menggoda, kepada calon penjawab pertanyaannya.
"Terserah Papa aja, lah," ujarku malas.
Aku menyodorkan kembali foto yang sempat berada di tanganku dan kembali memperhatikan game di ponsel.
"Terserah melulu. Papa butuh kepastian, Ga. Tahu sendiri kalau Papa udah tua. Nanti engga ada yang mau lagi sama Papa."
Papa membesarkanku sebagai single parent. Mama meninggalkan kami dulu sekali, tak pernah kembali.
Aku menghela napas mendengar desakannya.
"Pa, orang ini bukan tipeku. Dan bukan tipe lelaku normal mana pun yang sedang mencari pasangan."
Aku mengerti kenapa Mama pergi.
"Kamu engga seneng sama Om Surya?"
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan teman #Absurditas
Yang melempar pertanyaan memainkan alisnya, membuatnya naik turun menggoda, kepada calon penjawab pertanyaannya.
"Terserah Papa aja, lah," ujarku malas.
Aku menyodorkan kembali foto yang sempat berada di tanganku dan kembali memperhatikan game di ponsel.
"Terserah melulu. Papa butuh kepastian, Ga. Tahu sendiri kalau Papa udah tua. Nanti engga ada yang mau lagi sama Papa."
Papa membesarkanku sebagai single parent. Mama meninggalkan kami dulu sekali, tak pernah kembali.
Aku menghela napas mendengar desakannya.
"Pa, orang ini bukan tipeku. Dan bukan tipe lelaku normal mana pun yang sedang mencari pasangan."
Aku mengerti kenapa Mama pergi.
"Kamu engga seneng sama Om Surya?"
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan teman #Absurditas
Rabu, 20 November 2013
Tak Terlawan
"Menuh-menuhin daerah saya aja. Engga menghasilkan!"
Pria berumur tiga puluhan itu kini mengisap rokoknya kesal. Dihembuskannya kasar ke arah seseorang di hadapannya yang tampak takut.
"Ta-tapi, Pak – "
Yang disela pun marah. Matanya mendelik. Lubang hidungnya kembang kempis.
"Racuni semua. Saya engga peduli! Atau kamu saya pecat!"
Yang dihardik menunduk takut-takut, terpaksa patuh. Dibalikkannya badan setelah mundur tiga langkah.
Sesampainya di luar, ia menatap racun yang teronggok.
Kenangan bersama mereka berkelebat dalam memorinya. Sempat membuatnya ragu.
Namun titah ketua adalah mutlak.
Besoknya, ia hanya menatap lapangan rumput yang menjadi tempat bermain bersama teman-temannya itu mengering, dengan tulisan 'Proyek Pembangunan Mall'.
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Genosida.
Pria berumur tiga puluhan itu kini mengisap rokoknya kesal. Dihembuskannya kasar ke arah seseorang di hadapannya yang tampak takut.
"Ta-tapi, Pak – "
Yang disela pun marah. Matanya mendelik. Lubang hidungnya kembang kempis.
"Racuni semua. Saya engga peduli! Atau kamu saya pecat!"
Yang dihardik menunduk takut-takut, terpaksa patuh. Dibalikkannya badan setelah mundur tiga langkah.
Sesampainya di luar, ia menatap racun yang teronggok.
Kenangan bersama mereka berkelebat dalam memorinya. Sempat membuatnya ragu.
Namun titah ketua adalah mutlak.
Besoknya, ia hanya menatap lapangan rumput yang menjadi tempat bermain bersama teman-temannya itu mengering, dengan tulisan 'Proyek Pembangunan Mall'.
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Genosida.
Selasa, 19 November 2013
The Ho(s)ttest
Tempat ini selalu penuh.
Ramai, tak pernah jemu dari kata menyesakkan.
Rino baru saja menapakkan kakinya di bagian terluar tempat itu, namun begitu banyak jumlah orang yang tengah sekadar mengantri untuk melewati pintu.
Ia hanya mendengar beberapa ocehan saja, tapi minatnya sudah sangat tertarik. Sependengarannya, salah satu tuan rumah yang akan menyambut di depan pintu luar biasa panas.
