Selasa, 12 Agustus 2014

Rak Buku Ramah Lahan Maksimalkan Pengunaan Ruangan


Sumber
Tentu akan sangat sulit bagi para penggemar buku untuk tidak membeli ketika hanya sekadar mampir ke toko buku atau cuci mata di galeri toko buku online. Para penggemar buku akan sangat sulit kehabisan daftar belanja buku karena buku-buku yang diterbitkan di Indonesia sudah menjamur, mulai dari jenis fiksi ataupun non-fiksi, buku how to hingga buku inspirasi, buku best-seller dan buku baru. Dan karena kesulitan untuk menghabiskan daftar belanja buku itulah, seringkali penggemar buku lebih mendahulukan untuk membeli buku-buku yang diinginkan dalam jumlah yang seringkali tidak sedikit. Dan pada umumnya, penggemar buku tidak selalu memiliki cukup banyak waktu untuk menghabiskan daftar bacaannya, yang pada hakikatnya berbanding terbalik dengan jumlah buku yang sudah dibeli. Akibatnya terjadilah penimbunan buku.

Tidak semua penggemar buku bisa memenuhi kebutuhan akan 'rumah' bagi para koleksinya itu. Faktor luas ruangan di tempat tinggal masing-masing sangat berpengaruh pada keputusan akhir para penggemar buku untuk menyediakan rak buku sebagai media penyimpanan yang layak bagi koleksinya. Selain itu, rak buku juga sesungguhnya bukan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi sebagai basic dalam perihal interior rumah bagi sebagian orang.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, berikut bentuk-bentuk rak buku multifungsi yang ramah lahan sehingga dapat memaksimalkan penataan interior rumah:

Minggu, 10 Agustus 2014

Buku-Buku Penulis Indonesia yang Diterbitkan di Luar Negeri

Sebanyak 1.219 penerbit tercatat sebagai anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), dengan total penerbit aktif sebanyak 800 penerbit. Dan dengan jumlah penerbit yang tidak sedikit, IKAPI memperkirakan sekitar 30.000 judul buku yang diterbitkan setiap tahunnya di Indonesia.

Terhitung cukup banyak buku-buku terbitan Indonesia yang telah diekspor ke luar negeri dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dilihat dari persentasenya, angka ekspor buku dari Indonesia ke berbagai negara adalah sebesar 19% per tahun sepanjang 2007-2012.  Buku-buku berikut adalah sebagian yang telah diterbitkan di luar negeri dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa:

Kenapa Me-Review?

Sumber.
This post is posted based on my personal thought. Setelah sadar bahwa blog yang sebenarnya bertujuan untuk kepenulisan, malah lebih banyak review post-nya daripada posting cerpen, flashfiction dan produk kepenulisan lainnya, aku merasa perlu semacam presscon *halah*. Berhubung hanya lewat postingan ini saja dan penghuni blog masih sedikit, maka marilah mengalihkan presscon itu jadi personal share.

How's the start?
Seorang teman di komunitas kepenulisan di Palembang menyarankan teman-temannya (termasuk aku) untuk mulai mengisi blog, karena dianya itu juga merupakan blogger aktif. Sebenarnya hampir semua dari anggota komunitas itu punya blog. Blog yang awalnya dibangun, didesain, dihias dengan semangat menggebu-gebu, yang kemudian mulai ditinggalkan setelah first post. Sebagian besar yang punya blog kemudian mengeluh "nggak tahu mau post apa" atau "mau buat cerpen, tapi masih stuck" atau "malu mau nge-post, tulisan aku gaje". Ya, apapun jenis alasannya yang bermuara pada "harus nge-post apa?".

Jadilah temanku tadi bilang "Kenapa nggak mulai review buku aja?".

Ya, sebagai salah satu anggota komunitas kepenulisan, tentunya kami gemar membaca novel. Karena membaca adalah awal dari menulis. Dan di pendengaranku, ide yang dicetuskannya semacam ide cemerlang yang kalau di kartun-kartun, bisa mengeluarkan lampu. Lumayan buat ganti lampu kamar mandi *eh*. 

Dan jadilah! Posting review pertamaku per tanggal 20 Oktober 2013!

Content: Basic Information, Analysis and Personal Thought
Dan jadilah aku memulai kembali aktivitas ngeblog dengan posting review terhadap buku-buku yang sudah kubaca. Setelah mempelajari beberapa blog yang menuliskan review buku, informasi-informasi yang biasanya dituliskan di review, antara lain:

Gambar sampul:
Judul:
Penulis:
Penerbit:
ISBN:
Tebal:
Editor:
Desain Sampul:
Layouter:
Tahun Terbit:
Cetakan Ke-:
Blurp:

Ringkasan Cerita

Penilaian dari segi pembaca

Penutup

Biasanya, aku hanya menyertakan gambar, serta informasi mulai dari judul, penulis, penerbit, ISBN, tebal, tahun terbit, cetakan ke- dan blurp sebagai caption gambar sampul buku yang di-review. Semakin lengkap informasinya, semakin baik. Informasi-informasi mengenai anatomi buku ini biasanya dapat ditemui di dua atau tiga halaman awal buku. Sedangkan untuk blurp, aku menuliskan kembali apa yang ada di back cover.

