This post is posted based on my personal thought. Setelah sadar bahwa blog yang sebenarnya bertujuan untuk kepenulisan, malah lebih banyak review post-nya daripada posting cerpen, flashfiction dan produk kepenulisan lainnya, aku merasa perlu semacam presscon *halah*. Berhubung hanya lewat postingan ini saja dan penghuni blog masih sedikit, maka marilah mengalihkan presscon itu jadi personal share.
How's the start?
Seorang teman di komunitas kepenulisan di Palembang menyarankan teman-temannya (termasuk aku) untuk mulai mengisi blog, karena dianya itu juga merupakan blogger aktif. Sebenarnya hampir semua dari anggota komunitas itu punya blog. Blog yang awalnya dibangun, didesain, dihias dengan semangat menggebu-gebu, yang kemudian mulai ditinggalkan setelah first post. Sebagian besar yang punya blog kemudian mengeluh "nggak tahu mau post apa" atau "mau buat cerpen, tapi masih stuck" atau "malu mau nge-post, tulisan aku gaje". Ya, apapun jenis alasannya yang bermuara pada "harus nge-post apa?".
Jadilah temanku tadi bilang "Kenapa nggak mulai review buku aja?".
Ya, sebagai salah satu anggota komunitas kepenulisan, tentunya kami gemar membaca novel. Karena membaca adalah awal dari menulis. Dan di pendengaranku, ide yang dicetuskannya semacam ide cemerlang yang kalau di kartun-kartun, bisa mengeluarkan lampu. Lumayan buat ganti lampu kamar mandi *eh*.
Content: Basic Information, Analysis and Personal Thought
Dan jadilah aku memulai kembali aktivitas ngeblog dengan posting review terhadap buku-buku yang sudah kubaca. Setelah mempelajari beberapa blog yang menuliskan review buku, informasi-informasi yang biasanya dituliskan di review, antara lain:
Gambar sampul:
Judul:
Penulis:
Penerbit:
ISBN:
Tebal:
Editor:
Desain Sampul:
Layouter:
Tahun Terbit:
Cetakan Ke-:
Blurp:
Ringkasan Cerita
Penilaian dari segi pembaca
Penutup
Biasanya, aku hanya menyertakan gambar, serta informasi mulai dari judul, penulis, penerbit, ISBN, tebal, tahun terbit, cetakan ke- dan blurp sebagai caption gambar sampul buku yang di-review. Semakin lengkap informasinya, semakin baik. Informasi-informasi mengenai anatomi buku ini biasanya dapat ditemui di dua atau tiga halaman awal buku. Sedangkan untuk blurp, aku menuliskan kembali apa yang ada di back cover.
Untuk konten review-nya, aku selalu menyertakan kesan pertamaku sebagai pembuka ketika bertemu buku yang di-review, atau kesan awal setelah membaca buku secara keseluruhan. Setelah itu, aku akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam buku, dimulai dengan kata diceritakan, alkisah, atau buku ini menceritakan tentang.... . Aku memaksa diriku untuk mengingat-ingat kronologis para tokoh dan konflik yang membelut mereka dan menceritakannya kembali. Hanya sebagian, tentu saja. Dan aku lebih memilih konflik yang paling menarik sekaligus membuat penasaran untuk diceritakan kembali. Review memang menceritakan kembali. Tapi bukan untuk mengumbar keseluruhan cerita yang berujung pada spoiler.