Manusia dalam antrian terus menghilang di balik pintu.
Giliran Rino. Ia meneguk ludah. Keseksian bidadari merah di hadapannya membelenggu hasrat.
Diulurkannya lengan mulus itu melingkari bahu Rino.
Suara napas menaikkan bulu roma. Desahan halus memasukki telinga Rino.
"Siap masuk neraka?"
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata hari ketigabelas.
Ramai, tak pernah jemu dari kata menyesakkan.
Rino baru saja menapakkan kakinya di bagian terluar tempat itu, namun begitu banyak jumlah orang yang tengah sekadar mengantri untuk melewati pintu.
Ia hanya mendengar beberapa ocehan saja, tapi minatnya sudah sangat tertarik. Sependengarannya, salah satu tuan rumah yang akan menyambut di depan pintu luar biasa panas.
Manusia dalam antrian terus menghilang di balik pintu.
Giliran Rino. Ia meneguk ludah. Keseksian bidadari merah di hadapannya membelenggu hasrat.
Diulurkannya lengan mulus itu melingkari bahu Rino.
Suara napas menaikkan bulu roma. Desahan halus memasukki telinga Rino.
"Siap masuk neraka?"
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata hari ketigabelas.
Minggu, 17 November 2013
Apapun Cantik Di Kamu
| Taken from here. |
"Kalau yang ini"
"Cantik kok, Sayang."
Wanita di hadapanku kembali membongkar display pakaian itu gusar. Mungkin karena label diskon lima puluh persen yang tersemat.
"Kalau ini?"
"Cantik."
Dia menggeleng, tampak merasa tidak puas. Lalu tangannya cekatan membuka lipatan-lipatan baju yang menumpuk. Warna merah muda, ungu, cokelat tua, krem, hijau muda, motif bunga, motif pita kecil-kecil dan motif-motif lainnya.
"Kalau yang ini?" Kali ini dia melayangkan padaku yang bewarna merah muda, dengan akses pita di bagian dada.
"Cantik kok, Ma," jawabku jujur.
"Satu aja sih, Pa!"
Aku menatap penghuni baby walker yang sedang terlelap. "Buat Asha, baju apa aja cantik, Ma."
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #MataLelaki
Sabtu, 16 November 2013
Janji
![]() |
| Taken from here. |
Shift-ku di penitipan anak berakhir. Aku menuju ke ruang loker dan mengunci pintunya.
Kusematkan kunci dan loker terbuka. Kulepas seragam kerja yang sedari pagi menempel di tubuh, menyisakan boxer.
"Lho, Rie-chan, belum pulang?" tanyaku kaget ketika menemukan Rie yang kini meringkuk dalam lokerku. "Mau main petak umpet sama onni-chan?" lanjutku.
Bocah itu menggeleng. Bosan, kah?
"Ah, tapi tadi kita sudah janji mau main dokter-dokteran, kan?" sahutku sembari mengingat janjiku padanya siang tadi. "Sekarang saja, yuk!"
Kuturunkan boxer yang menyesakkan. Rie-chan seperti melonjak kesenangan dalam ikatan tali di tangan dan kakinya itu.
Matanya bengkak.
Mungkin menangis bahagia karena bisa bermain denganku?
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- -chan merupakan panggilan sayang atau antar orang yang sudah kenal dekat.
- onni-chan: Kakak laki-laki
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Parafilia
Jumat, 15 November 2013
All My Love Is For You
| Taken from here. |
"Bagaimana, ya, cara agar dia tahu kalau perasaan ini benar-benar nyata untuknya?"
Nina menatap gadis di hadapannya, tampak kebingungan. Keringat dingin perlahan muncul di wajahnya.
"Apa aku harus pakai cara seperti yang kau pernah ceritakan itu?"
"Nina – "
"...dia, pasti melihatku, kan? Kalau aku melakukan sesuatu yang menarik perhatiannya?"