Untuk konten review-nya, aku selalu menyertakan kesan pertamaku sebagai pembuka ketika bertemu buku yang di-review, atau kesan awal setelah membaca buku secara keseluruhan. Setelah itu, aku akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam buku, dimulai dengan kata diceritakan, alkisah, atau buku ini menceritakan tentang.... . Aku memaksa diriku untuk mengingat-ingat kronologis para tokoh dan konflik yang membelut mereka dan menceritakannya kembali. Hanya sebagian, tentu saja. Dan aku lebih memilih konflik yang paling menarik sekaligus membuat penasaran untuk diceritakan kembali. Review memang menceritakan kembali. Tapi bukan untuk mengumbar keseluruhan cerita yang berujung pada spoiler

Kamis, 07 Agustus 2014

#LetterstoAubrey from Kak Putri - Take Your Time


Dear Ubii,

Salam kenal, Ubii. Sebelumnya, Kak Putri mau ngucapin selamat ulang tahun yang ke-2, ya. Semoga senyum Ubii bisa terus menyinari mommy dan daddy-nya, plus para kakak, para tante dan para orang tua lain di luar sana yang setia memantau perkembangan Ubii dari jauh.

Dear Ubii,

Kakak sangat percaya kalau manusia sudah punya waktunya sendiri-sendiri. Dan setiap pergerakan yang kita lakukan sesungguhnya sudah digariskan sama Tuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Jarum detik akan terus berjalan, menggerakkan jarum menit, lalu keduanya akan mendorong jarum jam. Lalu jam berubah menjadi hari, bulan, kemudian tahun. Dan aktivitas yang kita sehari-hari lakukan sudah ditentukan oleh Tuhan per detiknya, per menitnya, per jamnya. Pasang surut Mami dan Papi Ubii pun begitu. Beruntung kamu, Bii. Mami Papi kamu begitu sayang padamu. Ada begitu banyak orang di luar sana yang sudah jatuh karena sudah terlalu larut dalam surut. Beruntungnya kamu, Bii. Mami Papi kamu itu true heroes.

Dear Ubii,

Dalam kehidupan Kakak, Kakak punya waktu sendiri untuk berkembang: kapan Kakak harus mulai bicara, duduk, berdiri, lalu jatuh, kapan harus mulai menangis lalu mengembangkan senyum, kapan harus merasa seperti anak kecil sampai kapan harus menanggapi sesuatunya dengan dewasa. Ubii pun begitu. Ubii menangis, tapi ada saatnya ketika Ubii memahami Mami Grace lebih dari apapun sehingga Ubii tidak rewel sama sekali. Ubii tahu saatnya bermanja, lalu Ubii pun tahu kapan harus berhenti dan mulai berjuang tanpa kenal lelah. Mungkin Ubii memang berkembang tahap demi tahap, tapi di balik itu pula ada makna besar yang secara tidak langsung mengajarkan betapa bahagia itu sederhana.

Sabtu, 12 Juli 2014

Review: Seribu Kerinduan by Herlina P. Dewi

Seribu KerinduanDi sini aku duduk dan menunggu...

Penulis: Herlina P. Dewi (@HerlinaPDewi)
Penerbit: Stiletto Book (@Stiletto_Book)
Editor: Paul Agus Hariyanto
Proof Reader: Tikah Kumala
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
Cetakan I, November 2013
ISBN: 978-602-7572-19-5
Tebal: 241 halaman
Blurp:
"Sudah, jangan lagi kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memulihkan jalan untukku. Menjadi pelacur."
Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan dan disanjung.
Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?
A very nice debut untuk ukuran buku perdana Mbak Herlina P. Dewi. Menceritakan tentang seorang fashion editor majalah A La Mode yang sedang berada pada masa kejayaan kariernya. Ia mempunyai seorang laki-laki yang sudah 4 tahun dipacarinya, Panji. Kenyamanan selalu mereka berdua apabila tengah bersama. Setelah 4 tahun itulah, akhirnya Panji mengajak Renata untuk bertemu orang tuanya di Jogja. Jantung Renata berdegup kencang hanya dengan membayangkan pertemuan yang akan terjadi.

Manusia boleh berharap, tapi takdir mungkin sudah menggariskan hal lain. Ibu Panji tidak menerima Renata untuk menjadi menantunya. Menurutnya, Panji harus menikah dengan orang yang sepadan dengannya. Yang bibit, bebet, bobotnya jelas. Intinya, tidak untuk Renata.

Panji akhirnya dijodohkan dengan perempuan yang merupakan anak dari rekan bisnis keluarganya.

"Ren, you never really stop loving someone. You just learn to live without him.." (hal. 49)