![]() |
| Fantasy Love doesn't conquers all, faith does. Penulis: Novellina A. (@novellinaapsari) Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (@Gramedia) ISBN: 9786020303550 Tebal: 312 halaman Terbit: April 2014 Blurp: Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya. Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cina, persahabatan, kesetiaan dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya. |
"Kamu tahu kenapa persahabatan kita sangat berbeda dengan persahabatan orang lain? Karena Tuhan sudah menggariskan jalan hidup kita. Bahwa kita akan menyukai laki-laki yang sama. Laki-laki yang memasukki hidup kita secara bersamaan, dan Tuhan memberi kita hati yang besar, dan sedikit hormon, sehingga kita tidak akan pernah bertengkar memperebutkannya." (hal. 125)
Persahabatan perempuan dan laki-laki sesungguhnya sangat jarang yang pernah benar-benar terjalin seperti judulnya. Senyawa kimia yang tidak pernah bisa dijelaskan yang mengakibatkan sengatan listrik menyenangkan di kedua individu lawan jenis ini pun dirasakan oleh dua perempuan dan satu laki-laki yang menjali persahabatan sejak lama: Davina, Armitha dan Awang.
Davina adalah seorang perempuan yang selalu berpikiran positif dan tidak pernah sekalipun berpikiran negatif pada orang lain. Perempuan keturunan seperempat Belanda ini memiliki tinggi badan yang sedikit lebih menjulang dari teman-teman perempuan di kelasnya dan tidak mau disebut bule dengan perawakannya yang memang bule tersebut. Sedangkan Armitha, adalah sahabat perempuannya yang selalu berpikir untuk melindungi Davina dari orang yang berniat jahat karena sifat positif yang cenderung naif. Penyuka musik tapi tidak berminat untuk mendalami alat musik apapun, sampai akhirnya Awang, pangeran kedua perempuan tersebut, membius Mitha untuk mati-matian mempelajari piano. Alat musik itulah yang kemudian membawa Mitha dan Awang menuju sebuah janji, yang kemudian melibatkan Davina, dan kompleksitas rasa di dalamnya.
"Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta, melainkan keegoisan." (hal. 126)
Davina dihadapkan oleh sesuatu yang meresahkan hatinya: Awang akan pergi, jauh. Ia dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Setelah sebelumnya Vina dihantui rasa bersalah pada Mitha karena ia jatuh cinta pada Awang (yang disambut dengan perasaan yang sama oleh laki-laki itu), kali ini ia digeluti perasaan bersalah yang lain. Ia tidak ingin ditinggal pergi, namun ia tidak ingin menjadikan dirinya beban Awang sehingga laki-laki itu harus menarik mimpinya, hanya karena seorang Davina yang mungkin di masa depan tidak memberikan sesuatu sebanding dengan mimpi Awang yang selalu diidam-idamkannya, yaitu menjadi pianis handal.
Namun dengan berat hati, Davina melepaskannya. Ia mengalahkan keegoisannya sendiri.
Di sisi lain, Armitha juga menaruh perhatiannya pada Awang. Permainan piano yang membius itu berhasil membuatnya tergila-gila pada piano. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah benar-benar terpengaruh pada alat-alat musik meskipun papanya adalah seniman musik besar. Mereka pun menjalani pendidikan bermusik milik pianis Indonesia berbakat, Valenntina. Karena satu sekolah, mereka pun memutuskan untuk tampil secara berpasangan di acara showcase. Dan pada akhirnya, mereka berjanji suatu saat nanti akan saling berkompetisi piano, apapun acaranya.
Awang kemudian pergi dan Vina tidak pernah membalas e-mail-nya barang satu kalipun. Namun hal itu tidak dilakukan Mitha. Dia selalu membalas e-mail Awang yang tengah menjalani kehidupan bermusiknya di luar negeri. Sampai akhirnya hal mengerikan itu terjadi. Tak ada lagi e-mail balasan yang bertengger di kotak masuk Awang.