"T-tapi, Nin – "
Nina melangkah menuju meja belajarnya, mengambil sesuatu yang beada dalam gelas berisi kumpulan alat tulisnya.
"Nin, serius?" tanya gadis itu lagi.
Tak lama, di akun Nina kini terdapat foto lengan kiri yang bertuliskan nama idolanya, disertai dengan username Twitter idola tersebut ditambah gambar hati.
Dengan garis-garis bewarna darah.
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki ini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Obsesi.
Kamis, 14 November 2013
Trendsetter
![]() |
| Taken from here. |
Aku tahu, sejak hari 'itu' dia sudah memperingatkanku bahwa aku akan terkenal. Sinar flash akan menyinariku dari berbagai sudut dan orang-orang akan ramai membicarakanku.
Karena tato baruku.
Dan benar saja, begitu aku keluar dari tempat ternyamanku, sinar flash menyerangku bergantian. Silau, memang. Tapi aku harus terbiasa. Ya, karena ini langkah awalku untuk bisa menjadi trendsetter.
Orang-orang di hadapanku kini mulai banyak melontarkan pertanyaan lewat Jane, orang yang sangat kupercaya dan menyayangiku. Dan karena nasihatnya itulah aku bisa melangkah seperti sekarang ini.
Seseorang mengarahkan ponselnya padaku, ke tubuh, dan memotret tato yang dicat di sana.
Yang kalau tidak salah bernama QR Code.
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Artikel mengenai sapi dengan QR Code bisa diakses di sini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Tato.
Rabu, 13 November 2013
Kritis
![]() |
| Taken from here. |
"Lo bisa buta, Vi."
Vivi memijat keningnya sejenak. Ria, sahabatnya yang berprofesi sebagai dokter itu telah menjatuhkan vonis padanya.
Vivi kalut.
Kedua tangan Ria kini sudah berada di bahu Vivi.
"Ayolah, Vi. Jangan menyerah, oke?" ucap Ria tulus.
"Kenapa lo engga bantu gue dari sekarang kalau gitu, Ria? Lo tahu gue kritis tapi lo cuma ngomong doang!" cecar Vivi ketus. Ia sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan apa yang ia alami sekarang.
"Heh! Gue ini lagi bantuin lo, bangke! Biar elo engga kena virus shopaholic sampe tagihan kartu kredit lo bengkak kayak sekarang!" cecar Ria sebal pada sahabatnya.
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Virus
Selasa, 12 November 2013
(Almost) Last Role
![]() |
| Taken from here. |
"Udah siap?" tanya Mika pada laki-laki yang kini mengenakan setelan kemeja dan celana dasar. Laki-laki itu masih mematut dirinya di cermin.
"Bentar, deh," ujar laki-laki itu dengan suara seraknya. Kancing kemejanya belum dipasangkan sepenuhnya.
"Lama, deh. Nanti telat lho, Pa," rengek Mika.
"Yakin mau bareng Papa? Bukannya lebih baik Mama yang nemenin? Selama ini yang nemenin belanja juga Mama, kan?" tanya beliau.
"Mika maunya sama Papa." Mama Mika tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Papa gampang capek, Ma," keluh Papa Mika.
"Ngeles-nya engga mempan! Papa itu kan guru olahraga! Bilang aja engga rela mau nemenin Mika milih wedding dress-nya di butik."
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #Ayah
Senin, 11 November 2013
Precious
![]() |
| My Heart Is Yours by Jenniolma on Deviantart |
Ini, perasaan apa, ya?
Entahlah. Aku tidak mengerti. Seluruh tubuhku rasanya remuk redam. Namun ada bagian tertentu yang merasakan betapa lega dan bahagianya aku sekarang. Rasa sakit itu perlahan sirna begitu aku mendapati rupanya.
Kuusap perlahan kulitnya.
Sedikit kubuka yang sempat menutupi wajahnya. Ingin sekali memasatinya dari dekat.
Kugerakkan tanganku perlahan, berharap tak menyakitinya.
Kusingkirkan peluh yang membasahi dahiku kini dengan bahu tangan.
Ini, anakku, kan?
Iya, kan?
Sedikit tidak percaya, aku lagi-lagi memasatinya. Intens. Walaupun sebelumnya sudah kuperiksakan berkali-kali, memastikan tidak ada kesalahan, aku tetap melakukannya.
"Anakku, akhirnya kamu lahir juga, Nak," ucapku pada skripsi yang kini dilapisi hardcover.
A/N:
- 100 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema: #Bayi
Minggu, 10 November 2013
Terbius Sakura
![]() |
| Taman Ueno ketika musim bunga sakura. Diambil dari sini. |
Aku sedikit menggebu ketika tahu bahwa sebentar lagi aku akan menemui apa yang kuidam-idamkan selama ini.
Terserah bila aku tampak aneh. Yang kutahu orang yang menganggapku demikian belum mengerti bagaimana rasanya terbius karena sihir yang bernama mimpi.
Sedikit lagi. Sedikit lagi.
Akhirnya!
Bunga sakura!
Pilihanku tidak salah. Taman Ueno di samping stasiun pusat Tokyo ini memang tempat terindah untuk pemandangan hanami-nya!
Aku menata letak tripod kameraku, menyetelnya ke moda self-timer, dan bergegas menuju ke depan kamera.
Satu, dua, tiga!
Pandanganku sempat buram karena flash yang terpancar.
Setelah mengerjapkan mataku sejenak, aku mendapati hujan kelopak bunga sakura pada poster di langit-langit kamarku.
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Hanami adalah budaya orang Jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura, biasanya dilakukan dengan melakukan piknik di bawah deretan pohon sakura.
- Artikel mengenai kegiatan hanami di Taman Ueno, Tokyo bisa diakses di Japan Guide.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Sihir.
Sabtu, 09 November 2013
Backstage Dilemma
![]() |
| Taken from here. |
Gugup itu lumrah.
Setiap penampilan di depan banyak orang tidak akan pernah mudah.
Sejumlah pasang mata yang terpaku padamu.
Bibir yang siap berucap menghujatmu ketika kau melakukan kesalahan.
Penghasil cahaya mengejutkan yang membutakan matamu sesaat.
Apalagi ketika tidak ada yang menepuk pundakmu sebelum kau melangkah ke panggung itu.
"Masuklah," ujar petugas itu dingin. Sama dinginnya dengan udara pagi hari yang diiringi hujan.
Bertemankan selimut tipis.
Aku pun melangkah sesuai perintah, menuju singgasana sementaraku di tengah-tengah sana.
Semuanya yang tengah duduk kini menatapku tajam. Kubiarkan mata ini tetap mengarah ke depan. Tak peduli.
Dan perintah penampilanku pun dikumandangkan.
"Terdakwa dipersilakan berdiri."
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata dengan tema #Panggung
Jumat, 08 November 2013
Perenggut Langkah
![]() |
| Taken from here. |
"Sudahlah. Semua sudah terjadi."
Aku masih menatap jendela yang terbuka itu benci.
Padahal sahabatku masih punya mimpi: menjadi ksatria tangguh pelindung tertinggi.
Kenapa dia harus mengalami nasib seperti ini?
Kini kami undur diri. Korban meningkat dalam jumlah besar karena terperangkap zona nyaman kami sendiri: ketidakpedulian pemilik istana lama. Dan akan semakin besar jika kami tidak mengatur strategi.
"Senjata apa itu?"
Aku menggeleng lemah, makin miris setelah mengingat sahabatku yang sudah kehilangan kakinya.
Karena bubuk cokelat pekat itu.
"Ampas kopi ini ampuh sekali untuk mengusir semut, ya?" ujar pemilik istana baru pada seseorang di hadapannya.
A/N:
- 100 kata. Tidak termasuk judul dan catatan kaki.
- Artikel mengenai penggunaan ampas kopi sebagai pengusir semut bisa dilihat di sini.
- Diikutsertakan dalam #FF100Kata, dengan tema: #AmpasKopi
Langganan:
Postingan (Atom)











